Tuesday, February 25, 2014

Hak dan Kewajiban

Tolak ukur yang digunakan untuk menunjukkan kalo diri lo adalah orang kaya adalah dengan punya mobil (jalan kemana-mana pake mobil). Pola pikir seperti ini masih berlaku di Indonesia, mayoritas seluruh rakyat Indonesia gue rasa punya pola pikir kayak gini, termasuk gue.

Apakah ada yang salah dengan pola pikir seperti ini? Gue rasa gak ada salahnya sih dengan berpikiran seperti ini. Tapi ada satu hal yang merupakan kesimpulan dari pengamatan gue sehari-hari selama gue berjalan kaki.

Gue bukanlah orang kaya yang punya mobil, untuk kemana-mana biasanya gue mengandalkan angkutan umum yang tersedia. Terkadang gue juga harus berjalan kaki. Alhamdulillah trotoar di beberapa kota besar di Indonesia seperti Bandung dan Jakarta udah mulai bagus. Pejalan kaki jadi lebih nyaman untuk berjalan kaki.

Tapi karena tingkat intelegensi hampir sebagian besar masyarakat Indonesia yang rendah, hak buat pejalan kaki pun diserobot. Contohnya trotoar buat pejalan kaki dijadiin jalan motor kalo lagi macet, kampret banget gak tuh? Itu sih masih wajar, karena gue maklum pengendara motor memang gak pinter-pinter amat (tingkat intelegensinya rendah).

Kedua, ketika gue mau menyebrang melalui zebra cross. Bukankah seharusnya kendaraan bermotor itu melambat? Gue (lagi-lagi) maklum buat supir angkot atau pengendara motor, karena seperti yang gue bilang tadi kalo mereka gak pinter-pinter amat (tingkat intelegensinya rendah).

Tapi sangat disayangkan untuk pemilik mobil pribadi. Ketika gue menyebrang melalui zebra cross, gue selalu miris sama mobil pribadi yang gak tau kalo ketika pejalan kaki  berjalan di atas zebra cross maka dia  mendapatkan prioritas terlebih dahulu. Masih banyak pengendara yang gak ngasih jalan buat pejalan kaki, alhasil mau nyebrang gak di zebra cross ataupun di zebra cross, lo harus nunggu dulu sampe kondisi jalan bener-bener sepi.

Apa yang gue pikirkan tentang pemilik mobil pribadi adalah orang-orang dengan tingkat intelegensi yang lebih tinggi daripada pengendara kendaraan bermotor yang lain (angkot, motor).

Jadi yaa kesimpulan gue adalah pengendara mobil pribadi ini bukannya gak pinter, tapi mereka arogan. Kenapa arogan? karena mereka merasa status sosial mereka lebih tinggi daripada gue yang hanya seorang pejalan kaki ini sehingga mereka merasa harus didahulukan. Sehingga HAK gue untuk menyebrang di zebra cross diambil alih dan KEWAJIBAN mereka untuk memperlambat kendaraannya tidak dilakukan.

Beda banget sama orang-orang kayak di negara maju sana, mereka lebih memilih untuk menggunakan kendaraan umum, dan mereka menghormati hak orang lain. Gak peduli meskipun status sosial lo berbeda. Yaa wajar sih yah Indonesia tuh negara berkembang, makanya gini.

Bagaimanapun juga gue tetep cinta Indonesia kok! :)

P.S: Sekali lagi gue ingetin, gak semua pengendara mobil pribadi kayak gini (mayoritas aja). Jadi ya buat lo semua yang punya mobil pribadi dan gak merasa seperti apa yang gue tulis, yaudah gak usah tersinggung ya.

I'm (already) Home

'Akhirnya gue kembali lagi ke rumah setelah sekian lama.'

Weekend kemarin karena ada keperluan yang sangat genting, gue terpaksa harus dateng ke Planetarium & Observatorium Jakarta. Padahal di kampus ada banyak acara yang harusnya gue datengin. Tapi berhubung udah lama gak kesini dan gue butuh suasana baru juga, akhirnya gue memutuskan untuk cabut ke Jakarta.

Awalnya agak males sih kalo cuma 2 hari bolak-balik Jakarta-Bandung, selain ongkosnya cukup mahal, fisik juga bakalan capek, tau sendiri Jakarta macetnya selalu bikin fisik dan mental capek. Tapi ternyata setelah gue sampe disana, gue diselimuti oleh perasaan yang beda banget. Perasaan yang entahlah.. mungkin seperti rindu akan seseorang yang telah lama gak kita temui.

Disana gue bertemu sama temen gue yang udah bertahun-tahun gak ketemu, mungkin sekitar 3-4 tahun gue ga ketemu sama mereka. Dia adalah temen chatting gue jaman SMA, dulu kita sering chatting setiap malem lewat yahoo messenger. Karena dulu LINE atau Whatsapp belum booming kayak sekarang ini. Pokoknya tiap malem kita gak pernah absen buat chatting.

Kebayangkan gimana rasanya gak ketemu sama temen lo bertahun-tahun trus sekarang bertemu lagi? Perasaan seneng yang campur aduk. Semacam reuni kecil gitu lah.

Akhirnya kita menghabiskan malam minggu bersama. Kita makan malam disebuah restoran di samping Planetarium dan Observatorium Jakarta, bercerita tentang masa lalu, bercerita tentang kehidupan kita yang sekarang dan berdiskusi sekaligus berdebat tentang Astronomi.

Perasaan kayak gini adalah perasaan yang bener-bener gak tergantikan men. Perasaan kangen dan senang berada diantar orang-orang yang bisa bikin lo lupa sama hampir semua masalah lo untuk sejenak. I've never been so alive...

Ketika kita bosan dengan masalah yang sedang kita hadapi, kita gak perlu berusaha keras untuk menyelesaikannya, kadang yang kita butuhkan cuma 'berlari' sebentar ke tempat yang jauh. Karena, yang kita butuhkan cuma tempat baru, suasana baru, dan orang-orang yang baru. 

Friday, February 21, 2014

One Step Closer

Braga, pagi hari dalam perjalanan ke kampus. Gue terlibat percakapan yang sangat menarik sama seorang temen gue.

'Kita udah tua gak sih? Bulan Juli nanti temen satu angkatan kita udah ada yang lulus aja..' kata gue
'Gila ya waktu cepet banget berlalu men, maneh pernah ngebayangin gak sih Tor waktu SMA bakal ngejalanin kehidupan kayak sekarang ini?'
'Ya enggalah, mana gue kepikiran idup gua bakalan kayak sekarang gini...' Suasana di dalam mobil kemudian menjadi hening, sepertinya masing-masing dari kita berdua sedang memikirkan jauh tentang masa depan kita masing-masing.

Sejujurnya gue takut akan masa depan, gue gak bisa membayangkan seperti apa kehidupan yang akan gue jalani nanti di masa depan. Ini (harusnya) merupakan tahun terakhir gue di kampus ini, kata orang sih tahun terakhir itu merupakan tahun tergalaunya seorang mahasiswa, dan gue rasa itu benar.

Sebenarnya hal yang bikin kita takut itu adalah 'ketidaktahuan' akan sesuatu. Contohnya, kenapa kita takut gelap? karena kita gak pernah tahu ada apa dalam kegelapan itu. Lalu ketika ujian, kita gak tau pertanyaan macam apa yang akan keluar di soal ujian nanti, makanya kita takut.

Masa depan itu sifatnya gak pasti, makanya kita takut. Menurut gue ketakutan seseorang itu wajar sih. Asal jangan karena takut kita malah jadi gak ngapa-ngapain, selama kita berusaha untuk membuat masa depan kita jadi lebih baik gue rasa kita gak perlu takut. Karena, barang siapa yang berusaha untuk merubah nasibnya insya Allah selalu ada tangan-Nya yang siap membantu. You'll never know..

Gue melihat jalan Braga yang sedang kita lewati melalui jendela kaca mobil yang hitam. Gue inget banget waktu pertama kali ke Braga, bareng Bunga. Waktu itu gue masih kelas 3 SMA dan tanpa terasa ternyata itu udah hampir 5 tahun yang lalu. Rasanya baru aja kemarin gue foto dengan latar belakang gedung itu, rasanya gue baru aja nonton di dalem mall itu, rasanya baru aja kita berpose hampir di setiap gedung unik di braga.

Gue udah berubah, Braga juga udah banyak mengalami perubahan sejak pertama kali gue kesini, demikian pula dengan kota Bandung.

'Waktu itu emang cepet berlalu yu, liat aja suatu saat kita akan ngobrol dengan topik seperti ini di dalam mobil kayak gini, tapi bedanya kita akan menuju pernikahan salah seorang temen kita...'
'Siapa ya dari kita berempat yang bakal nikah duluan? Masa Bima?' kata Wahyu
'Siapapun yang nikah duluan, pokoknya kita harus ngadain garden party!'




Friday, February 14, 2014

A Look Back

Hellow fellas!

Udah pada liat fitur facebook yang baru belom? iya yang 'A Look Back' itu. Kalo belum coba sih gue saranin mendingan kalian coba sekarang deh. Idenya simple sih, kayak slide show dari foto-foto dan post-post yang udah pernah kita share sejak awal kita gabung ke facebook gitu.

Here's mine, just take a lookA Look Back

If you look closer, disitu ada beberapa foto Bunga. Foto ketika kita masih SMA, foto waktu kita masih belum kenal, waktu pertama pertemuan kita di kampus Ganesha. 

Gue jadi inget sama tweet temen gue beberapa hari yang lalu "Kalo kangen masa lalu mesti ngapain ya?". Menurut gue, ketika kita masih terus melihat ke belakang berarti kita tidak sedang menjalani kehidupan yang indah seperti masa lalu kita dulu. Mungkin juga kita terlalu takut buat melangkahkan kaki kita ke depan, takut nanti yang akan kita hadapi tidak seindah seperti yang pernah kita lewati dulu. Selain itu, a look back menurut gue adalah penyesalan. Penyesalan akan sesuatu yang tidak sempat kita lakukan pada waktu itu. Sesuatu yang mungkin ketika kita lakukan bisa merubah kehidupan kita 180 derajat.

Oh iya, pertanyaan dari tweet temen gue tadi itu belum kejawab loh. Kalo menurut gue nih ya, ketika kita kangen sama masa lalu. Kita gak bisa bertemu dengan orang itu dan ngobrol buat mengobati rasa kangen kita sama masa lalu. Karena (pasti) 'rasanya' udah beda, udah gak seperti dulu lagi. Kalo gak percaya coba aja deh.

Buat kalian yang udah menemukan jawabannya, mungkin bisa share di comment box dibawah ini ya. Siapa tau bermanfaat buat orang lain pada umumnya, dan gue pada khususnya :)