Wednesday, January 4, 2012

Kata Mereka Tentang ITB


Ini artikel pendapat head-hunter tentang lulusan ITB. Saya mahasiswa ITB, dan saya sangat berterima kasih kepada Satrio Madigondo yang telah melakukan kritik terbuka seperti ini. Sebelumnya artikel ini isinya semua langsung saya COPAS dari status facebook teman saya, jadi ini bukan tulisan saya. Menurut saya artikel ini bukan untuk menjatuhkan kita para mahasiswa ITB, tapi justru malah membangun kita. awalnya juga saya sempat panas dengan artikel ini, siapi sih yang mau di kritik pedas macam ini. tapi setelah saya pikir-pikir ada benarnya juga tulisan dari bapak ini. menarik untuk disimak, silahkan dibaca.

"Love your haters, they are your biggest fans. Why? Because they always waste their times just for notice your every wrong move."

"Disclaimer:
Tulisan ini merupakan hasil observasi sebagai Rekruiter selama 4 tahun terakhir. Mohon jangan digeneralisasi. Kalau ada yang tersinggung, mohon maaf ya!



Adalah sebuah rahasia umum di mana terdapat berbagai tipe pekerja berdasarkan tempat belajarnya. Anak UGM dikenal lugu, tidak neko-neko, dan rendah hati. Anak UI dikenal fleksibel dan cepat belajar. Anak ITB dikenal sebagai 'pemikir makro', besar omong, dan kaku luar biasa. Apakah stereotipe ini benar adanya? Saya tidak berani mengamini dengan sepenuh hati karena belum melakukan penelitian secara ilmiah. Dari pengamatan yang saya lakukan selama rentang 4 tahun belakangan (dalam kapasitas sebagai head-hunter, pastinya), beberapa karakteristik dapat saya verifikasi. Anak UGM memang terbukti lugu, tidak ambisius; anak UI dengan fleksibilitasnya, dan anak ITB dengan kekakuan dan kesombongannya. Hal terakhir ini yang ingin saya angkat. Kenapa? Karena karakteristik ini sangat menonjol dan sangat mengganggu proses rekrutmen.



Tidak hanya ITB junior, tapi para senior ITB juga terjangkit virus kaku dan sombong ini. Kekakuan yang mereka tunjukkan dapat saya maklumi karena mereka adalah orang-orang teknik. Secara ilmiah, sudah pernah dibuktikan bahwa ilmu-ilmu eksak, terutama teknik memang membentuk pribadi yang kaku. Selanjutnya, virus sombong. Pernah dengar cerita Narcissus? Saya yakin pernah. Dan inilah penyakit akut yang menjangkiti (hampir) seluruh anak ITB.



Hampir semua anak ITB yang saya temui memiliki gejala self-oriented yang begitu tinggi. Bukan sekali atau dua kali saya menemui anak ITB yang berbicara tentang prestasi dan mimpi mereka. Mimpi atau cita-cita biasanya diskalakan dalam ukuran makro: "Proyek....Nasional," "Se-Indonesia." adalah kata-kata yang sering saya dengar. Diucapkan dengan mimik muka luar biasa yakin dan nada tinggi. Ketika bicara soal jejaring, mereka selalu mau menjadi "yang kenal dengan..." (Biasanya orang-orang terkenal, minimal menteri). Mereka juga bukan anggota tim yang baik karena selalu mau menang sendiri. Hal ini biasanya terjadi dalam lingkungan kerja non-ITB. Yang terakhir, mereka adalah pemuja diri sendiri.


Appraisal bagaimana yang mereka lakukan? Begini kira-kira contohnya:
Jumat lalu saya menemui seorang kandidat, lulusan ITB. Ketika saya tanya soal prestasinya dia berulang kali menekankan hal-hal berikut:
(1) Pencapaian nilai kimia yang sempurna (100) di mana hanya terjadi 5 tahun sekali, orang satu2nya di antara 1,400 mahasiswa lain (diulang 3 kali)
(2) Pemimpin yang sangat baik, excellent! (diulang minimal 3 kali)
(3) Sangat bisa segalanya.
(4) Semua orang kenal saya.
(5) Ada lowongan regional manager Asia tapi tidak diambil dan kalaupun dia yang maju, sekitar 98% kemungkinan dia pasti jadi (diulang 2 kali)



Dan hal-hal tersebut diceritakan berulang-ulang, dengan berulang kali penghentian kalimat pada bagian2 tertentu. Hal ini untuk memberi efek penekanan dan pujian (Serius, dia mengharapkan itu). Perilaku yang ia tunjukkan selama wawancara adalah "You listen to me, and answer my questions. dedicate your time for me. You need me." Ketika saya bertanya apakah dia ada pertanyaan mengenai proses maupun klien saya, dia hanya mengajukan beberapa pertanyaan. Lucunya, ketika saya menutup wawancara dengan dalih ada urusan lain, dia malah bilang "Oh pantesan ibu buru-buru. Jadi kapan saya bisa tanya2 ibu lagi?" (Lhoh??) Setelah itu dia masih berusaha nyerocos menceritakan kehebatannya di konteks pekerjaan.



Baiklah, saya tidak ada masalah dengan kandidat yang menceritakan prestasi kerja. Saya malah senang. Soalnya orang Indonesia cenderung menggunakan "Kami" dan malu-malu jika saya minta cerita soal prestasi kerja. Tapi ketika hal tersebut diceritakan dengan terlalu bersemangat, dengan nada sombong dan penuh keyakinan, hal tersebut jadi memuakkan. Kandidat lain yang juga adalah alumni ITB dengan kepercayaan diri luar biasa menjual gelar S2 yang ia dapatkan di Jerman untuk meminta gaji tinggi. Tidak tanggung-tanggung, cukup EUR 5,000. Iya, EURO, bukan Dollar. Per tahun? Tidak, per bulan. Katanya, standar gaji S2 di Jerman segitu. Oh, Tuan Pintar, sebaiknya kamu ke Jerman aja, jangan di sini.



Teman saya yang lulusan ITB lain lagi, nggak mau kerja. Mau wirausaha. Sayangnya, karena tidak memiliki pengalaman, ia berulang kali gagal. Ia tidak mau belajar dari pengusaha yang sudah maju, memilih produk2 jualan yang kurang komersil, dan tidak memiliki jejaring yang mendukung. Pikirannya sempit, tidak tahu medan yang ia masuki tapi sombongnya luar biasa. Hmmm.Ini adalah hal lain yang masuk virus Narsisus, menghargai diri begitu tinggi sampai tidak memperhatikan standar yang ada. Tidak hanya soal gaji, soal kerjaan pun mereka sangat pemilih. Hanya mau perusahaan A, B, atau C. Kalau tidak, mau kerja sendiri karena mereka terlalu 'bagus', over-standard untuk bekerja dalam sebuah organisasi.


Pertanyaan saya:
Ada apa sebenarnya dengan para alumni ini? Apa sebenarnya yang diajarkan di ITB? Kenapa para lulusannya memiliki kesombongan terprogram - yang secara kolektif terjadi?. Kalau yang saya dengar, ini berasalah dari 'cuci otak' pada masa plonco. Sumber lain mengatakan ini juga berasal dari persaingan internal ITB yang tidak sehat. Semacam seleksi alam, di mana sang pemenang akan menjadi sangat berkuasa. Sifat inipun kemudian terbawa ke kehidupan kerja. Tapi ini baru asumsi dan opini sekelumit orang, saya tidak berani mengatakan hal tersebut memang terbukti.

Jika ada yang membaca ini dan termasuk alumni ITB yang menyangkal, ya nggak papa juga. Kan di awal sudah dikatakan bahwa ini adalah hasil observasi saya selama bekerja sebagai Head Hunter. Saya cuma mau berpesan: Janganlah jadi Narsisus. Kami sudah tahu anda hebat, tetapi tidak perlu membesar-besarkan kehebatan anda. Kami tahu persis anda pintar, dan mungkin terpintar se-Indonesia. biarkan prestasi anda yang bicara. Kalau tidak bisa se-Indonesia, jadi paling pintar se-Bandung saja masih oke kok. Jangan biarkan imej yang melekat di ITB adalah Produser Narsisus. Sudah cukup banyak Narsisus di negeri ini.



Salam,
Satrio Madigondo.-" 

PS : "Kritik akan membuatmu besar kawan, sedangkan pujian yang berlebihan hanya akan membuatmu lupa diri."

265 comments:

1 – 200 of 265   Newer›   Newest»
sman 8 jkt said...

Sama halnya sepeeti Sma 8, byk anak2 disana yg merasa beberapa kali lebih pintar dari anak sma lain, padahal sepenglihatan hanya segeintir anak di sma 8 yg benar2 unggul dibanding sma lain...

Mereka semua merasa bangga kalau bisa bertahan di 8 artinya bisa bertahan di segala tempat.

Sungguh sebuah penyakit mental di setiap institusi pendidikan yg memiliku 'nama'.

Indah Kartika Buana Putri said...

Well, saya mahasiswa itb, dan saya akui memang sangat wajar kalau mahasiswa ITB sombong, karena mayoritas dari mereka selalu unggul di sekolah sejak kecil. Jika mau melihat ke dalam ITB sendiri, ego antar jurusan juga sangat kentara, apalagi dengan adanya sistem TPB untuk masuk ke jurusan. Jurusan dengan passing grade IP tinggi di tiap-tiap fakultas, mahasiswanya sombongnya lebih lagi, karena mereka merasa bisa menjadi yang terbaik dari yang terbaik. Belum selesai persaingan IP di tingkat fakultas, lanjut ke tingkat se-ITB, contoh jurusan Teknik Kimia, dengan IP minimum tpb terendah 3.3, mahasiswa2 jurusan ini merasa paling pintar se-itb, dan terkenal SO.
Tapi, semua kembali ke pribadi masing-masing mahasiswa. Mahasiswa yang benar-benar pintar, tentunya tahu bahwa masih banyak hal yang dia tidak tahu, sehingga semakin lama ia semakin merunduk seperti padi.
Anyway, pujian itu perlu, tapi pujian yang diberikan ITB ke mahasiswanya memang cenderung berlebihan, padahal mahasiswanya belum melakukan apa-apa yang nyata. Akan tetapi, saya bersyukur sekali saya kuliah di ITB, dan bertemu dengan orang-orang pintar dan jenius dengan berbagai sifatnya. Ritmenya sama, cepat nyambung, enak deh, tp ya yang ideal buat anak ITB emg cuma di ITB, di dunia nyata, di luar ITB, mahasiswa ITB harus bisa membuktikan kesongongannya atau justru malah senjata makan tuan.

Je Han said...

"Disclaimer: Tulisan ini merupakan hasil observasi sebagai Rekruiter selama 4 tahun terakhir. Mohon jangan digeneralisasi. Kalau ada yang tersinggung, mohon maaf ya!

1. Observasi di mana mas?
2. "Mohon jangan digeneralisasi".
Tulisan ini justru mengarah pada generalisasi. Case by case kan sampelnya.
3. Kritik boleh, asal membangun dan berimbang (tau aturan main).

There're just untold story behind told sotry.

Anonymous said...

Yang di survey berapa orang?
Anak ITB brp orang?
Klo ada data sih data ini bisa lebih dipercaya!!@
KLo sekarang menurutku,disclaimer ini akan susah ditemukan..
Era berubah.......

mahasiswa ITB ber IP rata-rata said...

betul sekali, saya sebagai mahasiswa ITB mengalami langsung masalah seperti ini.. kalau kita tidak sombong/omong besar, kita langsung dihajar sebagai "cupu", tidak bisa apa-apa, pernah saya melakukan kesalahan dalam tugas, langsung saja hinaan keluar..

Anggapan bahwa semua yang didapat diri adalah yang terbaik sudah melekat erat. kalau ada orang lain yang tidak susah atau bekerja sekeras dirinya akan dibilang "asal-asalan", namun kalau bekerja lebih keras dan lebih lama akan dibilang "payah, lambat, hasilnya belum tentu lebih bagus"

Saya sebagai orang berkarakter plegmatis tidak akan bisa membalas ucapan seperti demikian.. benar saya sedikit prihatin atas sikap seperti ini, dan saya harap saya tidak seperti itu.

Terima kasih tulisannya, sangat menarik!

Anonymous said...

Kurang ah artikel dan penjelasan mengenai observasinya. Sayang banget, kurang ngena karena pandangannya terkesan sekali sempit

Anonymous said...

menurut saya, merupakan hal yang wajar bila seseorang sangat bangga bila telah lulus sebagai alumni itb, karena untuk survive disini tidaklah mudah.. banyak orang bilang, masuk itb itu susah, tapi lebih susah lagi keluarnya. semua alumni itb tau perasaan itu. boro-boro lulus, tiap semester cari IP 3.20 aja harus susah payah.
maka sangatlah wajar pula bila kebanggaan sebagai alumni itb itu dibawa ke meja wawancara perekrutan kerja, dimana kita secara bebas bisa ekspresi diri kita sendiri.

terserah orang mau berkata apa ttg saya dan alumni itb lainnya, kita semua masuk, survive, dan keluar dari itb dengan keringat, kerja keras dan penuh kesusahan. saya bangga, bangga, bangga, dan bangga bisa kuliah dan akhirnya menjadi alumni itb dan bukan di tempat lain. period.

lamdamatra arliyando said...

Menurutku kalau wawancara memang harus menonjol kelebihan yang dipunyai atau prestasi, tapi cara penyampaiannya itu ya sewajarnya sajalah. Harus tetap rendah hati dan tidak sombong.

Kalau berwiraswasta (kerennya entrepreneur/technopreneur) ya harus mau belajar dan open-minded kepada lingkungan sekitar.

Lulusan ITB harus berani bermimpi untuk hal yang besar. Jutaan rakyaaat menanti tanganmu~

^_^

Anonymous said...

Saya baru saja lulus dr ITB bulan Oktober kemarin, orangtua saya ITB dan buyut saya salah satu pendiri ITB. Menurut saya, anak ITB memang yang paling sering dijadikan bahan kritik, klo mau fair masnya harus masukin beberapa almamater dong, setau saya hampir semua top rank university di Indonesia anak anaknya pasti bangga dan karna itu sedikit banyak jadi congkak, bagaimana tidak? bersaing memperebutkan tempat disana.

Btw, jangan pernah merasa lebih baik drpd orang lain kalau tidak pernah merasakan hal yang sama. Jangan asal menilai anak ITB klo tidak tau keadaan didalamnya. Jangan asal blg ini itu gampang buat anak UI, klo ga pernah kuliah disana. Jangan blg anak UGM gimana gimana klo belom pernah sekolah disana. Gitu aja sih pesannya.

Anonymous said...

saya pikir solusinya simple.. jangan terima alumni ITB, even untuk interview :)
Biarkan alumni2 ITB itu mencari pekerjaan lain di luar rekruiter anda, hehehe

Saya alumni ITB, soal perploncoan, tidak ada plonco2 yang menghasilkan pribadi kaku dan sombong itu, kaderisasi yang dilakukan secara umum lebih ke pengabdian ke masyarakat (iya se-Indonesia, demi rakyat dsb, memangnya salah ya punya mimpi seperti itu??)

@mahasiswa ITB ber IP rata-rata: nasib saya di akademik mungkin lebih jelek dr anda, tp alhamdulillah ga ada tu hinaan, celaan dr rekan ataupun dr dosen :D Selama 7 tahun di ITB yang saya terima malah bantuan dan support untuk memahami materi dari teman seangkatan ataupun rekan lain.

Anonymous said...

Wah, orang-orang ITB dibanding2kan dengan orang-orang universitas lain. Yang diambil case yang jelek pula. Pengalaman di ITB tentang persahabatan dan kehidupan seperti yang saya alami kayaknya tidak disinggung sama sekali.

Mungkin sekarang banyak orang yang bilang, wah orang-orang ITB narsis dll dsb. Karena kebetulan sifat manusia itu memang begitu, yang jelek yang diingat. Tapi saya yakin, orang narsis itu bukan cuma di ITB, dan justru orang-orang narsis inilah nantinya yang akan membuat nama Indonesia survive di mata International.

Pengalaman saya di negeri orang ini membuktikan, kalau kita malu2, nggak akan ada yang maju mempromosikan Indonesia. Nggak ada yang narsisin Indonesia? Sapa yang bakal kenal? Kalau saya nggak narsis di sini, orang2 di sini bakal selamanya nyangka bahwa saya berasal dari negeri seberang (*if you know what I mean).

Dan mungkin setelah Indonesia terkenal karena orang-orang multi-perguruan tinggi narsis ini menarsiskan diri di luar, akan ada seseorang dari negeri yang lain yang menulis di blog-nya: "Hei orang Indonesia, jangan narsis dong!" :D

Saran saya, biarin aja anak ITB narsis. Karena kalau 90% orang Indonesia itu malu-malu, perlu ada 10% populasi yang narsis. Demi keseimbangan alam, demi kebaikan bangsa, kkkkk :D

*a female engineer*

nyu said...

kaumku mahasiswa...dimana kini kau berada?
berjuta rakyat menanti tanganmu, mereka lapar dan bau keringat.
kusampaikan salam salam perjuangan, kita semua cinta cinta indonesia...


eaaaaa,,,, suruh sapa rekrut anak itebeh.
bwahahahaha....
lagian kalo anak itebeh itu sebagian besar idealismenya tinggi.
gak mau korup lah gak mau disuruh kerja kotor lah gak mau diajak KKN lah.
begitu masuk dunia kerja ternyata didapatkan kenyataan bahwa dunia kerja begitu nista apalagi yang plat merah.

ya kalo mau rekrut pegawai yang nurut disuruh kerja aneh2, mending jangan rekrut anak itebeh dah. 80% anak itebeh pasti langsung hengkang dari perusahaan yang gak sesuai dengan idealismenya, hanya anak itebeh yang lebih cinta uang daripada idealisme yang akan tetep bertahan.

eaaaa curcol mode on

alfianabdi said...

http://img19.imageshack.us/img19/9667/download2pq.gif

sebelumnya coba lihat gambar diatas :
tergantung bagaimana kita melihatnya,kita bisa melihat 3 gambar yang berbeda :
1. bola hijau diantara bola pink 2. hanya ada bola pink 3. hanya ada bola hijau

begitu juga kasus diatas .. kita bisa menilai anak itb sombong,anak ui fleksibel anak ugm lugu .. atau malah sebaliknya .. tapi satu poin penting yang tidak boleh dilupakan yaitu bagaimana kita memandangnya ..

karena mata itu tidak memandang apa adanya tapi bagaimana kita melihatnya

loreng said...

ah cerewet dah jadi rekruter.

kalo ndak sukak ma anak itebeh, yaudah gak usah buka lowongan buwat anak itebeh.

biarin anak itebeh masuk ke perusahaan laen selaen perusahaan anda.

gitu aja kok repot.

Yoko said...

Satrio Madigondo itu anak mana sih?

Anonymous said...

tidak semuanya salah, tidak semuanya benar juga :)

yah sebagai alumnus jg, makasih atas kritiknya. sekalipun disini mungkin banyak yang menolak, mungkin banyak juga yang sebenarnya dalam hati menerima kenyataan memang banyak alumni ITB yg sombong :) dan di atas ada komen yang menyatakan sangat layak untuk sombong.

tahap pertama dari penerimaan ya pasti penolakan dulu toh ? kepintaran, achievement, dan apapun ga ada yang membuat kita jadi merasa layak untuk sombong. layak untuk bangga mungkin lebih baik :)

memang benar dari setiap mata pasti akan ada perbedaan atas apa yang dilihat, tapi saya rasa kedewasaan adalah ketika kita mau mencoba untuk melihat dari sisi lain, dan tidak berkeras pada cara pandang kita saja.

semakin kita menyombong disini dan semakin menolak, maka makin terbuktilah bahwa memang benar pernyataan tersebut, yang mana pasti kita ga ada yang mau dicap jd sombong bukan ? kecuali memang itu yang dimaui :)

yah mari kita ambil sisi baiknya, klu kita ga merasa seperti yg dikatakan di tulisan ya bagus, kalau kita merasa sebagai si sombong dan kaku, yah mari sediki berbenah.

WASSALAM !!!


(kangen jalan kaki di dinginnya jalan ganeca pulang menubes hahaha :) )

ahe ahe said...

curiga si rekruter ini dulunya gak lulus ujian masuk itebeh yak?

atau anaknya gak lulus masuk itebeh walopun dah jalur undangan. bwahahahaha....

ini sih subjektip banget tulisannya cuy.
coba disebutin berapa anak itebeh yang anda sampling? sungguh hanya menggeneralisasi sahaja ini ja,,,ditambah lagi emang anda dah sentimen dari awal sama itebeh.

am i right?

Firman Kasim said...

Kok yang komen di sini kebanyakan seperti anak ITB yang ga mau menerima kritikan sih?
Banyak yang nyalahin rekruternya.
Ini adalah pandangan orang luar terhadap anak ITB yang mungkin kita (anak ITB) sendiri ga sadar akan hal di atas. Hal yang lebih bijaksana menurut saya adalah sebaiknya kita lihat diri kita sendiri mengenai hal di atas secara objektif, apakah itu benar atau tidak. Kalau benar, ya diubah. Kalau tidak, alhamdulillah.
*anak ITB angk 2009*

Anonymous said...

saya alumni itb, saya rasa ada benarnya,

kalo memang anak itb yang paling baik, pasti sering traktir2 temen temen.

kenyataannya tidak begitu.

Anonymous said...

menarik sekali tulisannya
saya mahasiswa itb dan saya akui dan rasakan bahwa lingkungan dan sistem itb memang membuat mahasiswanya menjadi agak sombong dan arogan. tapi kami tidak diajarkan untuk memandang rendah orang lain, tapi ajarannya adalah bahwa kami punya tanggung jawab/potensi besar.
yeah mungkin kacamata-kuda .
saya tidak tahu kampus lain bagaimana tapi selama kehidupan saya. saya masih merasa bahwa lingkungan itb yang paling saya rasakan pengaruh dan manfaatnya dalam pembelajaran hidup saya
#masukitbsusahkeluarjugasusah

Anonymous said...

Cerita yang menarik mas, menimbulkan pro dan kontra yang cukup kuat sepertinya. Kalau mau ini tidak dijadikan perdebatan, cukup saya bilang kembali ke diri masing-masing, selesai sudah.

Teman saya banyak lulusan ITB, cap "sombong" itu tidak terlihat di pribadi mereka, justru mereka lebih terkesan biasa aja. Mungkin karena saya sudah lama kenal aja, jadi terkesan biasa. Kalo kita ngeliat dari sisi survival mereka, memang mereka pantas untuk membanggakan diri. Akan tetapi, segala yang terlalu itu tidak baik.

Memang lebih baik kalau cerita ini ditambahkan penjelasan tentang almamater lain, bukan hanya ITB untuk memperkuat. Kalau masalah observasi saya percaya seratus persen dengan Anda, terlihat dari tulisan Anda yang tidak ofensif. Lagipula, kalau memang Anda head-hunter pasti tidak jauh-jauh mengetahui tentang pribadi seseorang dari ilmu psikologi, benar begitu? jadi saya percaya aja.

Nah, yang saya kritik tentang cara penyampaian aja kayaknya. Ada benarnya juga tuh komen2 di atas yang bilang kalau data dan fakta harus disampaikan. Tapi sisanya, untuk sebuah curhatan, cerita ini sangat menarik.

Salam

Anonymous said...

Ya harus nerima dong kritikan :) Memang harus diakui banyak lulusan ITB yang keminter (dan kurang bisa bergaul?). Ada banyak hal memang yang harus diperbaiki di ITB, terutama sisi soft skill-nya.

Anonymous said...

memang saya yang anak itb sendiri sebelumnya pada saat menginterview adik2 lulusan itb, terkesan extra PD.Tapi saya justru berharap anak2 ITB dan kampus2 lainnya ke depannya lebih ke enterpreneurship daripada menjadi pegawai lagi.

Anonymous said...

sebelum baca komentar2 disini saya masih blm percaya lulusan ITB sombong, dll.
tp setelah baca semua komentar2nya, saya jadi meng-amini tulisan diatas - walopun bisa jadi riset itu tidak valid.

gudlak semuanya.. sombong boleh rajin asal ibadah juga rajin. :)

Anonymous said...

Tulisan yg menarik, alangkah baiknya jika disampaikan juga dengan data terukur. Akuntabilitas sebuah tulisan sangat bergantung pada data2 terukur yg menyertainya.

Kami sebagai anak teknik (bukan hanya ITB saya kira) selalu ditekankan untuk "speak by data". Sampaikan datanya berapa % alumni sombong yg anda temui. Misalnya selama 4 thn ini saya bertemu 46 dari 72 alumni yg sombong. Dianggap sombong karena kriteria a,b,c,d.

Data terukur penting agar pengamatan anda dapat ditindaklanjuti. Kalau ga ada datanya, gimana mau analisa lanjutan? Sayang kan waktu/tenaga/pikiran anda terbuang percuma karena tulisan anda tidak dapat ditindaklanjuti.

Next time, speak by data please :)

Gojay said...

Abis baca tulisan curhat ini, gw jadi makin pengen kuliahin anak gw di ITB..
Anak gw harus masuk ITB.. Harusss...!!!

Anonymous said...

Hehehhehehe iya Bang...lo agak sempit pemikirannya kalo menurut gw,... Karena "kebanggaan" dan "kesombongan" itu beda2 tipis...gw lulusan UGM 2000, dan betapa pede nya gw kalo ada yg tanya gw lulusan mane?? Tapi sohib2 gw SMA yg lulusan ITB kagak ada yg sombong tuh?? Malah mereka lebih rendah hati...dan gw lebih2 norak...pede abiisss...UGM hahahahahaha..emang harus berimbang...gak bisa membentuk Opini masayarakat begini... Getohh..

Anonymous said...

wah,menarik.saya mahasiswa ITB yang lulus tahun lalu.saya tidak bilang 100% mahasiswa ITB narsis,tapi artikel ini ada benarnya.sedikit contoh pengalaman saya (ini subjektivitas saya aja):
- pernah beberapa kali saat sedang bersama banyak mahasiswa2 dari kampus lain,saya dan teman2 cenderung kurang akrab dengan mahasiswa dari kampus yg lainnya.sebenarnya kita ingin bisa akrab;tapi kadang mahasiswa kampus lainlah yang men-spesial-kan kita sehingga kita jadi "kagok".
- ada sobat saya,dia bukan ITB tapi kehebatannya bisa ditandingin lah sama mahasiswa ITB,bilang beberapa temen2nya jadi "sok2an" dan "ngga asik" setelah jadi mahasiswa ITB.dia cerita beberapa contoh -cukup panjang kalo ditulis- tapi intinya menurut pandangan dia banyak temennya yang berubah idealisme menjadi lebih mahasiswa dengan seketika namun jadi terkesan jaim dan "sok2an".

jadi..buat saya pribadi artikel ini "ada" benarnya.ngga semua mahasiswa ITB seperti itu tapi beberapa yang seperti itulah yang membuat generalisasi berlebihan bahwa ITB narsis.yah ini salahsatu kekurangan yang harus diperbaiki kalo memang benar seperti itu;di samping itu masih banyak kok kelebihan-kelebihan ITB :) Kalimat tadi narsis ngga ya?haha.

Anonymous said...

ITB emang Institut Teknik terbaik di Indonesia. Jadi mungkin wajar kalau mereka sombong. Yang gue suka kesel, mereka suka underestimate tempat belajar lain. Come on, lo juga pada gak pernah ngerasain kuliah di tmpt lain, jd jgn songongnya blg ITB plg susah. Belajar teknik sm belajar hukum atau akuntansi atau kedokteran beda2 bung... Ya blhlah mereka menyombongkan diri sebagai anak teknik, tp bandingin sm fakultas lain? Pikir2 dulu lah.

kentang said...

saya mahasiswa itb tahun ke-3. dari pengalaman saya di itb, saya banyak melihat mahasiswa mahasiswa yang sangat idealis. apalagi di itb juga dituntut untuk masuk himpunan jurusan.

himpunan himpunan di itb memang memiliki ciri khasnya masing-masing, akan tetapi arogansi tiap himpunan masih sangat kental di itb.

hal ini menunjukkan apa? ini menunjukkan bahwa memang banyak mahasiswa itb yang idealis dan mempunyai arogansi yang tinggi. penulis tidak salah menulis yang diatas, saya sebagai mahasiswa itb akan menerima kritikan ini dengan hati terbuka.

Leon said...

Saya coba bantu jawab:
Ada apa sebenarnya dengan para alumni ini?
hal yang sama yang terjadi di alumni-alumni pada umumnya... given the same condition...

Apa sebenarnya yang diajarkan di ITB?
Masuk dong ke ITB.. observasi sistem pendidikannya.. kalau anda tidak tau, mau komentar bagaimana?

Kenapa para lulusannya memiliki kesombongan terprogram - yang secara kolektif terjadi?.
Mari kita lakukan interview yang sama dengan semua presiden, CEO dan/atau leader2 lainnya.. nanti kita bandingkan hasilnya..

Kalau yang saya dengar, ini berasalah dari 'cuci otak' pada masa plonco. Sumber lain mengatakan ini juga berasal dari persaingan internal ITB yang tidak sehat. Semacam seleksi alam, di mana sang pemenang akan menjadi sangat berkuasa. Sifat inipun kemudian terbawa ke kehidupan kerja. Tapi ini baru asumsi dan opini sekelumit orang, saya tidak berani mengatakan hal tersebut memang terbukti.
--> my point exactly.. lalu tulisan ini arti dan tujuannya apa? curhat?

Coba saya yang bertanya:
Pertanyaan saya:
Ada apa sebenarnya dengan para head-hunter ini? Apa sebenarnya yang diajarkan di profesinya? Kenapa para head-hunter memiliki kesombongan terprogram - yang secara kolektif terjadi? yaitu merasa bisa menilai orang dari 1-2 kali interview, tidak mau mendengar, diberikan pertanyaan seringkali dijawab dengan tidak jelas, memiliki kekakuan pandangan bahwa yang lolos short list hanya kandidat dengan IPK sekian. Darimana anda yakin bahwa IPK adalah kunci sukses? apakah mungkin yang ber-IPK rendah itu memiliki bakat yang justru anda butuhkan? Kalau yang saya dengar, ini berasal dari 'cuci otak' media massa. Sumber lain mengatakan ini juga berasal dari sistem akademis yang kaku. Semacam seleksi alam, di mana sang pemilik IPK besar akan menjadi sangat berkuasa. Sifat inipun kemudian terbawa ke proses perekrutan. Tapi ini baru asumsi dan opini sekelumit orang, saya tidak berani mengatakan hal tersebut memang terbukti. Mari kita cari pendapat orang yang lebih berpengalaman daripada anda.

Anonymous said...

mungkin pak satrio cuma ingin mengkritik masalah nsrsisme yang berlebihan, namun cara penyampaian beliau juga berlebihan ..

terimakasih, saya mahasiswa itb juga..hhe

Anonymous said...

Dan anak2 ITB itu pasti pada panas baca artikel ini...
Hidup UI!!

Cahyo Sukaryo said...

Kenapa yg bereaksi defensif, nggak mau dikritik, atau bahkan menyerang penulisnya; orangnya sama semua ya? Si "anonim" :) Jujurlah kawan, dan berikan argumentasi yg membuktikan kecerdasan mu! :)

1540505(sekian) said...

kalau yang di recruit calon "babu" memang saya amatsangatplus-plusoyeah setuju dengan tulisan ini bahwa yang anda butuhkan adalah orang yang rendah hati dan tidak sombong, hanya saja kalau mau nyari "majikan", carinya yang keras atuh...wkwkw. ya ga tu temen2 calon majikan GANESHA 10?? wkwkwk

Rizky Syaiful said...

Buat yang kesel setelah baca tulisan ini. Bolehlah dicoba untuk buang semua 'label'2 yang ada di tulisan ini. ITB-nya, UI-nya, UGM-nya, bahkan INDONESIA-nya...

Lalu coba serap pelajaran apa yang bisa diambil dari tulisan ini.

Terima Kasih.

~ Dari mahasiswa salah satu dari ketiga kampus di atas. <- Tidak penting kampus yang mana.

Anonymous said...

Tulisan yang bagus. Saya senang dengan adanya observasi dan kritik terbuka seperti ini. Dan ada baiknya apabila bila disikapi secara positif dan terbuka juga.

Inilah bagaimana noda "sebagian civitas" di ITB yang mengotori pandangan prestisius ITB itu sendiri.

Harap jadi masukan baik untuk rekan-rekan mahasiswa.

PS: Kuliah di mana-mana susah kok, ga cuma di ITB aja rekan-rekan. Semua lulus dari hasil keringat & jerih payah ;)

Anonymous said...

gk ada fakta, biarpun dbilang tidak men-generalisir, tp dr cerita semuanya yg dsampaikan kelihatan menyamaratakan.

Anonymous said...

kalo kamu masuk itb, pasti kamu juga jadi narsis kok :ppppp
pernah baca buku To Kill A Mockingbird (penulis Herper Lee)? salah satu pesan moral yang disampaikan dalam buku ini:
You never really understand a person until you consider things from his point of view... Until you climb inside of his skin and walk around in it.

saya sudah hampir 4 tahun di ITB dan ga pernah tuh liat ada mahasiswa ITB yang luar biasa sombong seperti yang anda sampaikan, padahal prestasinya segudang, bukan hanya omong doang, tapi pengabdian masyarakat yang luar biasa hebat.
mungkin mereka cuma membanggakan diri yang kemudian diterjemahkan sebagai sombong dalam perspektif anda :D

tapi kritiknya bagus, biar anak itb bisa aware menjaga sikap di luar sana.

Anonymous said...

Dari judul blognya aja uda 'Home-made Story', kalo emg sungguhan dan ga dikarang pasti rada niat juga bikin judul blognya 'Genuine Story' kek, 'Factual Story' kek. Saya pikir kenapa ga sekalian aja daripada 'Home-made Story' lebih relefan lagi 'Fictitious Story' ato 'Fairy Tale'. Daripada mengkritik dan menyinggung banyak orang (bahkan secara general: Seluruh alumni beserta mahasiswa ITB) mendingan disimpan dan digunakan untuk kepentingan sendiri, dengan cara kritik anda seperti ini, rasanya tidak jauh beda dengan sekenario-sekenario yg biasa dimiliki stand-up comedian.

Betul sekali: "Kritik akan membuatmu besar kawan, sedangkan pujian yang berlebihan hanya akan membuatmu lupa diri." tapi anda atau anak TK atau SD juga ga bakalan mau dikritik dan digeneralisir tanpa sebab yg jelas dan tanpa fakta yg cukup.

Yg anda bahas isinya tentang kesombongan anak ITB, jaringan/relasi yg anak ITB miliki, dan kemampuan mereka untuk menentukan nasibnya sendiri.

Apakah anda iri? Apakah anda tidak punya kawan2 yg loyal satu-sama lain seperti anak ITB? Apakah anda tidak bisa memilih dan menentukan nasib anda sendiri seperti anak ITB?

Kalau anda menjawab 'tidak', saya melihat mungkin motif lain dari semua kritik generalisir ini ada kemungkinan antara karena:
1. Anda punya masalah personal dengan salahsatu alumni/mahasiswa ITB, katakanlah pacar anda meninggalkan anda gara2 doi lebih memilih cowok anak ITB yg memang lebih bijaksana dan lebih pintar dari anda.
2. Anda ingin terkenal, tapi anda sudah lebih dulu dikalahkan sama teman2 ITB anda, jadi anda memutuskan untuk mengarang sebuah cerita dengan fakta2 yg isinya menurut saya masih subjektif (tergantung apa anda punya masalah dengan anak ITB ato engga)

Saran saya, cobalah untuk lebih bijaksana: diam, resapi, dan terapkan untuk diri anda sendiri. Nanti suatu saat anda hebat, ajak2 lah orang, bukan ngritik..

kalem said...

Wah segitu ganasnya di ITB bagian lain. SR gak gitu-gitu amat.


Eh iya SR kan bukan ITB.

anak ITB bukan teknik said...

Yaelah coy, dikritik kok reaksinya gitu? Lucunya reaksi di sini malah membenarkan kritik di atas. Kaku banget, minta statistik, survey, dll. Udah santer banget kali berita soal tingkah negatif anak ITB. Kenapa nggak bisa diambil positifnya dengan nggak arogan lebay lagi?

Malah cari pembenaran, wajar sombong karena lingkungan. Apaan tuh? Nggak usah interview anak ITB kalo ga suka? The hell. Konyol deh. Ada kritik keras gini buat introspeksi lah, sekali-kali buka hati & otak buat nyaring dan nerima.

Ignatius Sapto Condro Atmawan Bisawarna said...

Tulisan menarik.
Kayanya lulusan ITB yang kaga narsis lanjut kuliah di luar negeri dan bekerja di sana. Sedangkan yang narsis yang tersisa buat head hunter yang nulis blog ini, hehehe.

Anza said...

Kok pas ketemu alumni kerja di perusahaan top karirnya bagus2. Mungkin perusahaan asing butuh typical orang seperti itu. Kalo mau dibandingkan orang india, singapore, china rata2 ya gitu. Mungkin kalo mind setnya orang rendahan hasilnya rendah.

Tori said...

Maaf ya kakak-kakak, teman-teman, serta alumni ITB semuanya. disini saya cuma bertindak seperti moderator yang hanya menjembatani, saya cuma ingin menyampaikan informasi yang mungkin kalian semua blum tahu. syukur-syukur bisa introspeksi.

Sekali lagi ini bukan tulisan saya, ini murni tulisan si Bapak Satrio itu. saya cuma copas dari website sebelah. mohon kalo ada kata-kata yang berkenan dihati jangan di luapkan ke penulis blog ini.. :)

Anonymous said...

Hahaha bener kan arogan. Bisa meluangkan waktu buat ceramah tapi gak bisa ngebaca dengan baik, bahwa ini bukan tulisan yang punya blog.


Bravo ;)

Anonymous said...

HIDUP ITB!! WUHUUU!!!! ( makin bangga jadi alumni ITB)

Anonymous said...

HIDUP SR 2002 AROGAN !!!

Anonymous said...

kritik yang bagus, cuman kalau kata gw pribadi sih, baiknya dia tidak menceritakannya seolah-olah hampir seluruh anak ITB seperti itu, kurang adil rasanya kalau anak ITB yang tidak seperti itu jadi ikut-ikutan dicap seperti pendapat saudara Satrio Madigondo.

bahkan seperti sebuah comment di atas, yang menyebutkan bahwa dia lulus dengan IPK yang kurang memuaskan, itu adalah salah satu contoh bahwa tidak semua lulusan ITB kaku, sombong dsb. mengerti kan maksud saya, tidak semua lulusan ITB lulus dengan IPK yang memuaskan, jadi dapat diasumsikan mereka yang lulus dengan IPK 'biasa-biasa' saja tidak mungkin sombong. ditambah, tidak mungkin kan semua lulusan yang lulus dengan IPK yang memuaskan sombong semua?

tapi yaa, beberapa kritik lainnya akan pribadi saya jadikan bahan untuk evaluasi diri, seperti mahasiswa ITB yang self-oriented nya begitu tinggi, dan ya, benar, saya setuju juga ko dengan pendapat yang mengatakan bahwa persaingan internal ITB kurang sehat, bisa dilihat dengan kurangnya kerja sama antar jurusan dalam mengadakan acara besar yang berguna tidak hanya bagi mahasiswanya, tapi juga bagi masyarakat sekitar (kurang ya, bukan tidak ada lho). ditambah dengan besarnya arogansi jurusan, saat arak-arakan aja beberapa himpunan jurusan masih suka berantem.

intinya sih, ambil baiknya, buang buruknya. semoga kita semua, para mahasiswa maupun alumni, tidak hanya di ITB, bisa membuka pikiran dan mencerna pendapat saudara Satrio tersebut

Yoga Pradistya said...

menurut gue,enggak semuanya mahasiswa-mahasiswi ITB seperti yang dibilang.Personality sesorang pasti berbeda-beda,tergantung dari pergaulan dan lingkungan yg dpt merubah itu semua.Jadi kita gak bisa nge-judge kalo fakta dari mahasiswa-mahasiswi atau alumni ITB seperti yg dimaksud.Apabila ada orang yg mempunyai sifat atau sikap seperti yg dimaksud (kaku,sombong,terlalu pintar,fleksibel,sosial etc.) itu adalah hak dari setiap orang.Intinya sekarang apakah itu semua berdampak sama kita ataupun merigukan kita??

Anonymous said...

bleh.. sori, tapi gw ga bisa nahan komen:
1. Ini blog, bukan jurnal atau karya ilmiah atau laporan. Sumbernya perasaan manusia, bukan data. Jadi ga harus ada data atau fakta, namanya juga blog. Itu sukur2 dia ngasih fakta pengalaman, meskipun bukan pengalaman langsung si penulis.
2. Kalo ga ngerasa, santai dong. Kalo ngerasa? Jangan ngerusuh. Udah ga jaman maen rusuh-rusuh. Katanya pinter. Kalo mau protes, make yourself looked wise. Jadi orang dengerin apa yang mau lu sampein.
3. Kuliah dimana-mana ya berat. Kalo ringan namanya kentut, bukan kuliah. Ga cuma di ITB, di Jayapura sono kuliah juga berat. Kalo ga berat, lu mau kuliah di sana? Pasti mikir berat ongkos, trus kangen masakan nyokap, trus ini trus itu.
4. Banyak karya? Banyak dibanding siapa? Kalo ngajak ngomong data, udah ada data perbandingan karya anak ITB dibanding karya kampus laen? Tolong dilampirin disini. Kalo ga ada, jangan klaim dulu. Kampus lain juga banyak yang berkarya, bro. Karya bukan buat dihitung, tapi dipakai. How?
5. Kalo sampe ngatain penulis pemikirannya sempit, iri, ga hebat dan/atau kata-kata lain yang menyudutkan, ibarat lu ngebuka aib lu. Teko ngeluarin isinya, bung. Teko isi teh, yang keluar ya teh. Teko isi kopi, yang keluar ya kopi. Apa yang keluar dari elu otak, mulut dan tangan, ya itu isi lu. Paham?

Pesan gw, jangan jadi orang yang gampang naek darah kalo dikritik. Kalo orang Indonesia yang pinternya gini, yang begonya gimana? Mau maju ga nih Indonesia?

Buat penulis, ada baiknya redaksi sedikit diperhalus. Kalo tulisan orang bernuansa flaming, jangan dikopas. kutip baek-baek. kritik emang membangun, tapi bikin orang emosi justru ga menghasilkan apa-apa. tulisan lu jadi ga guna, orang jadi benci sama elu, yang ada malah dosa karna menimbulkan pertikaian (halah).

Baek-baek aja lah semuanya. Orang-orang cinta damai kok, ga ada yang mau rusuh. Peace!!

PS: Sori jadi panjang

Anonymous said...

Anak ITB yang sombong seharusnya terlalu malas untuk mengomentarin tulisan seperti ini yang tidak akan berdampak luas.

Anonymous said...

haha..lucu..sdhlah.. sy jg lulusan itb.memang pandangan org sprti itu.mungkin kbetulan 'sample' yg dia dpt org itbnya jg bgitu.yg membela diri tulisan ini ya se'tipe' jg dibwh alam sadarnya..mungkin termsk saya saat menulis komentar ini.utk anak itb yg merasa diluar 'tipe' itu.. no comment,kalian buktikan sj dengan karya.. 10901xxx

Anonymous said...

SAYA TIDAK BANGGA MENJADI ANAK ITB. Kenapa? Lihat deh MIT atau Harvard, mereka memandang prestasi mereka untuk diaplikasikan di dunia, bukan cuma Amerika. Jadi pendapat penulis kalau anak ITB 'pemikir besar' itu relatif karena penulis cenderung takut untuk bermimpi. Melihat mimpi orang saja sudah ngeri kan? Saya lebih ngeri lagi melihat mimpi para mahasiswa negara-negara maju sana.

Anonymous said...

Saya rasa cara berinteraksi seseorg saat menjadi sahabat misalnya, akan berbeda dgn karakter dia saat berhadapan dengan kolega kerjanya. Maka belum tentu seseorg yg terlihat sombong adalah sombong dlm semua bagian hidupnya, mohon tidak "dicap" begitu saja.

Dan saya rasa interview adlh keadaan dimana kebanyakan fresh graduate akan gugup dan mungkin mencoba cara berbeda-beda utk mengekspresikan diri, tp percaya garis besarnya adalah berbicara ttg kelebihan diri dan prestasi sbg alat "jual diri".
Saya sdh bbrp kali mengikuti proses interview dan jelas ditanyakan "mengapa perusahaan kami harus memilih anda?" saya yakin bnyk yg akan menjawab dgn menyambungkan ke prestasi nya dll.. Maka mgkn pertanyaan2 seperti ini yg mbuat kesan "sombong" tpi toh intinya interview utk "menjual diri" dan mengenal lbh jauh..

Saya penasaran memangnya jawaban kawan2 di univ lain seperti apa ketika ditanyakan pertanyaan serupa? Jika tdk menjawab apa2 ato tidak terdengar bermotivasi, apa baik jg?

Kritik diatas sangat baik, saya ambil sebagai masukan. Saya hanya berharap penilaian bisa dilakukan lebih adil dan ada baiknya jika dipaparkan negativenya, paparkan juga positive nya.. Mungkin jika anda memang profesional, berilah kami saran, baiknya seperti apa.. Dgn demikian "obrolan" anda ini lbh berdampak.. So far, maaf kalo saya boleh bilang, kok anda terkesan geram dan sangat sepihak?

Oh maaf, seperti anda, saya jg hanya berpendapat..

Salam dan trmakasi :)


_siska_

Anonymous said...

Oia.. Saya ngeh kok ini bukan tulisan yg punya blog, beliau hanya merepost..

Semoga bisa disampaikan ya :)


_siska_

Neng Sopi'ah said...

Ahahahahaha beneran deh, yang niatnya ngebelain ITB kok malah jadi membuktikan poin-nya sih Pak Satrio yah?

Anyway dia juga bilang kok kalo RATA-RATA anak ITB yg dia interview selama 4 tahun dia bolak-balik interview orang kenyataannya begitu. kalo ada yg nanyain data, minta angka dll ya monggo marilah situ coba bikin research sendiri, gih sana kumpulin segerombolan haeadhunter trus disurvey. Kalo ntar hasilnya ga sesuai harapan, ya jangan misuh2 nyalahin yg disurvey yah.

Penilaian si Pak Satrio ini juga kan murni based on his judgment, dan judgment itu penting juga in conducting business and in daily life. Cape amat kalo tiap kali mau ambil keputusan kayak gini nih:

"Yang, mau makan nasi goreng A apa B?"
"Mana yang lebih enak?"
"Kata orang2 sih nasgor B."
"Mana buktinya? Brp persen yg milih nasgor A? Yang ngumpulin data kalo ga Deloitte ga sahih dong!"

Yg ada capenya doang cuyyyy

Anyway, buat yg punya blog, kalo ngopi dari web sebelah mana toh referensinyah. Plagiat is even less attractive than arrogance loh.

Tori said...

Terima kasih pesannya, :)

Cahyo Sukaryo said...

Dear Tori, alangkah baiknya bila disebutkan sejak awal tulisan (sbg disclaimer) bahwa: (1) ini hanya copy-paste, bukan tulisanmu sendiri, (2) dinyatakan bhw tulisan ini sudah 3 tahun lalu, dan (3) disebutkan juga sumber tulisan aslinya -» saya kenal lho, dg penulis nya in-person

Anonymous said...

font untuk area komentarnya susah dibaca...

Anonymous said...

Setelah baca komen2nya jd tergugah buat komen..

Gw bukan anak ITB, tp kebetulan berprofesi sbg recruiter yg punya kakak, adik, dan beberapa sahabat yg masih mahasiswa dan alumni ITB.

Secara personal, gw rasa ga ada yg "beda" dari mereka2 ini. Sama aja dgn temen2 gw lainnya. Ga segitu songongnya, dan ga segitu hebohnya dengan ke-ITB-annya. Sombong? Sama sekali engga.

Tapi secara profesional, tulisan Pak Satrio ini ada benernya juga. Dari pengalaman gw, terkadang memang ada anak ITB yg terkesan sombong. Pada saat interview (terlalu) membanggakan dirinya, merasa bisa ngehandle segala hal yang justru jd mengesankan kalo mereka2 ini kurang mau belajar dr orang lain krn semuanya bisa dikerjain sendiri. Kesan yg didapet dr beberapa temen seprofesi pun hampir sama, dimana anak ITB itu cenderung picky, dan loyalitasnya dipertanyakan.

Kami tau kalo mereka ini memang orang2 pilihan. Walaupun dulunya masuk dari jalur USM, tp kami cukup tau proses penerimaan mereka ga sembarangan dan cukup ketat. Lingkungan jg membentuk mereka untuk terus bersaing dengan orang2 hebat lainnya. Mau sombong gimana? Yg lain jg mgkn punya prestasi yg lebih luar biasa dari dirinya sendiri. Nah, keadaan ini yg berbeda, disaat mereka masuk lingkungan kerja yang mana lebih heterogen dari kampusnya.

Kami tau jg mereka deserve the best dan pasti diburu semua perusahaan, makanya jadi picky bahkan krn hal remeh. Dan mungkin mereka ini butuh tantangan yg lebih dari yg lain, makanya terkesan "kutu loncat". Dilematis juga buat employernya.. Hehehe..

Tapi kembali lg, secara personal gw sih merasa org2 sekitar gw yg anak ITB, biasa aja tuh.. Sama kaya yg lain.. Ga senarsis dan sesongong itu :)

Doti said...

OOT: di paragraf awal, mungkin maksudnya penyakit kronis ya? Penyakit akut biasanya terjadi dadakan dan cepat menjangkiti, sedangkan kronis berlarut-larut. CMIIW, anyway.

Anonymous said...

woy! yg punya blog copas dari penulis aslinya-_- ngga bsa baca emang nih-________-
jangan luapin kemarahan di blog ini jgaa--"

kalo kalian nggak merasa, ya udah. ngga usah ngotot.
ngga usah marah atau balik nunjukin kelemahan dari tulisannya.

udah. intropeksi diri sendiri aja. jangan dilebih2in . -_-
semakin kerasa 'sombongnya'

Anonymous said...

Tadinya hanya baca artikelnya saja, sampai teman bilang dia baca komennya, dan rata2 lulusan dari Institut tersebut bisa dibilang hampir semua defensif,, jadi mulai deh baca komen2nya,,
Saya pikir sudah menjadi rahasia umum bagi HRD dan Headhunter mengenai isi dari artikel ini, tapi jujur baru sekali ini saya menemukan yang segamblang ini dan menunjuk batang hidung Institut yang bersangkutan.
SOMBONG itu hanya milik TUHAN,, bangga itu boleh, tapi jangan berlebihan!!
Sama2 intropeksi lah,baik itu yang punya blog, baik penulis, baik pihak yang dikritik, maupun pihak yang komen.

Anonymous said...

Curhat mode on:
Gw jg dulu wkt bru masuk ITB bangga menjurus sombong.
Sampe lulus juga masih nyisa sombongnya.
Hmmm, tapi gw ga pnh nyombong klo interview, cukup kasih data dan bukti otentik yg menjelaskan klo memang kita pantas dicap hebat.

Jadi intinya: Si penulis memang lg sial aja ketemu kandidat ITB yg super sombong. Tapi percaya deh, kita ga semua kaya gitu, dan ITB ga pnh ajarin kita utk jd seperti itu.

No hard feeling with ITB okeh..

Anonymous said...

saya ga mau komen isinya ya. saya setuju dengan isi artikelnya. semuanya benar, koq.

saya komen ttg nulisnya aja:
1. bagus, karena tidak berat sebelah, sudah ada disclaimer sejak awal..
2. ga nge-flame siy,, tp anonymous yg sakit hati en banyak komen, keqnya trlalu sensitif..
3. sejak awal sudah disampaikan klo ini sekedar penglihatan sekilas yg memang tidak disertai data (dan memang bukan penelitian yg akan di-seminar-kan)..
4. namanya juga blog seringkali hanya pendapat pribadi. sah-sah saja..
5. klo yg dipotret cuma ITB-nya, ya gapapa. berarti memang penulis hanya membahas itu kan. "sesuatu" itu jadi tulisan, karena "sesuatu" itu menarik utk dituliskan. yg komen merasa "ditulis" disini? berarti anda memang menarik ~( ^_^ )~

oiya, saya anak itb en saya tidak tersakiti dengan tulisan ini. justru kritik ini memacu saya. trims untuk yg nulis en yg posting..

ANAK TEKNIK SWASTA said...

SALAM ANAK TEKNIK!

ITB atau bukan, mata kuliah yang kita pelajari sama.
ITB atau bukan, lulusnya kita mendapat gelar Sarjana Teknik.
ITB atau bukan, kita bekerja tetap membawa & menjunjung nama baik universitas.

jujur, mungkin kalau saya anak itb, saya juga tersinggung.
"orang lain yg sombong, kok bawa2 universitas segala?"

seia-sekata dgn komentator di atas kalau "kelakuan jelek lebih diingat."

ini menjadi titik balik untuk kita, terutama yg fresh graduated. lebih mawas diri, orang2 memperhatikan kita.

saya percaya, kritik ini UNTUK MEMBANGUN, BUKAN MENJATUHKAN.

lagi-lagi saya sependapat dengan komentator di atas, "entrepreneurship aja".

jangan mau hanya jadi karyawan, yg meminta gaji sesuai dgn tingkat pendidikan. kita ini sarjana, pengabdian masyarakat lebih mulia bila membuka lapangan kerja.

SALAM SEMANGAT!

Anonymous said...

saya pikir mas satria ini memang punya pandangan negatif yang terlebih dulu terhadap anak ITB. karena menurut saya, tulisan beliau tidak berimbang.

bisa jadi kalau dia berpandangan negatif terhadap anak UI, pasti dia menganggap bahwa anak UI itu bukan fleksibel, tapi tidak berprinsip.

bisa jadi kalau dia berpandangan negatif terhadap anak UGM, pasti dia menganggap bahwa anak UGM itu katro, kurang gaul.

yang saya ingin sampaikan adalah semua sikap itu punya dua sisi untuk dilihat, baik atau buruk. dan yang saya sesalkan adalah kenapa Pak Satrio hanya melihat dari satu sisi. dan menuliskan pendapatnya tentang sisi negatif itu dengan sangat vulgar sehingga menyakitkan banyak orang.

oke, ini kritik, tapi maaf bukan kritik yang membangun, dan tidak memberikan pencerahan apa-apa buat siapa pun.

oke, ini blog, curahan hati. tapi apakah baik jika curahan hati kita menyakiti orang lain.

andai saya tahu siapa itu Pak Satria, saya kenalan sama dia biar dia punya contoh lain orang ITB yang tidak seperti dia lihat. dan saya gak kebayang kalau dia punya anak nanti, anaknya pengen masuk ITB.

- Ahmad Zuhdi 'Allam, alumni ITB.

Anonymous said...

I love this.. serasa balik ke masa kuliahan lagi... mahasiswa dan idealismenya.. kekekeke...

grow up people! universitas bukan segalanya.. attitude yang paling penting

Rudy said...

untuk pemilik blog, kalo kopas tulisan kasih dong sumbernya.. biar bisa diklarifikasi.. keaslian tulisannya..

Anonymous said...

Ini cerita lama dan ternyata masih berlangsung ya?
Menarik mengetahui hal ini.
Tapi ya menurut saya tidak mengherankan. Pertama, di seluruh Universitas, dalam dan luar negeri, setiap universitas mempunyai keunikan tersendiri dalam hal "menggodok" calon sarjananya. Karena itu, alumninya juga memiliki kekhasan. Menurut saya ini tidak apa-apa, diversity itu diperlukan. Bayangkan kalau semua sarjana Indonesia seperti alumni UGM atau UI atau UNDIP atau IPB atau semuaaa seperti alumni ITB. Nanti siapa yang kerja? siapa yang jadi Boss? siapa yang jadi pemikir? Masing-masing akan menempati tempatnya yang sesuai.
Kembali ke alumni ITB, selama proses penggodokan, harus diakui memang (disadari atau tidak) ada proses yang mendorong kearah pembentukan karakter "sombong" (saya beri tanda kutip karena batasannya sangat luas). Komentar dosen-dosen terhadap hasil karya mahasiswa atau komentar selama diskusi seperti "ah, itu sih sudah banyak yang ngomong! anak ITB ndak ngomong gitu"; "kerjaan apa ini? orang bukan ITB juga bisa", "apa bedanya kamu sama yang bukan logo Gajah?". Ini sebagian saja, jadi selama 4 - 6 tahun dibombardir seperti dilingkungan seperti ini, kira-kira bisa dibayangkan produknya.

Ini sharing dari alumni ITB.
Selamat berkarya semuanya.. Sarjana Indonesia.

Anonymous said...

simple aja sih ini, buat yg ngerasa ya tinggal intropeksi diri, yang ga ya lu santai aja ga usah komen, kesannya lu ntar malah jadi salah satu yang di sebutkan oleh si penulis.

buat penulis: mulut mu harimau mu

baihaqi said...

Dear Pak Satrio,
Saya jadi tau Bapak orangnya seperti apa.

Sincerely,

Alumnus Narcissus

Jordi said...

setuju sama yang komen di 08:52! gue baca komen2 dari anak itbnya jadi pengen sedikit negur, eh taunya udah dipost sama agan yang ini (y) ini cuma blog, biarkanlah mereka berpendapat.
anyway gue juga anak itb, ini jadi peringatan bagus banget nih kalo buat gue, jangan sampe jadi kaya gitu, amit2 memuakkan banget. Thanks untuk post ini yang udah mengingatkan gue :)

Anonymous said...

Terimakasih buat bapaa yang bikin tulisan yaa..

Anak itb dan lulusannya memang ada orang yg seperti dituliskan di atas dan ada yang tidak :)


@yg seperti dituliskan di atas: mari kita introspeksi diri :) ambil yg baik, yg tidak baik ta perlu diambil
@yg tidak: nah nah, jaga2lah hati pikiran,. ini bisa juga dipakai untuk mengingatkan teman2 kita yg seperti di tuliskan di atas.

Dana said...

Haha, ketauan anak itbnya pada emosi gara2 ini. Yah ngaca aja deh. ITB penyelamat bangsa? LOL, dari dulu ampe sekarang hasilnya gitu2 aja buat negara. Kalo ga cari hujan emas di negeri orang, jadi bajingan di negeri sendiri.

Anonymous said...

Aku baik kok :)

9GAG said...

Jangan-jangan yang daritadi protes sebenernya dibayar pemerintah buat menjelekkan nama ITB itu sendiri, sehingga ITB dicap buruk dan pemerintah punya alasan buat memberhentikan pasokan dana ke ITB!? Bcanda bro haha jgn dianggep serius yak, serem kbanyakan emosian dan kaku sih di sini :D (pake senyum biar sarkasme keren gitu deh haha)

Ya lagian aneh dah, masa dikritik langsung ga terima ini itu, ya ga dikritik juga sih (karena menurut saya kritik biasanya jelas kepada siapanya, justru saya di sini melihat masnya seperti bergumam berpendapat). Si masnya kan emang curhat, masa org punya curhatan, punya pendapat sendiri dibantai, kasian amat. Coba liat dari sisi lain bro, misalkan ternyata memang anak ITB dicap kayak gini, tunjukkin dong kalo sebenernya ngga, bisa jadi batu loncatan kan? Wah ternyata ga sombong loh, pinter2 lagi, jadi naksir nich :*, misalnya.

Pendapat saya pribadi, ya namanya orang pasti punya pribadi masing2. Okelah tempat kakak2 belajar, tempat berkeringat bersusah payah dibilang sombong. Bukan tempat, tapi manusianya yang dibilang seperti itu. Asalkan anda yakin anda tidak seperti itu, tingkatkanlah, kalau anda merasa, perbaikilah. Karena menurut saya, tidak ada yang senang dengan orang sombong hahaha, ya ga tor?

Yaa sudah cuma mau ikut komen doang sih, smoga ga menusuk, tidak membusuk, dan monggo dibaca dengan khusuk haha, udah ah lanjut 9gagging lagi

ivan said...

wah bukannya emg dasarnya kita pada glory hunter yah?? whuuuuuu :)

Hadid said...

sampah ah lo pada yang ngomong panjang lebar dan ga mau disalah2in.. makan dah tuh ITB.. emang lo hidup buat apaan? buat kerja? ngejar prestisius? plis deh lu ngomong panjang lebar disini juga ga bakal ngubah apa2..

look, ini tuh pandangan orang luar.. kalo lu semua, alumni/calon alumni ITB yang udah ngomong panjang lebar ga mau disalahin, udah pada kerja. kalian tuh bakal berinteraksi dengan DUNIA LUAR! masa iya lo semua mau nyuruh semua orang buat ngecek "ada apa aja sih di ITB?" biar lo semua ga disalahin dengan sikap lo yang (mungkin untuk beberapa orang) bangga berlebihan dengan almamater lo.. CAPE DEH..

gw cuma mau ngomong.. ambil lah boy positifnya.. berarti ini peringatan buat kalian jika diluar sana nanti.. bukan malah defense dan balik nyerang ke penulis..

satu lagi.. PLIISSS ALMAMATER BUKAN SEGALANYA!! di institusi lain semua orang kerja keras.. gw juga muak ama beberapa anak ITB yang TERLALU bangga akan almamaternya..

Anonymous said...

baca dari atas smp bawah.semuanya.senyum aja lah :)

NL18209028 said...

Yap, gw anak ITB dan gw ngerasa kok ada beberapa hal di tulisan ini yang benar ada di diri gw. Ya mungkin ini cuma gw aja sih, bukan orang-orang yang komen marah2 di atas yang memang mungkin tidak begitu.
Terima kasih banyak Pak Satrio Madigondo telah mengingatkan saya untuk menjadi orang yang rendah hati sebagai mahasiswa atau nanti jika menjadi lulusan ITB :)

Anonymous said...

komentar-komentarnya seru. jadi tergoda utk menyimpulkan nih.
anonymous yg defensif = mahasiswa/lulusan ITB yg sombong dan gak mau dikritik.

mau data? ini copas curhatan orang di facebook. ini bukan artikel koran atau jurnal ilmiah kaleee...

Anonymous said...

Tulisannya udah lama banget sebenarnya ini.

"Love your haters, they are your biggest fans. Why? Because they always waste their times just for notice your every wrong move."

Ini sebenernya agak sombong menurut gue. ('gak penting)

"Ketika saya tanya soal prestasinya dia berulang kali menekankan hal-hal berikut:
(1) Pencapaian nilai kimia yang sempurna (100) di mana hanya terjadi 5 tahun sekali, orang satu2nya di antara 1,400 mahasiswa lain (diulang 3 kali)
(2) Pemimpin yang sangat baik, excellent! (diulang minimal 3 kali)
(3) Sangat bisa segalanya.
(4) Semua orang kenal saya.
(5) Ada lowongan regional manager Asia tapi tidak diambil dan kalaupun dia yang maju, sekitar 98% kemungkinan dia pasti jadi (diulang 2 kali"

Yang diwawancara kayaknya sangat grogi sampai mengulang-ngulang prestasi, mungkin kagak punya prestasi lain makanya ngulang-ngulang, hehe. 5 poin yang disampaikan entah dilebih-lebihkan oleh si hunter entah apa adanya sangat wajar sebenernya kalo kita ditanya soal prestasi.

Anonymous said...

Kalo yang nulis ini adalah BAPAK Satrio Madigondo, kenapa ada kutipan seperti ini:

"Ketika saya bertanya apakah dia ada pertanyaan mengenai proses maupun klien saya, dia hanya mengajukan beberapa pertanyaan. Lucunya, ketika saya menutup wawancara dengan dalih ada urusan lain, dia malah bilang "Oh pantesan IBU buru-buru. Jadi kapan saya bisa tanya2 IBU lagi?" (Lhoh??) Setelah itu dia masih berusaha nyerocos menceritakan kehebatannya di konteks pekerjaan."

yang bener mananeh?... bapak bapak apa ibu ibu?

Anonymous said...

Salam.

Apa kabar rekan2 semua? Tulisan ini sangat menarik. Terima kasih saya ucapkan pada pemilik blog. Izinkan saya ikut berkomentar sebagai pribadi, bukan mewakili manapun, sekaligus mengklarifikasi dan berbagi data yang beberapa rekan ITB harapkan. :)

Saya salah satu alumni ITB. Sekarang saya menjadi staf di @itbcareercenter. Bekerja di sana membuka mata saya akan banyak hal tentang sistem pengajaran dan lingkungan akademik yang ada di kampus Ganesa.

Sumbernya saya dapat dari para psikolog yang bekerja di kampus ITB, serta--ini yang membuka mata banget--hasil survey dan wawancara yang dilakukan terhadap hampir 90 perusahaan yang berbeda di Indonesia.

Hasil?

Ya, mayoritas perusahaan menghadapi sendiri di dalam lingkungan kerja mereka, anak ITB punya masalah, terutama di soft-skill. Apa saja? Nomor 1: KOMUNIKASI. Nomor 2 malah LEADERSHIP, bukan, KOOPERATIF. Kenapa 'kepemimpinan' jadi masalah? Bukan karena anak ITB ga bisa mimpin, tapi karena memang sulit untuk mendengar pendapat di luar 'standarnya'.

Lalu tentang 'narsisme' yang disebut pemilik asli tulisan tadi, hasil riset Tracer Study dari ITB CC tahun 2010 dan 2011 mengidentifikasi masalah utamanya: superiority complex. Dan saya setuju bahwa mahasiswa/alumnus ITB tidak bisa sepenuhnya disalahkan atas itu. Memang ADA faktor dalam lingkungan di dalam kampus ITB yang menyebabkan itu. Dan itu memang jadi PR besar untuk para dosen dan pembuat kebijakan di ITB.

Mohon maaf saya hanya bisa menjelaskan itu dulu. Panjang sekali hasil riset Tracer Study tersebut bila dibahas di sini. Bila tertarik untuk melihat dan berdiskusi fakta dan data yang saya sebut tadi, boleh hubungi saya di career@itb.ac.id, atau via Twitter (saya admin-nya), atau lewat FB Chat ITB CareerCenter, atau di nomor ponsel 085720220180.

Demikian. Mudah-mudahan infonya bermanfaat. :)

Warm regards,
Ales, Matematika 2002

Anonymous said...

Nggak cuma anak ITB aja yang kerja keras, Bung. Banyak orang lain, mau yang kuliah ataupun nggak kuliah, berpendidikan atau nggak berpendidikan, kerja keras dan dapet tekanan dari sana sini. Jadi tolong jangan jadiin alesan 'karna anak itb udah kerja keras dan dapet tekanan selama kuliah' sebagai pembenaran untuk bisa jadi seperti what people called "sombong dan kaku".

Bukan pertama kalinya anak ITB dikritik dengan kritikan kayak gini, bahkan sebelum saya masuk ITB aja saya udah denger gimana kesan lulusan ITB di mata orang-orang. Dan tulisan ini, bahkan dari judulnya aja udah pake "Kata Mereka..". Well, semua orang bebas beropini apa aja toh? Mau opininya pake data atau nggak.

Dan jujur aja saya emang ngerasa dari awal masuk ITB, anak-anak ITB udah terlalu 'ditinggikan' dengan adanya tulisan "Selamat Datang Putra-Putri Terbaik Bangsa" dan semacamnya. Belum lagi ospek sana-sini yang nggak tau kenapa efeknya jadi agak menaikkan arogansi diri maupun kelompok. Nggak salah sih. Tapi ada yang bilang, "Orang paling bijaksana adalah orang yang tahu bahwa dirinya tidak tahu". Well, ada baiknya kalo setiap pendidikan karakter di ITB amat sangat menanamkan hal ini, jadi kader-kader yang arogan atau self-worshiper nggak akan tercetak dari sana.
Sebenernya, nggak usah digituin juga, siapa sih yang nggak bangga masuk ITB?

Jadi ayoklah pada ngebuka pikirannya. Buat anak ITB, jangan panas baca opini kayak gini dan malah nanggepin pake bahasa yang not well-said. If you totally do not agree, prove it through your action, then. Buat penulis juga dibuka pikirannya bahwa mungkin sampel yang Anda temui itu belum cukup untuk membentuk sebuah gagasan tentang lulusan ITB.

Anonymous said...

Menurut saya pribadi..Pak Satrio mungkin kurang hoki aja ngewawancara anak-anak ITB-nya yg terlalu menjual dirinya berlebihan menjadi terkesan sombong..masalah itu sepertinya kembali ke pribadi masing-masing..klo pada umumnya anak-anak ITB sombong..ya karena memang rumor untuk masuk ITB dan keluar dari ITB itu susah memang benar adanya..jd anak alumni ITB merasa bangga..tp yg terlalu bangga menjadi sombong pada akhirnya..

Yaaaa..coba lebih terbuka lg..atau mungkin karena perusahaan Pak Satrio ini merupakan perusahaan top..jd yg masuk ke perusahaan Pak Satrio ini memang harus menjual dirinya gila-gilaan..ya ga salah juga klo memang jadi terkesan sombong..hehehe..

Tapi kenapa anak ITB sering membicarakan mengenai skala Nasional..kn ga salah juga punya mimpi yg tinggi..mungkin kembali ke pribadi masing-masing orangnya bagaimana cara menceritakan mimpinya itu ke orang-orang di sekitarnya..dan jika Pak Satrio membaca tulisan saya ini..tolong jgn digeneralisasi sebagai "Alumni ITB" karena tulisan Pak Satrio menunjukkan generalisasi..kn anak ITB itu ada seni rupanya..jadi ga mungkin eksak orang-orangnya..hehehe..

Hatur nuhun..Yellboooys!!

Anonymous said...

lol..klo kopas baca2 dulu isinya mas/mbak
ini pembuat tulisan aslinya emang siapa? pak satrio atau bukan?
klo pak satrio kok bisa dipanggil ibu di dalam tulisannya?

ini tulisan sudah ada dari tahun2 lalu..mungkin bisa dicari di google tentang tulisan ini, kebenarannya dan siapa penulis aslinya..


*FUCK YOU 9GAG, YOU RUINED THE INTERNET!!!

Anonymous said...

anak ITB yg komen jg sotoy kali. baca tulisannya yg bener wooyy, malu2in aja.
malu awak jd alumni ITB

fendysutrisna said...

Anak ITB, UI, Unpad, atau anak UGM boleh sombong asal banyak temennya dan berguna buat orang sekitar.

Kalau gk berguna, apalagi sampai gk ada yang suka sama diri anda terus tetap sombong, yawdah berarti kelaut aja gk peduli apapun almamaternya.


Jabat erat kawan-kawanku semua,

Fendy Sutrisna :D

joni jonga said...

gak semua anak itb begitu kok.. yang begitu itu ya, yang pada komentar disini, yang pada gak terima, dan minta data segala!

broer said...

yang bilang penulisnya berimbang dalam menilai, GOBLOK ga ketulungan.. kalo emang berimbang, dari almamater saingan ITB harusnya juga dijabarkan..

ga perlu data/statistik, cukup penulis memberikan informasi diri saja, pendidikan dan resume pekerjaan, dari informasi itu kita bisa menilai se-valid apa isi tulisan tersebut..

@bukan dari almamater ITB
ga usah ikut2an men-judge

@almamater ITB
kalo dikritisi jangan pasang sikap resistif

Anonymous said...

saya alumni ITB, dan saya tidak merasa tersinggung sama sekali, artikel ini membuat saya berkaca diri, apa yang sudah saya beri untuk org2 disekitar saya sehingga saya harus merasa sombong? belum ada, dan rasa sombong tidak akan membuat kita sukses, terima kasih atas kritikannya :)

Anonymous said...

sungguh berbeda dari realitanya,saya berkutat dengan orang-orang disini, dan jujur saya pun asalnya mempunyai pandangan yang sama dengan penulis yang diatas.
tapi sungguh dibalik itu mereka semua benar2 mempunyai mimpi yang luar biasa, kalau memang terdapat orang2 yang seperti diceritakan, saya yakin itu cuma kejelekan pribadi saja, tetapi bukan generalisasi bahwa anak ITB seperti itu. camkan hal itu.

Anonymous said...

saya alumnus itb, sekarang bekerja di australia dg gaji termasuk tinggi utk negara ini. Saya bisa merasakan rekan saya sesama itb banyak yg mengidap penyakit2 di atas

enig said...

aih espokat sama atas ane tentang kalo yang sombong itu terlalu males komen di mari.


based on my true story nih...

begitu lulus, ane kerja pertama kali di plat merah, sebut saja A.

tiap ane punya usul sesuatu yang baru, dikomentarin ma bos : Widih anak itb, pemikirannya jauh ke depan, khayalan tingkat tinggi, gak usah lah mikir yang muluk2..bla bla bla...

nah gara2 sering digituin, jadi ane males buat proaktif n memilih buat diem aja. Lucunya pas rapat dibilang gini ma bos dihadepan smua orang : "kok kamu diem aja? harus proaktif dong...masa anak itb kalah ma stt telkom?!"

eaaaa mau gimana2 aja salah, cape dah...

nah itu pengalaman kerja di plat merah A, kebetulan setelah itu ane kerja di plat merah lainnya...sebut saja B.

masih membekas di benak ane kata2 si pemimpin : kamu itu gimana sih? kerjanya gak maksimal, dikit2 sakit (emang ane penyakitan)...katanya anak itb, katanya rengking 1 waktu trening, tapi mana buktinya? supervisor kamu komplain kalo kamu gak mau disuruh kerja...bla bla bla...

ya buat yang kenal ane, tau lah kenapa ane gak mau disuruh kerja. kalo menurut ane kerjaan ane tidak sesuai dengan prinsip ane,,,ya ane tolaklah. bodo amat, gile aje lu disuruh ngambil hak rakyat. N yang paling ane gak suka, kenapa mesti disangkutpautin dengan itb n prestasi akademik?

bwahahaha,,,karena ane dah kerja di 2 tempat yang berbeda n perlakuan mereka sama anak itb itu bisa dibilang hampir sama...n pengalaman kerja ane 4 taun juga loh. berarti bisa dong ane klaim kalo penerimaan perusahaan yang anak itb merupakan minoritas di perusahaan itu adalah berupa sikap sentimen? apa bedanya dengan om rekruter yang udah rekrut selama 4 taun anak itb n klaim kalo anak itb sombong? *ups...

ane espokat sama yang komen kalo mestinya si rekruter nyantumin data berapa anak itb yang dia nilai sombong berikut kriteria sombongnya dibandingkan dengan anak alumni laen..karena kritik itu bagus kalo berdasarkan fakta bukan sekedar opini, apalagi sentimen pribadi. ups,,,

Anonymous said...

kalo baca komen2nya jadi kok kesannya bener ya tulisan itu... :)

gak baca jelas maksud dan tujuan dari tulisan itu udah langsung pada nyerocos ... keliatan banget gak suka dikritik.. padahal jelas-jelas itu dibilang pendapat pribadi... boleh dong...

aneh emang...

Anonymous said...

nice notes, while I don't know if it was true or not in general, but as former ITB student I do really appreciate :D

Anonymous said...

hmmm, yah setiap orang punya kelebihan dan kekurangan masing2. Klo dikritik terima aja, toh klo itu benar kita coba rubah, klo ternyata ga sesuai kenyataan ya tinggal tersenyum.

Honeylizious Rohani Syawaliah said...

banyak yang komentarnya pake anonim :D

ayo anak ITB keluarkan identitas aslimu saat bicara...

ehehehhe..

kenapa ITB dibahas sampai segininya ya? Ada apa dengan ITB?

Anonymous said...

Ya sudahlah...

Btw, ini ada tulisan dari Pak Rinaldi Munir (Dosen Teknik Informatika ITB)

Worth to read lah... :D

Here's the link:
http://rinaldimunir.wordpress.com/2012/01/06/menjadi-alumni-itb-yang-rendah-hati-dan-tidak-sombong/

conannd said...

wahh menarik.. jadi pengen komentar nih...
hmmm.. saya alumni itb 03... dan saya percaya komentar diatas benar adanya. Tapi tentunya tidak semua alumni itb demikian. Walaupun begitu, saya yakin semua lulusan itb punya rasa bangga yang lebih dibandingkan dengan universitas lainnya di indonesia. Jadi mungkin bukan hanya karena proses di himpunan masing-masing jurusan yang menitikberatkan pada keegoisan masing-masing jurusan, tapi juga memang karena proses seleksi masuk itb tidaklah mudah. Saya memang banyak melihat beberapa kenalan saya yang punya karakter seperti diatas. Rata-rata mereka adalah mahasiswa yang super pintar atau yang bekerja sangat keras dimasa perkuliahannya. Yahh.. sebenernya sih gak terlalu banyak mahasiswa ITB yang seperti itu. Banyak juga kok mahasiswa ITB yang lulusannya sangat "down to earth" yah itu sih tergantung head hunternya nyari kerjaan di bidang apa dan posisi apa. Kalau nyari anak itb untuk posisi manager keatas sih ya udah pasti dapetnya yang begitu.

Anonymous said...

kalo menurut saya,, jangan biarkan siswa-siswi yang baru menjadi mahasiswa-mahasiswi itb mengetahui bahwa anak2 itb atau lulusannya sombong2 (walaupun mungkin itu ga gampang),, karena takutnya mereka meniru, toh kebanyakan adik akan meniru kakaknya kan?? walaupun secara tidak langsung :D,, mending beri masukan mereka dgn yang baik-baik aja :D

af_seeker said...

Overall, menurut saya ini kritik yang pedas, tapi tepat sasaran.

Dari yang saya tangkep, penulis tulisan ini mengeluh bahwa anak ITB seperti saya kurang simpatik, ga bisa ngerti atau malah sama sekali lupa sikon. Gaji EUR 5000/bulan mungkin biasa di Jerman, tapi yang diwawancarai rupanya lupa dia udah ngelewatin petugas imigrasi di Bandara Soekarno Hatta, masuk ke Indonesia lagi. Yang ngebanggain nilai 100 itu lupa kalau banyak orang yang dapet 100 pas kuliah, dan apa bedanya si A yang dapet 100 di ITB dan si B yang dapet 100 di universitas tetangga ketika keduanya masuk ruang wawancara kerja?

Mungkin kesalahan terbesar dalam sistem pendidikan di ITB adalah ketika para mahasiswa tidak dipersiapkan untuk worst-case scenario. Kami tidak bisa menerima fakta kalau masih tetap ada peluang kalo kami akan jadi petugas entry level ketika memasuki dunia kerja untuk pertama kali, baru merangkak ke atas seperti jutaan orang lainnya. Kami hanya diminta untuk melihat bintang, lupa bahwa tanah yang dipijak itu bisa longsor tersapu hujan.

Antonius Prasetya said...

Saya anak teknik kimia ITB angkatan 2010. Semua orang punya mimpi dan punya jalannya masing-masing untuk menggapai mimpi tersebut. Saya punya cita-cita untuk membuat Indonesia menjadi lebih baik dan saya berharap dengan kuliah di ITB saya bisa mencapai cita-cita saya tersebut. Saya rasa banyak anak ITB lain yang punya cita-cita seperti saya. Yang saya mau sampaikan, tolong akhiri semua hal-hal yang berbau saling menjatuhkan. Indonesia ini masih jadi negara berkembang, perlu energi yang besar untuk membuat Indonesia menjadi negara maju. Kalau semua mahasiswa di universitas besar sibuk bersaing dan menjatuhkan, siapa yang nantinya mau bekerja sama dan membuat Indonesia menjadi negara yang lebih baik? Untuk mahasiswa UI, UGM, dan universitas lain, ayo kita buang arogansi kita dan mulai bekerja sama untuk Indonesia yang lebih baik. Tidak usah dipikirkan siapa yang lebih lugu, lebih fleksibel, atau lebih sombong, lebih baik kita memikirkan bagaimana kita bisa menjadi solusi atas permasalahan di Indonesia. Untuk Indonesia yang lebih baik!

Lia said...

Hi, kebetulan saya lulusan ITB juga.

Ikut komentar beberapa hal ya
-Kl soal sombong atau ga, itu subjektif, tergantung bagaimana cara lihatnya, soalnya bangga dan sombong bedanya tipis. Lagipula, bukannya wajar membicarakan prestasi saat interview? Atau harusnya bilang saja "wah, saya sih biasa2 saja, ga punya pencapaian, ga ada yg istimewa.."?
-Soal punya mimpi yg "terlalu muluk". Hmm.. Atau harusnya org ga perlu punya mimpi ya..? Jd followers saja gt? Kl gitu siapa yg jd pemimpin? (Bukan berarti lulusan ITB semua bs jd pemimpin ya..)
-Soal anak ITB kaku dan ga bs dengar org. Ini tergantung org nya deh. Jujur, wkt saya baru lulus saya termasuk org yg ga bs dengar org lain itu, punya standar sendiri dan ga terima kl ada yg punya standar lain. Tp saya punya teman sekantor yg jg lulusan ITB, dan dia sama sekali ga spt itu..
-Meremehkan org lain? Wah.. Mudah2an saya ga termasuk org yg seperti itu.

Artikel yg menarik.. Bikin mengerutkan dahi dan berpikir, memangnya lulusan ITB separah itu ya? Kl iya, kok msh bnyk yg mau terima dan malah memberikan posisi2 penting ke lulusan ITB ya..? (Bukan berarti ga banyak jg posisi penting yg dipegang bukan lulusan ITB ya..)

Ps. Yg punya blog nih anak penerbangan ya? Kebetulan (lagi) saya juga.. =p
Btw, lain kali disebutkan sumbernya kali ya..

Anonymous said...

http://9gag.com/gag/1527312

luki said...

tampaknya banyak yg tersinggung hehehehe..

well.. mungkin bukan karena mereka (alumni itb) sombong / congkak, tapi memang memiliki kemampuan komunikasi yg tidak terlalu tinggi :)

just my 2 cents

Anonymous said...

Saya ti07 itb, saya baru lulus oktober kemarin, saya memang blm mencicipi dunia kerja sbnrnya, tp saya cukup merasakan adanya keinginan untuk dihargai yang sangat besar dari mahasiswa itb, saya dn beberapa teman saya. Menurut saya, didikan dalam ITB, baik lingkungan ataupun pendidikannya, membuat mahasiswa ITB memiliki kepedean bahwa dia sanggup melakukan apapun dan harus dan wajib, ketika ngomong A, brarti A harus dilakukan, endingnya kerja keras, mau blajar. tentunya univ lain jg bgt, tp sberapa besar level kepedeannya, itu tergantung pd pribadi dn lingkungan pembentuk pola pikir 'menurut saya, univnya'. Terkadang memang, kepedean ini terkesan sombong, pdhl tidak, hanya memang bgtlah kita apa adanya, ketika ngomong A, wajiblah A yg dilakukan. Menurut saya, ketika contoh2 diatas menyebutkan prestasinya dgn cara spt itu, artinya dia mau dihargai dan dia yakin dia bs memberikan sesuai penghargaannya. Sebenarnya mudah saja, tinggal terima dn tuntut dia bekerja keras spt prestasi yg disebutkan. Atau jika tidak suka, ya sudah tidap pa2, tp sayang sekali bagi anda menolak mereka, krn mereka adalah lulusan spesial, dunia kerjalah yg akan mengajarkan pd kami sbrp penting hidup bersama. Lagian tampaknya, contoh diatas adalah mereka dgn ipk tinggi banget, yah bagi saya sih wajar mereka sombong, haha, mereka sudah di ITB tp masi bs nilainya bagus banget, coba cek alumnus ITB yg lain, mungkin jgn ipk sgt kl ga pengen ketemu yg sombong2, cari yg lbh dibawah lg. Toh kita diajarkan untuk bertanggungjawab.
Kemudian, jaman sdh berubah, bagi saya anak 07, sdh tidak zaman untuk sombong lg, buktinya banyak dr angkatan saya yg sulit mencari kerja, tp kl memang para headhunter merasakan perbedaan hasil wawancara antara itb dn univ lain, lihat hal itu sbg tanggungjawab kami, kami berani dicap setinggi itu krn kami memang ingin memberikan stinggi itu kpd perusahaan. Jd kami hanya ingin dihargai sesuai kemampuan kami, hanya itu permasalahannya.
Jadi panjang omongannya, krn spenglihatan saya sbnrnya anak ITB tidak pernah merasa sombong, tp memang, ada keinginan untuk melakukan sesuatu yg besar. Tidak tahu de, kalo banyak alumnus lain, menganggap hal2 spt ini kelihat sombong. Hal ini mungkin sekali terjadi..
Yang penting, kerja dengan baik dn benar..make a better future for our country...
Menurut saya, alumnus yg belum berpengalaman, hehe

mochi said...

saya ngga minta 5000euro kok, saya cuma minta 5000S$ .. ^^

Och och said...

1. Tulisan yg menarik dan cukup provokatif :D. Eh, Satrio Madigondo itu cewek apa cowok sih? dari namanya sih kayak cowok, tapi koq di situ dia menyebut dirinya ibu ya (yg pas adegan interview)#komengakpenting

2. yg mahasiswa itebeh yg cerita soal nilai kimianya 100 itu jg lebay. mungkin gara2 alumni2 yg lebay kayak beginian nih pak/bu satrio jadi gondok, jadi mengeneralisasi semua alumni itb kayak begono. dimaklumi aja lah. eh, tapi biasanya salah satu ciri orang sombong itu adalah gondok kalo ada org lain lebih sombong dari dia loh, hahaha

3.met taon baru semuanyaaa

4.sayang gak ada tombol like kayak di fesbuk. padahal banyak komen yg mau saya like loh :)

#alumniITBIPKpas2anJuga

itb08 said...

binnekha tunggal ika.. mari bersatu untuk memajukan negeri ini.

Anonymous said...

HAHAHA...kocak-kocak komennya.
Seperti yg akan kita tebak dan tergambar dalam pikiran setelah membaca artikel ini adalah pasti lebih dari 60% anak / alumni ITB yg akan komen dan ngamuk2...
Yah, itulah realitanya..ada benarnya juga yg pernah mengatakan "kenapa sih tidak terima kritikan? apa kalian terbutakan akan kehebatan kalian sendiri, sehingga tak bisa lagi melihat keatas?"
Artikel yg cukup baik dengan penuh api semangat menyadarkan. Hanya saja, memang masih ada "keseganan" utk memberikan data yg menguatkan, sehingga yg protes dan masih saja sombong tersebut ga bisa bicara apa2 lagi.

Ini hanya masalah diri sendiri, dan bagaimana pikiranmu terkendali dan selaras dgn alam, masyarakat dan pendidikan. Ada yg tahu diri, ada pula ada yg tidak, sehingga terjadilah kesombongan.

In harmonia progresio...


*AR.itb.ac.id.03*

Anonymous said...

wah wah ribut amat ngomongin almamater mendingan dari pada ga setuju sama artikel ini anak itb tunjukin dong ke orang-orang yang menganggap kalian sombong kalau kalian memang benar-benar bisa melakukan sesuatu yang lebih untuk bangsa dengan achievment-achievment yang pernah kalian raih .
jangan cuma omong doang yang besar tindakan juga harus besar mas

Anonymous said...

Anak ITB berkata: "Jgn men-generalisir, tidak semua anak ITB sombong", sebuah pembelaan diri yang tolol. Secara tidak langsung lo bilang diri lo tak sombong. Mungkin bangga diri kalee

Anonymous said...

well tulisan ini dishare sm dosen pembimbing KP saya di milis KP angkatan. Kata saya sih ga ada yg salah ttg tulisan ini dan justru harusnya jadi bahan introspeksi untuk ke depannya. Dosen saya pun beranggapan bahwa memang ada beberapa fakta di lapangan yg menunjukkan kalau anak ITB kurang bisa bekerja sama dengan baik, tapi ya saya pikir ga semua anak ITB kaya gitu.Mungkin akibat sistem akademik kampus yg ketat sekali mahasiswa jadi cenderung individulis.Sebagai anak sains di ITB rasanya memang harus bisa survive sendirian, jadi seringkali merasa sangat individualis. Saya pribadi merasa berterima kasih sama si penulis artikel ini karena merasa diingatkan, bahwa pada dasarnya jadi manusia itu semakin tinggi ilmunya, harus semakin sederhana. kepintaran bukan dijadikan kesombongan, tapi harus dijadikan sbg tools untuk berkontrisbusi akan hal yg lebih besar. dan di atas langit, masih ada langit :) so thank you so much for the critical review!!!

Anonymous said...

hahaha btul bgt nih artikel, kbetulan saya mhsiswa itb jd plg tdk saya tahu kenyataan dkmpus. mungkin tdk semua mahasiswa itb kyk begitu, masih ada bberapa (yh mgkn cuma secuil) yg masih waras hahah mhsiswa itb byk yg kyk katak dlm tempurung, lulus dr kmpus lompat sana lompat sini nyari kerjaan gaji bgs. membumi dkit lh

Anonymous said...

Apaan sih susahnya masuk ITB, ya ampun baru ITB aja kok bs sombong

adityo said...

Dear Satrio Madigondo
Sungguh akui, tulisan yang menarik dan sangat meyakinkan untuk pembaca secara awam. saya bukan alumni ITB dan saya tidak pernah mendaftar ke ITB. Tapi ada satu hal yang saya tidak yakin yaitu hasil penelitian selama 4 tahun, jika memang benar penelitian selama 4 tahun, tolong dengan terbuka juga tunjukkan penelitian itu dan publikasikan ke seluruh mahasiswa ITB agar kata2 diblog ini dapat dilihat validitasnya (bukan hanya bikin panas sesaat), karena menurut saya pernyataan tanpa adanya bukti, hanya akan memancing di air keruh.

Yoga Anindito said...

saya sekolah di sd-smp-sma-universitas yang terkenal unggul. alumninya pun kuat dan sukses. tapi saya selalu berada di peringkat menengah kebawah dalam hal akademik.

saya melihat memang ada kecenderungan seperti ini apalagi di kalangan IPK tinggi. mungkin ada benarnya kalau dibilang hal ini disebabkan oleh suatu proses kaderisasi yang salah dan kegiatan2 kemahasiswaan di ITB yang rigid. tetapi kita tidak bisa mengeneralisasi. banyak sekali anak ITB yang humble dan memiliki social skill yang baik. apalagi dengan mulai berkembangnya kegiatan dan organisasi2 antar kampus yang memungkinkan anak ITB untuk melihat dan belajar bekerjasama dengan mahasiswa universitas lain. bisa jadi emang gak hoki aja mas recruiter yang satu ini. LOL.

Anonymous said...

Kalau memang benar alumni ITB seperti itu, arogan sekali. Itu yang disebut "Think locally, act locally". Hari gini masih bawa2 kasta. Pantes negaranya gak maju2. Makanya kena krisis multi dimensi. Pola pikir diubah donk. Jangan menilai diri terlalu tinggi. Diatas langit masih ada langit..

Thofa said...

ckckckckckkcc............ ngapain kalian bicara almamater?? mahasiswa yg cerdas adalah mahasiswa yang membicarakan permasalahan negaranya, bukan menyombongkan almamater yang kebetulan ia pegang..

Alla Gothe said...

Buat anak ITB yg baca, namanya juga opini orang. Baik dan buruk tergantung sama perspektif orang kan. Kalo kalian punya opini yg "lebih positif" monggo ditulis. Kalian punya keberanian untuk menulis ga? Perbedaan itu indah bro.

Rossie - Alumni ITB said...

Buat Tori, yg punya blog, ini sumber aslinya mana?tolong disertakan link dari sumber aslinya donk. Trus katanya copas dari status fesbuk temenmu yah? tanyain temenmu lah dia copas dari mana lg. Hati2 loh jaman sekarang jangan asal maen copas aja tanpa menyertakan sumber aslinya. Disamping ujung2nya jadi kabar burung yg gak jelas asalnya, ini juga menyalahi hak cipta. Kan tulisan jg karya cipta orang, ya toh?
Klo bikin literature review aja musti mencantumkan referensi, kalo gak ntar bisa disebut plagiat. Halah, maaf jadi kemana-mana..... =D, intinya saya cuman minta sumber aslinya koq, hehehe. Buat sodara-sodariku sebangsa dan setanah air yg agak emosi, ditahan dulu, kan tulisan ini jg belom pasti kebenarannya, lha wong sumbernya aja kagak jelas dari mana
Peace for all!!!!

baba said...

Menurut saya tiap anak ITB memiliki keunikan masing2, klo menurut pengamatan versi saya :

Anak teknik (umumnya) biasanya memang lebih berorientasi sama nilai dan biasanya mereka sangat bangga (kadang arogansinya tinggi) terhadap jurusan maupun himpunannya karena dianggap paling d butuhkan di dunia kerja, sedikit kaku dalam forum2, praktis, penampilannya rapi (teknik non lapangan)dan sanggar dengan jaket himpunan (teknik-lapangan), mengincar perusahaan dngan gaji dan reputasi terbaik, banyak prestasi, IP banyak yang tinggi, punya banyak koneksi, yg Planologi biasanya pemikiran dan perencanaannya cukup bagus.

Kalo anak Sains selain Fisika biasanya cukup kalem, ga terlalu macam2 biasanya cukup tekun, dan IP banyak yang tinggi, Prestasi lumayan banyak. Klo anak Fisika agak berbeda, mahasiswanya pada suka mikir yg berat2, kadang2 pemikirannya unik, terkenal paling suka mengkaji segala sesuatu, yg IPnya bagus hanya segelintir orang, penampilan urak2an (T-shirt, jeans, + sendal jepit swallow), ga terlalu peduli ama kuliah, kalo ngambil mata kuliah teknik biasanya ngomong bgini "ah teknik mah cuma belajar begitu2an doang, rumusnya gampang tinggal pake ga perlu di turunin pantas aja IPnya pada bagus, ternyata emang kuliah di jurusan Fisika paling susah."

SBM gw ga terlalu tau, yg ini mahasiswa High Class

SR tipe orang2 cuek dan idealismenya beda2, di usir dosen dari kelas juga ga nolak, penampilannya unik-unik, orang2nya kreatif, klo masalah seni ga d ragukan, sering membanding2kan fakultas teknik ama mereka (Hahaha...)

Kritikan terhadap anak ITB mungkin bisa dipertimbangkan untuk bahan introspeksi diri, tapi tentu saya ini hanya sebatas opini, mungkin anak2 ITB yg lain udh pada punya pandangan sendiri, klo non-ITB silahkan bergaul dgn kami klo perlu kuliah juga di sini rasakan atmosfer yg berbeda dari kampus lain dan jurusan lain, baru bisa menilai dan jangan mudah terhasut oleh opini2 publik

Anonymous said...

Kok yang bikin mobil lulusan SMK????? Bukan sekolah teknik?????? Loh????????? Lohh?????? Kebanyakan mikir sih ya :)))))))

Sekolah di sekolah bagus belum tentu bisa lebih sukses. Makanya jangan memandang rendah orang lain, kalo kebanyakan ngomong didahuluin tuh sama yang bertindak duluan :)

Tortuga Husada said...

Melihat dunia itu bukan dengan sebelah mata atau hanya dengan sebelah hati, kadang kala kita butuh pengertian totalitas untuk memahaminya. Kenyataan memang pahit, tapi ketika memang kita paham dan menyadari apa yang terjadi itu memang demikian kita harus punya keinginan untuk bisa merubah anggapan itu. Mulailah dari diri sendiri Kawan-kawanku. Buatlah diri kalian keluar dari kriteria yang orang ini katakan.

Lulusan ITB juga manusia dan manusiah bukan hanya bisa melakukan kesalahan tetapi juga bisa mengoreksinya. Seperti halnya ketika kita mendapati nilai-nilai kita yang kurang pada fase sebelumnya secara otomatis kita ingin mengkoreksinya karena kita tahu salahnya dimana.

Orang-oran di ITB memang orang tekhnik, tapi mereka bukan robot.

^_^, Bangkit dan buktikan pada Dunia! Sangat cukup dibandingkan harus menyudutkan orang-orang yang sebenarnya hendak memperbaiki kita.

Anonymous said...

coba lebih di spesifikan lagi berapa % yang sombong dan berapa % yang tidak sombong. biar kita tahu apa yang di kritik ini betul2 akurat atau tidaknya menjurus ke generalisasi. saya fikir ini hanya sebuah kesenjangan kebudayaan yang menilai sombong tidaknya seseorang atau bahkan kalangan. coba lihat dari berbagai sisi.

Anonymous said...

Satrio, menyesal saya baca tulisan anda. Sempit dan tendensius.*ocean-observer*

Anonymous said...

1540505(sekian),komentar anda mengenai majikan dan babu sangat tidak dewasa tidak berbobot dan tidak membangun. Saya yakin kampus tidak mengajarkan anda untuk berkata demikian.
Terima kasih untuk pemilik blog untuk infonya

Anonymous said...

ini membuktikan bahwa itb memang hebat !!

Anonymous said...

liat komen-komen dari anak ITB, arogan kan ? yah memang sudah terbukti kesombongannya.

saya juga pernah lihat di forum umum, kebetulan topiknya tentang ITB yang didemo gara-gara gak ikut demo..ternyata komen-komen dari anak ITB juga rata-rata arogan, bahkan sampai menjelek-jelekkan kampus lain. betapa malunya saya melihat tindakan tersebut.

btw, saya juga mahasiswa ITB.

ardian_ace said...

nice share bro..

gw suka tulisan ini, beneran deh, buat introspeksi diri..

Anonymous said...

kalo menurut saya, disitu kan case nya lagi wawancara kerja ya wajar dong mengutarakan prestasi toh emang kenyataannya seeprti itu. Masa ditanya kekuatan kamu apa dan kelebihan kamu apa dibanding orang lain mau jawab... " ah saya mah biasa biasa aja ga bisa apa-apa.. bla bla bla" gak mungkin kan? so menurut saya sang penulis terlalu bernegative thinking dan justru mengeneralisasi. Memang ada orang-orang seperti itu tapi tidak semua. Toh memang ketika di perusahaan kami juga bisa membantu perusahaan. Salam

asep said...

itulah problem terbesar alumni kampus-kampus besar. padahal nama besar kampus tidak menjamin seseorang bisa jadi orang besar.

Anonymous said...

Karena idealisme adalah kemewahan terakhir yang dimiliki oleh kaum muda, mungkin karena mahasiswa itb jarang membuat acara yang untuk orang-orang luar dan kebanyakan acara internal maka sepertinya idealisme mahasiswa ITB sangatlah kental.

tapi tolong jangan lupakan orang lain. yakin anda bisa bertahan sendirian di dunia ini? kan tidak mungkin. kau pasti hidup dan bekerja bersama. maka cobalah membaur jangan mengekslusifkan diri anda.

karena memang dari omongan dari congor para pemberi pekerjaan sendiri yang berkata bahwa mahasiswa ITB seperti yang tertulis di blog ini. true story bro

harji said...

Tulisan yang sangat bermanfaat..kritik yang sangat membangun... kesombongan sama sekali tidak ada gunanya...kecuali dalam perang..(hehe biar lawan takut duluan, trus mereka menyerah jadi gak usah ada pertumpahan darah).. sifat narcissme memang sangat kental di lingkungan kampus ini.. samasekali bukan teladan yang baik..sangat tidak bermanfaat.. apalagi untuk membangun fondasi kerjasama tim..

Anonymous said...

Terkadang arogansi itu dibutuhkan kok, tapi hrs tau tempat dan situasi pemakaiannya.

-Salam dari Kampus Tetangga

didin hasan said...

kira-kira 55 persen memang begitu.
45 persen gak begitu.
Ya secara demokratis benar lah.

Mahasiswa Tingkat Akhir said...

Kepada pemilik blog yang memposting tulisan ini tolong sampaikan komentar dan permintaan saya ini kepada Bapak Satrio Madigondo.

Saya adalah mahasiswa ITB tingkat akhir yang sedang menyelesaikan Tugas Akhir.
terus terang saya kecewa dan sakit hati dengan tulisan ini. Jauh-jauh sebelum beliau maksud saya, Bapak Satrio lahir pendahulu-pendahulu ITB sudah membangun dan menjaga baik kualitas maupun kuantitas didikannya.
kalau Bapak Satrio yang terhormat dan tidak sombong ingin mengkritik, mbok ya datang langsung ke ITB. Temui kami sebagai mahasiswa ataupun pejabat-pejabat ITB agar berbenah. Bukan main belakang lewat tulisan yang kami sendiri pun tahu secara tidak langsung lewat blog ini.
Kalau memang maksudnya ingin membangun kenapa tidak langsung datang ke institusi kami? mudah-mudahan Bapak Satrio yang bijak hanya salah caranya sedangkan niatnya baik.
Bapak Satrio yang entah saya belum pernah bertemu dengan Bapak, jika ada orang yang Anda tidak suka dengan perilakunya langsung saja bilang ke orangnya.
Jangan langsung liat dia dari institusi apa, dan mendakwa institusinya kasihan nasib pihak-pihak yang tidak tahu apa-apa tentang kesalahan orang tersebut(ini hanya saran).
Ini namanya Ghibah golongan, Pak. Bayangkan berapa jumlah lulusan ataupun orang yang memiliki keterkaitan dengan ITB rusak kredibilitasnya di mata pembaca yang pemikirannya menjadi negatif setelah membaca tulisan Bapak.

Sakit hati saya Pak. Tapi doa saya yang baik-baik untuk Bapak, agar lebih bijak dalam mengkritik.
Kalau Bapak benar-benar ingin menyelesaikan urusan ini secara duniawi, saya tidak akan menuntut Bapak ke pengadilan.
Saya hanya ingin pemohonan permintaan maaf Bapak lewat tulisan Bapak dan ucapan kiriman permintaan maaf lewat karangan bungan ke ITB paling lambat bulan Januari ini.

Jika tidak mungkin saya atau mungkin kami dari ITB akan memperkarakannya di pengadilan akhirat kelak.

sekali lagi kalau memang saya salah kepada Bapak sebelum-sebelumnya hukum saya langsung dengan yang setimpal.
Jika saya pernah memukul Bapak, silakan pukullah saya.
Jika saya pernah membunuh keluarga Bapak, silakan bunuh saya.
Tapi tolong jangan Bapak bawa-bawa almamater yang saya perjuangkan ini dari awal saya lulus sampai tingkat akhir ini.
Kritik boleh tapi coba katakan langsung kepada pihak yang bersangkutan agar tepat sasaran dan membangun.
Salam, semoga Bapak Satrio Madigondo mendapat perlindunganNya selalu.

Ichal Viking said...

Kalo Ane sih usul buat para head hunter itu ga usah nerima lulusan ITB. Kalo bisa ITB itu di blacklist buat semua head hunter. Biar pada cari kerja ke luar negeri jadi TKI bawa devisa buat Indonesia.

Atau sekalian jadi pengusaha buka lapangan pekerjaan buat lulusan universitas lainnya hehehe...

Regards,
Alumni-ITB

Pelajar Indonesia said...

setelah mebaca banyak komentar diatas..
dengan kata "mana datanya? "harusnya di dukung dengan data.",dan dengan berbagai kata sejenis..
menurut saya untuk hal-hal seperti ini yang bertujuan hanya mungkin memberi tambahan sudut pandang tidak harus disertai data,penulis menceritakan pengalaman,bukan sedang menulis karya ilmiah.

rita said...

Suami Saya anak ITB, Pada dasarnya orangnya baik hati, ramah, dan tidak sombong hehe.. tapiii.............. jujur kalo sudah berbicara tentang kampus/ Almamaternya, terutama dalam acara temu alumni.... kayaknya emang rada sombong dech.. maksudnya kesannya seperti di kampus lain(terutama swasta) ga ada anak2 yg lebih pintar dan lebih berpikiran maju drpd ITB. kayanya ITB Singkatan "IS The Best" Kali ya... Saya yang istrinya aja bisa jenuh, males n kesel, walaupun bangga juga dia lulusan ITB. apalagi org lain. tapi banyak kok temen2 saya yg SMAnya jauh lebih pinter ga lulus PTN, yang biasa2 aja malah masuk.. jadi.. anak ITB jgn terlalu sombong lah...

JoJo said...

jangan-jangan tulisan ini hanya fiktif belaka, kesamaan nama dan tempat hanyalah sebuah kebetulan.....
hehehehehe

alumni ITB 2007 said...

saya baru lulus dari ITB

sebenernya pada baca sungguh-sungguh ga ya sebelum di share. kayanya tulisan ini kan ngetop banget di FB. saya sampai penasaran ini tentang apa. Setelah saya baca ternyata pendapat orang luar tentang ITB. Wah, bagus kan memulai komunikasi. Katanya ITB mau berinteraksi dengan masyarakat kan.

Tapi setelah baca komentarnya, saya justru jadi ragu. Benar kalian sudah menjalani kaderisasi dengan baik? Kenapa harus menyalahkan redaksi dan metode sang penulis? Kita bisa dengan cepat menemukan inti dari tulisan ini. "jangan sampai anggapan-anggapan (ITB begitu, UI begitu, UGM begitu) itu terjadi" kenapa harus mempermasalahkan yang lain? Sama seperti materi dalam kaderisasi ini juga jadi bahan pemikiran, bukan untuk berdebat tanpa mau mendengar pendapat lawan. Itu namanya pembelaan diri, atau lebih sering disebut pembenaran.

Refleksi diri lah. Kita diberitahu orang lain sesuatu yang belum kita sadari, jangan tersinggung donk. itu untuk jadi lebih baik! Untuk Indonesia yang lebih baik! *merdeka

Anonymous said...

"Kuliah dimana-mana ya berat. Kalo ringan namanya kentut, bukan kuliah".

Setuju sama anon :) Kuliah dimana2 mah berat, masing2 punya porsi sendiri2. Setinggi apapun ilmu seseorang, saya kehilangan respek kalau ilmunya dibangga-banggakan. Teman saya di ITB juga cenderung berada di stereotype ini, tapi ya saya tidak bermaksud mengeneralisasi. Kuliah di salah satu Univ ternama di Jawa saja saya sudah syukur, gan.

Lebih baik pikiran melangit dengan hati yang membumi. Jika dengan tingkat pede yang hampir seperti sombong begitu, mending hidup di Eropa atau Amrik aja, insyallah lebih dianggap wajar :)

wonganeh said...

rame euy...
jujur, tulisan di atas bikin saya tersenyum :)

Anonymous said...

Saya adalah mahasiswa ITB tahun kedua.

Opini saya secara umum:
- Setuju dengan tulisan diatas.
- Selama berinteraksi dengan mahasiswa ITB dari berbagai jurusan dan tingkat, memang tercium bau "kesombongan".Indikasinya: Pada mahasiswa tahun pertama, biasanya anak-anak yang cukup berprestasi di SMA, agak sulit menerima pendapat orang lain. Pada mahasiswa yang sudah masuk himpunan, saya mendapati kecenderungan "menyerang" pendapat orang lain saat berada dalam diskusi.

Maaf jika ada yang tidak berkenan, tapi begitulah yang saya rasakan,.

Anonymous said...

"Makin tinggi pohon, makin kencang pula angin yang menerpa"

gw bilang itu dibilang sombong?
bilang kaya gitu ke orang yang bikin pepatah itu sob

Anonymous said...

hahahaha.,
sorry ya., emang gitu, ada yang sebagian menerima ada yang sebagian bercuap cuap ria tidak terima., dan anehnya., semakin terlihat kalo emang kaku banget dan bebal., padahal di kampus gak ngapa-ngapain., beberapa orang aja yang action., himpunan juga sepi, klo di hipunan paling banter maen kartu., klo nge kaji paling bentar trz maen pingpong klo gak ya kartu lagi., waktu di osjur di suruh ontime., waktu udah masuk., eh masih aja nelat n lelet., hahahhaaha

Anonymous said...

like this yo...

rahasia said...

diem lo semua! ga usah banyak bacot, mending nge "doom" sini sama gw.

Lulusan ITB yang rendah hati dan tidak sombong said...

Terima kasih Pak Satrio atas artikelnya...Menarik sekali.....Saya Lulusan ITB dan sekarang jadi GM di sebuah perusahaan manufacturing indonesia, tapi saya selalu rendah hati dan tidak sombong karena sejak SD hingga di ITB saya selalu ikut Pramuka.....

mazhar said...

ane anak ITB, secara pribadi nda merasa demikian pada diri sndiri dan lingkungan bergaul ane di ganesha,,,oke oke sajah,,,ini yg ane rasakan ya

yg bikin ini survey bnr2 'apes' kyknya ketemu yg karakternya kyk gitu,haha

dewi sri said...

Nimbrung...
Saya alumni Informatika 9X, wiraswasta. Sekedar berbagi ilustrasi cerita. Silakan diinterpretasikan sendiri mengenai apa rasanya jadi anak ITB.

Ilustrasi 1:
Kapan hari ada cerita dari 3 mahasiswa/i ITB bahwa mereka bingung ketika merangkul teman2 SMA (skrng kuliah di Perguruan Tinggi lain) utk membuat 1 kegiatan bersama di daerah asal. Teman2 dari PT lain tsb seperti enggan utk berbaur. Padahal anak2 ITB ini ingin dianggap sama saja dengan yg lain, dan bersikap biasa saja seperti jaman SMA dulu. Sejauh ini berdasarkan diskusi kami, kemungkinan alasannya adalah:
- nama ITB yang "terdengar" besar di luar sana itu sudah menciptakan benteng pemisah
- teman2 ini merasa "minder" seolah merasa kurang pantas berdekatan dengan anak ITB
>> Batin anak ITB? "Biasa sajalah dlm memandangku. Aku masih seperti yang dulu... butuh makan minum tidur duit... dan ke WC... Mau ujian jg belajarnya kejar semalam sebelumnya... Kuliah jg belum tentu lulus..."

Ilustrasi 2:
Alumni ITB itu kalau sukses, dibilang "halah... wajar saja dia begitu... dia kan anak ITB"
Alumni ITB itu kalau belum sukses atau tidak terlihat sukses, dibilang "gimana sih... anak ITB kok cuma begitu2 saja?"
Seorang alumni bercerita ketika dia punya toko komputer, komentar orang pun "orang ITB kok cuma jual komputer...?"
>> Batin anak ITB? "Mau sukses atau ga sukses... komentar yg datang selalu membikin serba salah dan ga ada bagus2nya. Kenapa kalau ITB dituntut mesti harus "lebih" dari yg lainnya?"

TANGGAPAN UTK TULISAN PAK SATRIO:
kalau dibilang anak ITB sombong: Mungkin lebih nyaman didengar "Saya pernah beberapa kali ketemu anak ITB yg sombong". Tapi kalau mengenai PD, maka boleh lah dibilang "sebagian besar anak ITB sangat PD".

Kalau dibilang anak ITB suka bermimpi besar:
Sebenarnya,siapa saja boleh berpikir besar. Bahkan berpikir besar itu wajib kalau kita baca buku2 motivasi. Nah, bahwa anak ITB suka bermimpi besar, rasanya wajar saja. Apa yang masuk ke otak anak ITB (saya tidak bisa sebut angka berapa bnyk) memang menginspirasi dan mendorong si pemilik otak utk menjadi berpikir dan berbuat hal besar utk bangsa & negara. Dosen-dosennya dipinjam sekian tahun ke pusat sebagai staf ahli, deputi, dirjen, dll utk kepentingan bangsa (idealisme-nya sih begitu) sehingga diskusi dengan dosen sering masuk ke cakupan yg luas yaitu Indonesia tercinta, bahkan kancah internasional karena tidak jarang menjadi duta/perwakilan/peserta di kegiatan berskala internasional. Project2 yang dikerjakan baik yg berupa riset ataupun komersiil juga bermuatan kebangsaan. Belum lagi dari isinya Salam Ganesha yg diseru2kan saat orientasi mahasiswa baru jg sudah menggambarkan apa semangat yg terkandung di dalamnya "Salam Ganesha... Untukmu... Demi Tuhan, Bangsa & Alamamater... Merdeka". Jadi teringat bahwa Bung Karno Sang Proklamator juga lulusan ITB. Otomatis semangat kebangsaan untuk menjadi garda depan memajukan negeri ini terasa sekali mengalir di generasi penerusnya.

Sejauh ini, pendapat saya sebagai orang dalam begitu. Terima kasih utk yg mengkritik. Kritik itu memang tepat bila ditujukan pada yg bersangkutan (orang2 yg pernah diinterview). Saya sendiri berterima kasih pada ITB, negara, dan rakyat Indonesia atas akses&fasilitas pendidikan yg diberikan pada saya. Waktu itu ITB msh disubsidi uang negara. Jadi sudah sepatutnya kita yang mendapatkan subsidi dari negara berkewajiban moral utk berbuat sesuatu utk kebaikan bangsa ini. Mohon doa restunya.....

dewi sri said...

[RALAT] Salam Ganesha yg benar :: " SALAM GANESHA! BAKTI KAMI UNTUKMU, TUHAN, BANGSA, DAN ALMAMATER! MERDEKA!!!!! ". Maklum, sudah belasan tahun lalu menyuarakannya hehehe

Anonymous said...

Walaupun sudah alumnus nacissus saya masih anak baik-baik dan kalem kok kakak-kakak. :P.



Salam,

I Putu Pria Dharma A.
IMG05050.

Ridwan Fadil Arif said...

mudah-mudahan saja ini tidak bnar... saya yg masih siswa SMA yang ingin melanjutkan kuliah di ITB merasa ngeri dengan tulisan ini... sekali lagi, mudah2n ini tidak benar...

Return to My Blogg said...

Mungkin tulisan ini pro kontra. Tapi yang paling penting, biarlah calon mahasiswa tahun ini memilih, apakah mereka akan masuk ITB, UI, UGM, dan sebagainya. Semua tergantung orangnya masing-masing, apakah dia bisa membawa diri di lingkungan baru atau tidak.

Anonymous said...

Sengaja yah bikin pro dan kontra :) Seperti penyiar salah satu stasiun TV saja (sengaja panas2in biar seru dan menarik)

Anonymous said...

Abang Saya dari ITB, Kakak saya juga..tapi kalau ditanya sama saudara2 dan tamu yang dateng ke rumah selalu bilang pernah kuliah di Bandung aja tuh...nggk pernah bilang di ITB loh...malah saya yg suka bilang Abang saya dan kakak kuliah di ITB loh...:)

Kayaknya itu mah personal aja kali yah...:)

Anonymous said...

hahahaha..bener bener.. selama kuliah di itb, banyak sekali yang peduli dan support untuk mahasiswa "tertinggal" baik dari dosen ataupun dari teman seangkatan.bahkan teman yang tidak dekat pun pasti ikut membantu.di PT yang lain blm tentu bisa seperti itu.

Anonymous said...

Dear all lulusan ITB,

Memang bukan semua lulusan ITB sombong, tapi majoritas (u know what i mean?).

saya pernah kenalan dengan satu orang ITB (namanya A). pertanyaan pertama A setelah kenalan adalah lulusan mana?

Dan dari body languagenya sepertinya dia menanyakan pertanyaan itu dengan harapan saya bertanya balik dia itu lulusan mana, mungkin mau pamer lulusan ITB kali yah?

Sayang sekali, dia salah alamat, saya lulusan bachelor luar negeri (yang banyak bule) + sarjana lulusan dalam negeri..alias 2 gelar..ga usah di sebutin negaranya lah ntr di kata pamer lagi..

Jadi kira2 begini dialognya:

Gw: Halo, nama saya...
A: Halo, A. Lulusan mana? (muka cerah cengar cengir)
Gw: [Negara Bule] + [uni lokal]..jurusan x and y
A: ......(senyum menghilang, digantikan muka frown)
Gw: Lulusan mana? Kek nya anak ITB yah?-> padahal gw asal tebak aja sih soalnya si A kerjany di bidang teknik
A: Iya (muka tanpa ekspresi)
Gw: Wah hebat yah...(hehe muji dikit lah kan emang itu harapan si A)

Sekilas kesan gw tentang anak ITB..

Salam.

Anonymous said...

Pendapat yang aneh atas sebuah kritikan/pengalaman...
Mendapat kritikan tidak harus mengcounter apa yg esensi dr kritik tsb. Sangat jelas setelah membaca beberapa komentar yg notabene anak itb, jd sebuah pembenaran atas sikap "sombong" lulusan itb. Ini baru komentar di dunia maya, apalagi kalau di dunia nyata.

Saya pernah beberapa kali menginterview anak itb, dari test tertulis tidak bisa dipungkiri bahwa hasilnya memuaskan, akan tetapi saat interview sangat terlihat sekali sikap berlebihannya. Saya tidak mengeneralisir, tetapi saya utarakan yang saya alami saat proses recruitment.

Anonymous said...

Lihatlah dalam diri kita disaat menerima penilaian dari org lain, janganlah langsung menolak mentah2..
bila itu memang bnar toh itu bsa buat introspeksi diri, jika memang salah buktikan dengan tindakan (bukan skedar kata2)..

gak usah saling menyalahkan, Indonesia masih jauh dari "maju", dan kita adlah generasi2 selanjutnya..

Anonymous said...

baru baca! aha.. dapat wangsitt.. ahahaha...

kritikan tentang cap sombong anak2 ITB emank sering terlontar dari berbagai kalangan, terutama mahasiswa universitas lain. Mungkin sebuah itu berasal dari pengalaman mereka sendiri ketika berhadapan dengan senior2 saya. Walau memang itu tidak bisa dianggap berlaku umum tapi rasanya tidak salah juga itu jadi pembicaraan yang (Terlalu) hangat.

Saya tidak menyangkal kalau kenyataannya memang ada mahasiswa yang bisa dibilang sombong tapi saya juga setuju dengan teman-teman lain yang mengatakan tulisan ini kurang data yang jelas, mengingat ini bukan persoalan personal.

dan kalau pendapat saya, tulisan ini tidak sepenuhnya benar. Saya mahasiswa yang berasal dari daerah dan ketika di ITB saya mempunyai teman-teman baru yang saya kenal di kampus. Mereka semua luar biasa, dengan IP sempurna dan kecerdasan di atas rata-rata. Tapi mereka tidak sombong, kaku, ataupun narsis. Mereka bahkan terkesan menutupi nilai itu. Mereka juga bisa bertingkah 'autis' dan sangat cerewet. Mereka juga tidak kaku dan selalu terpaku pada buku.

Anonymous said...

ngeliat dari yang komen2 disini,

keliatan banget anak2 IB yg komen tu pada gak bisa nerima kritik

mungkin udah terlampau sombong kali yah sehingga merasa dirinya paling benar

liat aja di himpunan2nya, keliatan banget semua mementingkan dirinya masing2

temannya yang gk aktif di himpunan biasanya jadi korban keegoisan mereka

udah gitu pake nama anonymous lagi biar gk ketauan siapa identitas aslinya

kenapa mas? gak berani mempertanggung jawabkan komentarnya ya?

sama dong saya juga, saya kan anak ITB juga. hahaha.

adhie said...

si mas nya 4 thn penelitian kayaknya gak bermanfaat deh!! artinya kalau anda sebagai rekruter itu jelas anda harus keep rapat2 data calon karyawan anda, eh ini malah di umbar di media internet kayak begini oia mas satrio, "lain ladang lain belalang", walaupun itu pribahasa agak2 klise tp emang itu adanya, wajar lah kalu dari "the Big three" punya karakter yang berbeda lagian mas satrio nya nya emang pernah sekolah di salah satu kampus yang disebutkan di atas atau udah 33 nya malah dicobain,,dan kata siapa anak UI fleksibel, anak UGM lugu, dan ITB sombong,, coba tolong hargai kami para rakyat Indonesia yang telah berusaha belajar sebaik mungkin demi menggapai cita2, dan penuh dukungan Do'a para Orang Tua kami yang ingin melihat keturunannya hidup lebih baik, btw mas satrionya sadar gak justru anda sendiri yang membuat tulisan seperti ini berasa "ter-generelisasi" dan dari contoh anak yang dapet nilai kimia 100 itu yah berarti itu cm 1 orang dr 1400 orang kan menurut cerita mas nya di atas, jd logikanya gmn mas satrio??? perbandingannya gmn??? masih banyak anak2 kampus terbaik negeri ini yang berprilaku "sehat".

NB: kayaknya bakal seru kalu si penulis (a.k.a head hunter itu di ajak discuss di mari)

hatur nuhun ah udah nimbrung di forum kampus Ganesha

salam mahasiswa Kampus Depok

Tori said...

hahaha, halo mahasiswa kampus sebelah :p

Prambudi Tri Laksono said...

ikut komen dahhh.. cupu hihihi.. by prambuditri.blogspot.com

IFAN AKHMAD FAUZY'S BLOG said...

yaaah intropeksi aja lah buat semuanya... !

Anonymous said...

hha ditunggu kritiknya yang lain ya mas, biar kita banyak belajar.
hatur nuhun
(sombong itu pilihan, ga semua orang bisa sombong)
hahahahahaha

teguh purnama said...

hehehe. gk nahan pengen komen.
sama persis dengan yang istri saya bilang.
:D

mahasiswa FTI 2012 said...

saya kebetulan mahasiswa baru FTI ITB,katanya di FTI tuh orang orangnya pada sombong ya?,soalnya alumni SMA saya yang skrng di FTI sikapnya agak membanggakan diri gitu

mahasiswa FTI 2012 said...

@adhie bener banget,artikelnya terlihat opini ,bukan penelitian real

Anonymous said...

anda sekarang jadi apa mas/mba??

Tori said...

^GUE SEKARANG MAHASISWA ITB

Introspeksidiri said...

Saya kira betul atas komen diatas, ini sebagai bahan introspeksi diri kita baik sebagai mahasiswa ITB atau bukan. Jika itu observasi ataupun opini layaknya tetap kita hargai sebagai ungkapan atas menjalin komunikasi dg beberapa alumni ITB. Jika mgkn ada mahasiswa atau alumni yg kurang percaya atas ungkapan tersebut *tentunya introspeksi dulu mungkin bisa menelaah kondisi perkuliahan dsana seperti apa. Kebanggaan atas almamater saya yakin itu pasti ditanamkan pada semua universitas/institut, yang tentunya didukung atas kualitas lulusannya. dan kebanggaan tersebut jika diperbandingkan dengan nilai kebanggaan almamater universitas/institut lainnya *swasta sekalipun tentunya akan membuat kebanggaan itu sebagai ego yg sulit dikendalikan dan dicari alasannya. mungkin ini bisa membawa pribadi seseorang "termotivasi" untuk sombong. perihal sistem perkuliahan juga bisa membawa kearah persaingan yang tidak terkontrol, menciptakan manusia2 yang sombong.

Oleh karena itu kita introspeksi saja, toh InsyaAllah nanti kita semua pny keturunan, dan tidak ingin keturunan kita menjadi orang2 yang sombong, bukan?

sekarang Biaya Pendidikan semakin tinggi, ini juga bisa menjadi ancaman semakin meningkatnya Narcisius di negara kita. "Jangan Merasa Bisa Tapi Bisalah Merasa".

Edward Cantona Taufan said...

wah, menarik juga nih. Saya baru saja masuk ke dunia perkuliahan... Masih "Calon Mahasiswa Baru"

Saya tahun ini ditolak ITB 2x dan akhirnya nyangkut juga {setelah hampir gak kuliah} di Undip... Memang bukan 3 besar yg disebutkan diatas, tapi setelah membaca artikel ini jadi yakin bahwa ITB bukan kampus yang baik Buat tipe orang kayak saya. tapi tetep sih tahun depan mau coba lagi, ingin rasanya naklukin gajah duduk ini.

Mungkin memang sebagian alumninya seperti itu ya... tapi banyak dari saudara dan kerabat2 saya yang kebetulan alumni ITB juga, mereka tetap rendah hati kok, mungkin dalam beberapa kesempatan mereka memang arogan karena itu suatu keperluan, tapi dalam kesehariannya mereka tetap down to earth.

Beberapa hari yang lalu saya main ke daerah ITB, di masjid Salman tepatnya dan bertemu teman-teman yang keterima di sana, mereka tetap rendah hati kok, bahkan mereka menyemangati saya yang belum punya kampus ketika itu, saya bahkan diberi pelukan erat oleh salah seorang sahabat dan itu sangat mengharukan sekali...

Tapi memang saya lihat (maaf no offense ya, hanya melihat sekilas saja dari kelakuannya) udah ada beberapa bibit2 mahasiswa baru yang songong dan keliatannya ngeremehin banget orang luar, dan ngomongnya (maaf no SARA bukan bawa2 daerah ya, saya orang Bandung) lo-gue, ya taulah kalo mahasiswa baru selain dari DKI dan Jabotabek mungkin belum biasa ngomong gitu, jadi hampir bisa dipastikan itu anak-anak ibukota yang dulu SMA-nya juga di SMA yang wah.

Kalo dulu, orang yang bikin besar nama almamaternya, sekarang sebaliknya, gengsi udah menguasai orang sehingga orang2 ngebet ingin punya almamater yang sudah besar. Alangkah baiknya mereka mengikuti jejak para pendahulu mereka yang membuat ITB jadi besar

Terimakasih pak Satrio dan yang punya blog ini, anda juga mahasiswa ITB kan? Selamat karena anda menurut saya telah down to earth dengan berani mem-publish artikel ini.

Sekali lagi maaf, ini gak nyinggung kedaerahan atau apapun ya, hanya opini dari anak remaja yang masih hijau, dan Insya Allah peduli akan perkembangan bangsa ini.
jayalah Indonesiaku! Gak peduli mau lulusan manapun harus bisa bersatu membangun negeri ini

Anonymous said...

Setelah baca banyak komen diatas... SEE, anak itb terbukti tidak bisa menerima kritikan kan? Buktinya mereka langsung bersikap defensif dan denial dengan kritik diatas. Padahal kalau mereka beneran "Smart" dan sangat intelek, coba dong disikapi secara SMART juga, dan berpikiran positif dengan adanya kritik ini. Saya banyak teman anak itb, yg sebetulnya kalau di lingkungan kampusnya mereka bukan siapa2... Dan bisa dibilang bukan anak gaul, tapi ketika mereka sharing tentang perkuliahan, idealisme yg berlebihan, sombongnya keluar cyiiin.. Mereka tidak tahu berbicara dengan siapa, berteman dengan siapa.. Saya juga lulusan salah satu universitas terbaik di Indonesia. Tapi karena dulu ada mata kuliah Etika, maka saya bisa menyimpulkan teman2 saya ini kurang ada asupan Etika di dalan cara bersosialisanya. Buktinya, teman saya yg itb itu, semenjak dia lulus sampai sekarang which is sudah 3 tahun lebih, masih betah aja booow di perusahaan tmp dia bekerja, begitu saya tanya kenapa tidak coba cari pengalaman baru si tempat lain. Dia blg, mau sampai pensiun disitu, dan ada beberapa orang yg alasannya sama seperti dia. Itu menandakan mereka tdk bisa keluar dari comfort zone karena ideilasime yg terlalu tinggi dan seperti memakai kacamata kuda, tidak siap bila keluar dari comfort zone dan masuk ke lingkungan baru. Jadi, ga usah reaktif lah dengan kritik diatas, coba introspeksi diri aja, yang menilai diri kita itu orang lain, bukan diri sendiri. Jadi ga usah pake marah2 komennya, think SMART, act SMART. Dan sepertinya para alumni yg songong ini harus sekolah kepribadian di John Robert Power deh biar tau bagaimana cara bersikap(apalagi ketika interview) .. Sekian comment dari saya.

Anonymous said...

Think SMART, act SMART dong.. Katanya pinteeeerrr? Kok ga bisa terima kritik sih? Ga usah sok idealis deh, jadi keliatan banget songongnya. Ga usah defensif dan reaktif kalau dikritik.. SEE, keliatan banget ya attitudenya.. Sepertinya para alumni yang sombong ini harus sekolah kepribadian di John Robert Power deh. Biar tau bagaimana cara bersikap apalagi ketika interview, dan menghadapi dunia kerja yang keras. Jangan terlena dengan kepintaran kalian, ingat diatas langit masih ada langit. Jangan berasa ekslusif dan berasa pakai kacamata kuda, itu menandakan para mahasiswa yang tidak terima kritikan itu berpikiran sempit. Kalau memang ngerasa pinter, just show ur capability in a SMART way..

Anonymous said...

gw suka gaya lu bung...yihaaaa....!!!!!

Anonymous said...

baca komentar dari atas sampe bawah.....seru juga yah...hihihihi...
kaya lagi nonton debat di salah satu TV hahahaha....
yah yang pasti kita intropeksi sama2...baik penulis,yang copas,yang komen sama anak2 ITB yang
merasa tersinggung sama opini di atas...
gimana indonesiah mau maju kalo masalah gini aja ributttttttt.....:)

Anonymous said...

Makanya UI lah yang fleksible ....

Anonymous said...

ITB = institut tambal ban

Anonymous said...

Kesal sekali rasanya membaca tulisan dari orang-orang yang mengelak dari tuduhan bahwa lulusan ITB sombong. Dosennya saja sudah mengakui melalui komentar pada artikel ini. Bukankah lebih baik dijadikan bahan untuk introspeksi diri?

Anonymous said...

ya ini namanya kritik yang membangun bego

Ahmad Rifki A said...

nah, aku setuju nih

Warastuti said...

Ahzegh! rameee :D

Mas Satrio belum ketemu sayah sih.. Sayah alumni itb tapi suka bingung kalo disuruh menjabarkan prestasi, IPK juga pas-pasan. Mau nglamar KPK jadi ga lolos-lolos. Kalah sama anak swasta yang IPK-nya ajegile.

Terima kasih, Mas atas pandangannya. Ada benarnya kok. Kalau saya, karena bukan rekruiter heheheh, melihat fenomena ini di angkatan yang tua-tua. Kalo mau ada pemilihan menteri/presiden.. pasti muncul wacana "calonnya kalo bisa itebek dong!" Sesuatu yang sumpah basi banget, karena sudah cukup banyak politisi busuk berasal dari kampus gajah.

Kebetulan saya bekerja pada orang asing yang nggak mandang almamater. Bahkan mungkin dia nggak tahu betapa OKE-nya ITB. Saya juga kudu 'legowo' bekerja dengan teman-teman alumni universitas swasta (yang kadang sotoy juga, bikin pengen mites!) dan bahkan bersama teman-teman yang secara track record almamater (belum tentu secara pribadi ya :) ) jauh di bawah kita untuk jabatan yang sama. Ini kadang menyiksa, tapi sekaligus memberi pelajaran berharga buat saya. Anak-anak dari kampus mana pun harus tahu bahwa di dunia kerja seseorang digaji nggak berdasar almamater :P

Saya pernah verifikasi data calon karyawan, lulusan ITB, cum laude se-cumlaude2-nya, tapi ya... karena hidup itu masalah proses & seleksi alam, orang harus mau terus belajar, termasuk meniti karier di domain yang sama sekali berbeda, lebih kompleks dari kehidupan di kampus.


Anonymous said...

hahahahahah, i envy you. envy to everyone who enjoy their life.

TEKNIK UGM said...

Hahahahahaha.....

Sombong..??

Kenapa enggak.. asal berisi, berprestasi, menghasilkan, dan membanggakan... g masalah kan.. =)
sombong itu salah satu bentuk kepercayaan diri seseorang...

hanya saja dimana kita bisa meletakkan kesombongan itu yg perlu dipikirkan..

Anonymous said...

bro.. i tried to go humble during interviews, and look where i ended up. they say i don't sell myself good enough. guess haters will hate anyway...

Sheedy Pandjaitan the komodo dragon said...

sampai saat ini saya masih berfikir bahwa sombong atau overconfident itu positif. karena untuk hanya confident itu penghargaan saya untuk semua yang sudah saya capai, tapi untuk overconfident itu untuk saya memberi target tinggi untuk diri saya sebagai trigger untuk maju. jadi menurut saya overconfident itu positif dan artikel ini sebuah pengakuan pribadi penulis :D

Teddy Prasetiawan said...

Kenangan di ITB kadang membuat saya terlalu senang atau sering untuk menceritakannya ke orang lain. Dengan satu pandangan saja mungkin dapat menyimpulkan bahwa saya sombong. Ini dangkal. Ini Jeneralis. Tapi seringnya benar.

Selama di ITB saya merasa dibentuk menjadi seorang yang optimis. Dengan satu pandangan saja mungkin siapa pun berhak menyimpulkan bahwa saya sombong. Ini dangkal. Ini Jeneralis. Tapi sering juga benar. Toh yang menganalisis berkapasitas untuk itu.

Tetaplah senang dengan semua kenangan kalian selama di ITB dan tetaplah optimis dengan cita-cita kalian. Tidak ada yang
perlu diubah. Cuma butuh DISESUAIKAN.

Anonymous said...

ngajak damai tapi redaksi anda sendiri sarkastis -_-

Anonymous said...

eh sepupu gw di tekim angkatan 2010,ip tpb nya cuma 2.9 ko

Anonymous said...

Gw anak itb, gw gak sombong, cuma ganteng aja kok.

Anonymous said...

Pengamatan ini ga salah2 amat...memang begitu anak2 ITB. Suami saya alumni ITB, awalnya begitu,agak narsis...tapi sekarang sudah menyadari kenarsisannya. Anak saya masuk ITB hanya setahun, untung di DO, saya bersyukur karena saya melihat lingkungan mereka yang borju..Tetangga saya yang alumni ITB,masya Allah kalau bicara...tinggi2 banget, ga sesuai dengan kehidupannya. Terus...banyak juga kan alumni ITB yang stress, yg muluk2 kalo bicara,yah...seperti yang diungkap oleh saudara Satrio. Sepertinya kurikulum di ITB harus diselipkan dengan kuliah Agama yang lebih banyak lagi. Maaf ya ini pendapat saya yang sebenar2nya.

Anonymous said...

mau sombong atau mau rendah hati, yg penting gimana caranya pemerintah ngeliat potensi anak-anak indo yg pinter-pinter supaya lebih dihargain dinegaranya dibanding dinegara orang. udah lah masalah egoisme itu cuma bisa dibalikin kediri sendiri..mau nonjolin almamaternya atau mau nonjolin diri sbg orang indo yg capable utk bersaing didunia pekerjaan. masa lebih dihargain A**** M***** yg tenar di bidang entertain dibandingin para juara olimpiade science atau olimpiade ilmu2 laennya? jd saya ga aneh banyak para ilmuwan indo yg pinter2 pada kabur keluar.
Peace..love indonesia..

«Oldest ‹Older   1 – 200 of 265   Newer› Newest»