Sunday, March 8, 2015

Will

‘Woy bangun asu, udah jam 9 lewat ini’

Gue masih ngantuk banget saat Wahyu mencoba membangunkan gue dari tidur gue yang nyenyak. Gue berusaha membuka mata gue perlahan. Ada rasa perih yang muncul saat gue membuka mata gue karena gue emang baru tidur beberapa jam.

‘Lo tidur jam berapa nyet?’ Gue menjawab pertanyaan Wahyu dengan membuka tangan gue menunjukkan jumlah jari gue yang ada 5.

‘Jam 5?’ kata Wahyu. Gue cuma mengangguk kecil kemudian membungkus badan gue dengan selimut berusaha untuk melanjutkan tidur gue lagi.

***

Cerita ini bermula pada hari Jumat, 6 Maret 2015. Gue dateng ke Bandung untuk memberikan selamat kepada teman-teman gue yang baru saja mendapatkan gelar Sarjana Tekniknya sekalian mengambil beberapa barang gue yang masih ketinggalan di Bandung.

Setelah seharian di kampus untuk menyambut teman-teman gue yang selesai sidang akhirnya gue, Wahyu dan Alvin pun meluncur ke sebuah tempat makan di Jalan Veteran untuk makan malam sekalian traktiran ST si Wahyu.

Karena gue dan Alvin sudah gak punya kosan di Bandung, akhirnya kita sleep over di rumahnya Wahyu. Gue nyalain personal computer yang ada di kamarnya Wahyu dan gue memainkan sebuah game RPG offline sampai gue gak sadar udah adzan Subuh.

***
Gue masih berusaha buat tidur lagi sampai Alvin masuk ke kamar.

‘Ini si Tori tidur pagi anjir, Gue bangun jam setengah 5 buat ngecek hape terus dia masih di depan komputer.’ kata Alvin ke Wahyu. ‘Emang si tai ini sampah’ kata Wahyu.

‘Gak bisa tidur gue asu’ kata gue membela diri ‘Gak bisa tidur apa gak berusaha untuk bisa tidur lo.’ bales Wahyu. Tiba-tiba rasa kantuk gue hilang begitu aja mendengar perkataan Wahyu barusan.

Gue masih berada dalam balutan selimut gue saat gue menyadari, mungkinkah hal ini juga berlaku untuk kasus yang lain? move on misalnya.

Temen-temen gue banyak yang mengetahui hubungan gue dengan Lani (nama samaran). Kisah gue dengan Lani pernah gue ceritakan di blog gue tetapi udah gue hapus karena beberapa alasan. Temen-temen gue sering nanya ketika mereka ketemu sama gue lagi ‘Lo udah move on dari Lani, Tor?’ Gue selalu merespon pertanyaan mereka dengan sebuah anggukan sambil mengatakan ‘Udah kok.’ sambil tersenyum.

Padahal gue gak pernah bisa menyingkirkan dia dari pikiran gue sedetik pun, sampai saat ini. Gue lebih memilih untuk tidak membahas dia ke temen-temen gue dan menunjukkan sisi galau gue ke mereka, tapi gue lebih memilih untuk tersenyum setiap saat di depan temen-temen gue. Supaya mereka beranggapan bahwa gue udah baik-baik aja, meskipun sesungguhnya gue masih ‘hancur’ di dalam.

Disisi lain, gue selalu menjawab pertanyaan temen gue dengan ‘Gue udah move on dari dia kok’ karena gue berharap gue bisa termotivasi untuk melupakan dia. Tapi ternyata gue gak bisa.

Mungkin memang selama ini bukan gue yang gak bisa move on tetapi gue lebih memilih untuk gak berusaha buat move on.

Sunday, March 1, 2015

Bukan Sembarang Lagu.

I realize that someday in the future I will have trouble remembering this chant. So in that case, I just write it down here so I will never ever forget how it feels like to perform this chant with my fellow brother and sister in KMPN.

Ini bukan sembarang lagu
Lagu buat semua kawanku
Yang di depan yang di belakang
Yang di tengah dan di samping
Berbaris, menjadi satu

Satukan langkah derap dan tekadmu
Satukan semua jadi satu
Hambatan dan rintangan
Semua kami singkirkan
Tak satupun jadi penghalang

Lihatlah wahai semua isi dunia
Inilah kami KMPN
Penerbangan! Hati kami!
KMPN! Jiwa kami!

Jayalah jaya selama-lamanya!


Jakarta Convention Center, 1 December 2012.