Wednesday, January 4, 2012

Kata Mereka Tentang ITB


Ini artikel pendapat head-hunter tentang lulusan ITB. Saya mahasiswa ITB, dan saya sangat berterima kasih kepada Satrio Madigondo yang telah melakukan kritik terbuka seperti ini. Sebelumnya artikel ini isinya semua langsung saya COPAS dari status facebook teman saya, jadi ini bukan tulisan saya. Menurut saya artikel ini bukan untuk menjatuhkan kita para mahasiswa ITB, tapi justru malah membangun kita. awalnya juga saya sempat panas dengan artikel ini, siapi sih yang mau di kritik pedas macam ini. tapi setelah saya pikir-pikir ada benarnya juga tulisan dari bapak ini. menarik untuk disimak, silahkan dibaca.

"Love your haters, they are your biggest fans. Why? Because they always waste their times just for notice your every wrong move."

"Disclaimer:
Tulisan ini merupakan hasil observasi sebagai Rekruiter selama 4 tahun terakhir. Mohon jangan digeneralisasi. Kalau ada yang tersinggung, mohon maaf ya!



Adalah sebuah rahasia umum di mana terdapat berbagai tipe pekerja berdasarkan tempat belajarnya. Anak UGM dikenal lugu, tidak neko-neko, dan rendah hati. Anak UI dikenal fleksibel dan cepat belajar. Anak ITB dikenal sebagai 'pemikir makro', besar omong, dan kaku luar biasa. Apakah stereotipe ini benar adanya? Saya tidak berani mengamini dengan sepenuh hati karena belum melakukan penelitian secara ilmiah. Dari pengamatan yang saya lakukan selama rentang 4 tahun belakangan (dalam kapasitas sebagai head-hunter, pastinya), beberapa karakteristik dapat saya verifikasi. Anak UGM memang terbukti lugu, tidak ambisius; anak UI dengan fleksibilitasnya, dan anak ITB dengan kekakuan dan kesombongannya. Hal terakhir ini yang ingin saya angkat. Kenapa? Karena karakteristik ini sangat menonjol dan sangat mengganggu proses rekrutmen.



Tidak hanya ITB junior, tapi para senior ITB juga terjangkit virus kaku dan sombong ini. Kekakuan yang mereka tunjukkan dapat saya maklumi karena mereka adalah orang-orang teknik. Secara ilmiah, sudah pernah dibuktikan bahwa ilmu-ilmu eksak, terutama teknik memang membentuk pribadi yang kaku. Selanjutnya, virus sombong. Pernah dengar cerita Narcissus? Saya yakin pernah. Dan inilah penyakit akut yang menjangkiti (hampir) seluruh anak ITB.



Hampir semua anak ITB yang saya temui memiliki gejala self-oriented yang begitu tinggi. Bukan sekali atau dua kali saya menemui anak ITB yang berbicara tentang prestasi dan mimpi mereka. Mimpi atau cita-cita biasanya diskalakan dalam ukuran makro: "Proyek....Nasional," "Se-Indonesia." adalah kata-kata yang sering saya dengar. Diucapkan dengan mimik muka luar biasa yakin dan nada tinggi. Ketika bicara soal jejaring, mereka selalu mau menjadi "yang kenal dengan..." (Biasanya orang-orang terkenal, minimal menteri). Mereka juga bukan anggota tim yang baik karena selalu mau menang sendiri. Hal ini biasanya terjadi dalam lingkungan kerja non-ITB. Yang terakhir, mereka adalah pemuja diri sendiri.


Appraisal bagaimana yang mereka lakukan? Begini kira-kira contohnya:
Jumat lalu saya menemui seorang kandidat, lulusan ITB. Ketika saya tanya soal prestasinya dia berulang kali menekankan hal-hal berikut:
(1) Pencapaian nilai kimia yang sempurna (100) di mana hanya terjadi 5 tahun sekali, orang satu2nya di antara 1,400 mahasiswa lain (diulang 3 kali)
(2) Pemimpin yang sangat baik, excellent! (diulang minimal 3 kali)
(3) Sangat bisa segalanya.
(4) Semua orang kenal saya.
(5) Ada lowongan regional manager Asia tapi tidak diambil dan kalaupun dia yang maju, sekitar 98% kemungkinan dia pasti jadi (diulang 2 kali)



Dan hal-hal tersebut diceritakan berulang-ulang, dengan berulang kali penghentian kalimat pada bagian2 tertentu. Hal ini untuk memberi efek penekanan dan pujian (Serius, dia mengharapkan itu). Perilaku yang ia tunjukkan selama wawancara adalah "You listen to me, and answer my questions. dedicate your time for me. You need me." Ketika saya bertanya apakah dia ada pertanyaan mengenai proses maupun klien saya, dia hanya mengajukan beberapa pertanyaan. Lucunya, ketika saya menutup wawancara dengan dalih ada urusan lain, dia malah bilang "Oh pantesan ibu buru-buru. Jadi kapan saya bisa tanya2 ibu lagi?" (Lhoh??) Setelah itu dia masih berusaha nyerocos menceritakan kehebatannya di konteks pekerjaan.



Baiklah, saya tidak ada masalah dengan kandidat yang menceritakan prestasi kerja. Saya malah senang. Soalnya orang Indonesia cenderung menggunakan "Kami" dan malu-malu jika saya minta cerita soal prestasi kerja. Tapi ketika hal tersebut diceritakan dengan terlalu bersemangat, dengan nada sombong dan penuh keyakinan, hal tersebut jadi memuakkan. Kandidat lain yang juga adalah alumni ITB dengan kepercayaan diri luar biasa menjual gelar S2 yang ia dapatkan di Jerman untuk meminta gaji tinggi. Tidak tanggung-tanggung, cukup EUR 5,000. Iya, EURO, bukan Dollar. Per tahun? Tidak, per bulan. Katanya, standar gaji S2 di Jerman segitu. Oh, Tuan Pintar, sebaiknya kamu ke Jerman aja, jangan di sini.



Teman saya yang lulusan ITB lain lagi, nggak mau kerja. Mau wirausaha. Sayangnya, karena tidak memiliki pengalaman, ia berulang kali gagal. Ia tidak mau belajar dari pengusaha yang sudah maju, memilih produk2 jualan yang kurang komersil, dan tidak memiliki jejaring yang mendukung. Pikirannya sempit, tidak tahu medan yang ia masuki tapi sombongnya luar biasa. Hmmm.Ini adalah hal lain yang masuk virus Narsisus, menghargai diri begitu tinggi sampai tidak memperhatikan standar yang ada. Tidak hanya soal gaji, soal kerjaan pun mereka sangat pemilih. Hanya mau perusahaan A, B, atau C. Kalau tidak, mau kerja sendiri karena mereka terlalu 'bagus', over-standard untuk bekerja dalam sebuah organisasi.


Pertanyaan saya:
Ada apa sebenarnya dengan para alumni ini? Apa sebenarnya yang diajarkan di ITB? Kenapa para lulusannya memiliki kesombongan terprogram - yang secara kolektif terjadi?. Kalau yang saya dengar, ini berasalah dari 'cuci otak' pada masa plonco. Sumber lain mengatakan ini juga berasal dari persaingan internal ITB yang tidak sehat. Semacam seleksi alam, di mana sang pemenang akan menjadi sangat berkuasa. Sifat inipun kemudian terbawa ke kehidupan kerja. Tapi ini baru asumsi dan opini sekelumit orang, saya tidak berani mengatakan hal tersebut memang terbukti.

Jika ada yang membaca ini dan termasuk alumni ITB yang menyangkal, ya nggak papa juga. Kan di awal sudah dikatakan bahwa ini adalah hasil observasi saya selama bekerja sebagai Head Hunter. Saya cuma mau berpesan: Janganlah jadi Narsisus. Kami sudah tahu anda hebat, tetapi tidak perlu membesar-besarkan kehebatan anda. Kami tahu persis anda pintar, dan mungkin terpintar se-Indonesia. biarkan prestasi anda yang bicara. Kalau tidak bisa se-Indonesia, jadi paling pintar se-Bandung saja masih oke kok. Jangan biarkan imej yang melekat di ITB adalah Produser Narsisus. Sudah cukup banyak Narsisus di negeri ini.



Salam,
Satrio Madigondo.-" 

PS : "Kritik akan membuatmu besar kawan, sedangkan pujian yang berlebihan hanya akan membuatmu lupa diri."

265 comments:

«Oldest   ‹Older   201 – 265 of 265
Anonymous said...

kebanggaan atas prestasi yang didapatkan itu wajar dan sangat manusiawi, wajar rasanya jika kita bangga karena bisa kuliah di universitas2 seperti UI, ITB, dan UGM, dll (yang bener2 lulus dengan keringet otak sendiri ya bukan lewat jalan antah berantah, koneksitas, fulus2 bla bla bla...), seringkali kita sangat perlu penghargaan terhadap diri kita untuk membentuk diri kita sendiri menjadi seseorang yang lebih baik. tetapi tetap harus dalam area proporsionalitas

saya bukan lulusan ITB akan tetapi saudara atau teman2 saya sangat banyak lulusan ITB, dari sudut pandang saya memang "kekakuan" sudah mendarah daging pada mereka, tetapi dedikasi mereka terhadap suatu pekerjaan perlu saya akui jempol :)

singkat kata, dunia pekerjaan atau usaha sangat jauh berbeda dengan kuliah, kemampuan akademik yang baik ditunjang dengan fleksibilitas yang mumpuni akan membuat seseorang selangkah lebih maju dibanding mereka yang lebih mempertahankan kekakuan meskipun ditunjang oleh prestasi akademik yang luar biasa

Alumni ITB di Luar Negeri said...

Setuju bang Ign. Sapto... yg tersisa di sini cuman yang afkiran ha ha ha... jago kandang!

Salam,
Alumni ITB yg kerja di luar negri, bukan Asia Tenggara.

Anonymous said...

Baru baca sekarang tahun 2013 dan artikel ini tahun 2012 awal pula hehehe
Sah-sah saja kalau mahasiswa ITB memiliki kenarsisan. Tapi jangan lupa sebagai manusia kita itu hidup secara sosial. Dan sudah sewajarnya setiap dari kita harus toleransi terhadap satu sama lain. Ketika ingin narsis atau PD berlebih sah saja asalkan kita semua tetap bisa bekerja sama untuk mencapai tujuan yang besar. Berkerja sama dan saling mendukung satu sama lain. Kalau melihat dari kenarsisan ITB sendiri juga salah, tapi kalau narsis sehingga individualis juga salah.
So take it easy, tiap orang SOP kepribadiannya beda-beda.
Jangan jadikan perbedaan sebagai pemecah bangsa~

Anonymous said...

Bukan hanya alumninya, dosen dan mahasiswa aktif juga begitu, itu sangat saya rasakan ketika saya menjadi mahasiswa s2 di itb..

bayuamus said...

Batasan antara percaya diri dan sombong itu tipis; yang sekedar sombong biasanya akan sulit untuk maju di karirnya, sedangkan yang percaya diri biasanya karyanya juga nyata bagus.

Saya kadang-kadang me-review aplikasi yang masuk, dan bisa dipastikan ada saja satu-dua pelamar yang delusional :D; tapi sejauh ini belum nemu konsistensi sama satu almamater saja.

Tapi saya sarankan sama siapapun anda yang akan menjalani tes recruitment, mau dari ITB, UI, UGM, fokuskan perhatian anda pada apa yang bisa anda sumbangkan ke lembaga yang anda lamar, dengan menunjukkan kualitas diri yang mendukung rencana kontribusi anda tersebut; BUKAN pada betapa hebatnya anda secara personal.

Buat saya kutipan artikel ini pengamatan yang menarik; lepas akurat atau tidaknya introspeksi saja lah ya :).

Salam,

FSRD ITB '92

Anonymous said...

buat saya, menarik kok membahas ini.. karena masing2 lulusan kampus itu ternyata punya karakteristik masing2..

secara umum, saya sepakat dengan notes di atas.. (maaf loh pada akhirnya digeneralisasi, soalnya selalu ada kesimpulan yang muncul sendiri tiap baca sesuatu hehe) :p

orangtua saya alumni itb, kakak dan adik saya juga mahasiswa itb, hanya saya yang mahasiswa universitas negeri lain di bandung, mungkin karena saya satu-satunya member keluarga yang kurang pintar.

Orang ITB gengsinya tinggi (dari apa yg saya lihat di keluarga saya sendiri dan temen2 dekat saya bahkan), entah mengapa, mungkin karena persaingan internal ITB nya ketat. fine sih, tapi kalo bersosialisasi dgn non-ITB alangkah lebih baiknya kalo gengsinya dikesampingkan.

Yahh, intinya kita semua mesti baek2 aja sih kalo udah lulus dari kampus masing2, bersosialisasi yang wajar aja gitu, jangan suka mendewakan almamater, ilmu mah sama aja semuanya juga... (pesan buat gue dan semuanya juga loh ya ^^)

Anonymous said...

Hmmm...
Artikel yang menarik, dan saya menghargai pendapat si penulis...
Buat komentator, biasa aja kali, mau anak ITB, anak UI, anak UGM, biasa aja, gak ada yang istimewa ... prestasi ente yang bicara ... bukan jualan virus Narcissus sepeti kata si penulis ...
Gw banyak teman anak UI, anak ITB, banyak juga anak UGM, semua mantab, enak di ajak ngobrol dan gaul, nyantai aja kali maaaannnnn ....
Ada sih satu dua yang belagu, lama - lama yg begitu juga mundur sendiri ...
Peace maaaannnn ....

Anonymous said...

Whatever you told Madigondok, I am proud to be ITB, sekali proud tetep proud, mau sombong mau rendah hati, #jogetjoget baru wisudaan

Unknown said...

Dari penerawangan saya, Satrio Madigondo nama aslinya pak Ranu Hadiprawoto yang dia sendiri adalah alumnus ITB:

http://groups.yahoo.com/group/aldsmada/message/372
http://id.linkedin.com/pub/ranu-hadiprawoto/13/710/101

Jadi, penulisnya bukanlah Satrio Madigondo. Satrio Madigondo adalah yang meneruskan tulisan dari sang headhunter.

Anonymous said...

Gw rasa mungkin timbul kesombongan itu karna ybs kuliah disalah satu univ terbaik di Indonesia. gw gak akan ngambil contoh ITB karna gw bukan anak ITB. gw ambil contoh STAN. banyak teman2 gw dan gw juga sih ngerasa kalau untuk masalah akuntansi, STAN lah tempat paling baik buat belajar. kampus lain mah nomer dua. gak tau juga dari mana munculnya generalisasi seperti itu.

tapi menurut gw itu mungkin karna untuk masuk dan lulus dari STAN butuh usaha yang besar. mungkin sama seperti di ITB, dari situlah muncul stigma kalau bisa lulus dari univ tersebut, pasti kualitas individunya mumpuni dan hal tersebut yang lambat laun membentuk sifat sombong dari individu tsbt.


just IMHO dan berdasarkan hasil pergaulan dengan sesama anak TAN.

Anonymous said...

From my point of view, it's true. Bener emang anak ITB terkesan sombong. Karena kita sendiri sadar untuk masuk ITB itu susah, jadi yaaa wajar aja sih kalo rada sombong. Lebih lagi waktu lepas SMA masuk ITB makin bangga dan menjadi2. Tapi tidak semua mahasiswa ITB sombong, sebagian besar sih memang karena arogansi dari fakultas masing2. Gue sebagai anak itb juga merasa adanya aura kesombongan di udara kok *helah* Justru dengan lo ngeliat komen2 dari alumni/anak2 itb yang kontra dengan cara: "minta data", "mana surveynya", "bukti dari mana lo?" itu makin nunjukkin bahwa kita itu kaku, besar omong, dan sombong. Dan menurut gue yg paling kebukti adalah kata2 “You listen to me, and answer my questions. dedicate your time for me. You need me." itu adalah kesan yang gue tangkep dari baca komen2 kakak alumni/anak itb sendiri. Hey coba lo liat alumni2 kita yg lain yg bisa menerima tulisan ini dengan terbuka. Harusnya itu yg kita contoh, dan menghilangkan kesan sombong dari label ITB.

*mahasiswa teknik*

Anonymous said...

punya beberapa teman dari ITB dan sangat bangga (cenderung Sombong) dengan keITBan nya

Gw pikir perasaan gw aja, atau karena beberapa orang yang gw kenal ini aja,,,,, ternyata oh ternyata

MAAF hanya mengatakan apa yang terlihat

Anonymous said...

biasalah, namanya juga nyari babu, ya kalo ktemu orang dgn prestasi mentereng, langsung keluar cap: anak sombong, gak cocok, terlalu over qualified.

negeri ini bukan tempatnya orang2 pintar. oh iya sih, lah wong yg pintar2 pada kabur keluar negeri. ya karna orang2 kayak satrio ini, yg menjatuhkan orang2 pintar.

Anonymous said...

hahaha orang2 itb banyak yang ngamuk nih. tp sayangnya cara ngamuknya malah mendukung isi tulisan.

saya bekerja di lingkungan dimana mayoritas anak itb. kesan saya : lulusan itb itu ulet, cepat belajar, harus bisa. mungkin karena dasarnya memang pinter nya mereka.

terus satu lagi : alumninya kuat. bos kita orang itb rekrutnya orang itb juga hahaha peace.

Anonymous said...

salah besar kalo mo pinter dan maju ya punya itebeh....saya anak itebeh yakin dengan membudayakan oprak oprek bisa maju... faktanya emang steve job yang bikin iphone dll lulusan kuliahan?? emang yg bikin facebook tamat kuliahnya? budayakan oprak oprek! ga itb ga ui ga ugm kalo perlu anak stm sedini mungkin di cuci otaknya buat oprak oprek juga nanti karyanya berguna bagi bangsa... kalo anak itebeh sombong biar saya sendiri sebagai anak itebeh dengan sombong dan angkuh merangkul anak stm atau tukang beca atau siapapun yg hoby ngoprek biar bisa bikin karya yg lebih hebat dari steve job! dan produk lainnya...

bangsa yang besar harus tau apa yang lebih penting dari pada mempersoalkan akademis

Anonymous said...

ah gile lu ndro...

Eleanor said...

"Sumbernya perasaan manusia, bukan data."

betul, tapi yg punya tulisan hanya bertemu dg sebagian kecil lulusan ITB, dan dg entengnya tabok rata ke semuanya. jikalau observasinya baik, penilaian akan lebih berimbang. lagipula, ITB tak hanya teknik, ada Seni Rupa dan MIPA, mungkin si pemilik tulisan belum pernah bertemu mereka.
Karena yang "diserang" anak2 teknik, wajar aja sih kalo mereka minta data, biar jelas, fakta atau sekedar asal njeplakin perasaan tanpa dasar.

"kritik emang membangun, tapi bikin orang emosi justru ga menghasilkan apa-apa."

setuju :D

pernah jadi anak ITB 5 semester said...

wah thanks kritiknya.
walapun sudah bukan anak ITB lagi, saya cukup merasa tertohok. :P

saya setuju dengan kalimat "cuci otak jaman plonco" itu. sejak awal masuk saja kami disuguhkan spanduk raksasa bertuliskan "SELAMAT DATANG DI INSTITUT TERBAIK BANGSA" bagaimana tidak bangga? kebanyakan rasa bangga kemudian memicu kesombongan. spanduk besar itu melambungkan kami ke langit tertinggi sebagai mahasiswa yang merasa paling pintar yang sanggup menembus sulitnya tes masuk ke kampus ini.

saya tidak tahu apakah sekarang ceremony selamat datang di ITB masih menggunakan spanduk2 itu. (saya dulu masuk tahun 2009).

kesombongan itu.. ya tidak semua memang. tapi rasa sombong (eh bangga) itu pasti ada. siapa yang tidak tersanjung dipujapuji setinggi itu? siapapun yang belajar bahasa indonesia pasti tahu awalan "TER" yang berarti "paling" :D

saya jadi ingat kisah boneka beruang di atas pohon depan gerbang kampus yang konon katanya dipasang mahasiswa universitas lain untuk menyindir anak2 ITB yang hanya bisa duduk angkuh di balik meja belajarnya dengan study-oriented nya dan tidak pernah turun ke jalan (dalam hal ini mungkin yang dimaksud adalah demonstrasi atau protes terhadap kebijakan pemerintah).

sekali lagi, tidak semua anak ITB seperti ini.

namun ada baiknya juga anak2 ITB berfikir tentang "image" mereka yang terlanjur tertanam di masyarakat luas tentang "keangkuhan" mereka itu. masyarakat menilai apa yang mereka lihat dan mereka ketahui. jika masyarakat menilai begitu, mungkin berarti memang seperti itulah image mahasiswa ITB dimata orang luar.

kita sebagai mahasiswa ITB, mantan mahasiswa ITB, alumni ITB, calon alumni ITB, lulusan ITB, dan calon mahasiswa ITB, sebaiknya sama2 mengintrospeksi diri atas kritik2 yang disampaikan, sekaligus membuktikan bahwa TIDAK SEMUA masyarakat ITB demikian adanya.


let's hear people's critics and introspecting our self.
and just be humble, down to earth.


<3 ITB !

pernah jadi anak ITB 5 semester said...

hahahaha! setuju banget ini.
anak2 ITB fakultas SR nggak seganas itu. as fun as an art.

pernah jadi anak ITB 5 semester said...

wih..
sebagai mahasiswa yang pernah ngerasain jadi anak ITB, kritik ini lumayan menohok. :D

jujur saya setuju dengan "cuci otak jaman plonco" itu. bagaimana tidak, sejak awal menginjakkan kaki di kampus ini saja kami sudah disuguhi spanduk raksasa bertuliskan "SELAMAT DATANG DI INSTITUT TERBAIK BANGSA" . "TER"baik bangsa! siapapun yang belajar bahasa indonesia pasti tahu kalau "ter" disini maksudnya adalah "paling" , "sangat dari yang sangat".

siapa yang tidak melayang disanjungagungkan setinggi itu? mindset ini jelas tertanam tidak hanya kepada kami selaku yang dipuji, namun juga orang tua, saudara, sanak famili dan teman-teman yang merasa "wah gue punya temen anak ITB" .

bangga. tentu saja, dan rasa bangga inilah yang memicu kesombongan/keangkuhan itu tadi. (hei, toh bukan salah kami, kampus kami sendiri yang memasang spanduk "TER" itu. :P)
kepada yang tidak bisa mengontrol rasa bangganya, memujamuji dan mengangkuhkan diri kemudian menjadi hal yang tidak disadari telah dilakukan dimanapun ia berada.

tidak semua lho ya. tapi saya termasuk salah satu yang pernah mengalami syndrom "gue anak ITB lho" itu.

soal kekakuan dan keangkuhan...
siapa yang tidak ingat boneka beruang di atas pohon besar depan gerbang kampus? yang konon katanya merupakan kritik dan sindiran kampus lain terhadap mahasiswa ITB yang bisanya hanya duduk di tempat tertinggi (comfort zone) dibalik meja belajar mereka, sibuk mengurusi nilai IP, tanpa pernah aktif turun ke jalan. (dalam hal ini mungkin maksudnya demonstrasi/protes terhadap kebijakan pemerintah).

boneka itu sudah bertahun2 disana. (nggak tahu sekarang masih ada apa enggak). tandanya, kritik dan image mahasiswa ITB yang seperti itu memang sudah terlanjur melekat.

ya, kalau ada yang merasa tidak terima dikritik seperti ini, sebaiknya introspeksi diri. masyarakat menilai apa yang mereka lihat.

memang generalisasi seharusnya tidak dilakukan, mengingat nggak semua anak ITB seperti ini.
(seperti yang dikatakan oleh "kalem" di komentarnya "wah segitu ganasnya di ITB bagian lain, SR nggak gitu2 amat", karena memang ada beberapa bagian ITB yang rasanya tidak terjangkit virus "study-oriented" ini. anak seni rupa misalnya. :D)

tapi sebagai mahasiswa ITB, mantan mahasiswa ITB, calon alumni ITB, alumni ITB, lulusan ITB, dan calon mahasiswa ITB, seharusnya kita bisa introspeksi bareng, karena "image" yang terbangun sudah terlanjur begini, nggak ada salahnya kalo kita membuktikan at least bahwa nggak semua anak ITB seperti ini. :D

hei, mendengarkan kritik itu baik lho.

jadi buat apa tersinggung, toh orang mengkritik kan atas fakta dan bukan dusta. tujuannya pun supaya yang di kritik sadar dan bisa berubah.

so just be humble and down to earth.
buktikan kalo anak ITB nggak seangkuh seperti yang masyarakat pikirkan.


^__^ go ITB go !! <3

Anonymous said...

curhatan toh,... :D ayo berkarya lagi :D

Anonymous said...

kalo mau membangun bangsa,
ya ayo bersatu,
kalo punya idealisme bagus, demi rakyat, anti-korup,
ya ayo diperjuangkan,
kalo mau jadi berpengaruh,
ya ayo membaur,

Anonymous said...

1. Bukanlah masalah kalau mereka itu mempamerkan keahlian mereka, asalkan mereka jujur. Toh, kemampuan mereka bakal dipakai di dunia kerja.
2. Tapi kalau pas dikritik/dibenerin, mereka gak mau nerima karena egonya udah terlalu gede, itu yang baru jadi masalah.

Anonymous said...

1. ketika kami membela dari tuduhan yang hanya memiliki dasar yang bisa dibilang sempit kami disini dianggap terbukti arogan
2. Ketika kami bangga bisa masuk dan lulus dari ITB kami dibilang sombong
3. Ketika kami membanggakan apa yang kami raih kami dianggap besar kepala

Namun , sebenernya kami hanya manusia biasa yang penuh dengan harapan untuk bisa berkontribusi untuk negara.
Apapun yang orang katakan tentang kami , kami akan terus berusaha untuk membantu negara ini.

Dari sudut pandang saya , sepertinya head hunter ini pernah sakit hati dengan calonnya yang berasal dari ITB :) namun wallahualam hanya dia yang tahu alasan apa hingga dia menulis seperti ini :)

Dan satu lagi , yang menentukan fleksibel lugu kaku dan lainnya adalah pribadi orang itu sendiri bukan dari kampusnya :)

Anonymous said...

hanya mengulang:
"Disclaimer:
Tulisan ini merupakan hasil observasi sebagai Rekruiter selama 4 tahun terakhir. Mohon jangan digeneralisasi"

Nah, udah jelas kan?
Gak usah sebegitu defensif nya kaleeeeeee...
Anggap aja masukan & kritik positif (membangun).

case closed. as simple as that.

Anonymous said...

kalo kata bos gw, buat apa pinter" banget kalo kagak bisa nyari duit...
jadi daripada sibuk mikirin ITB lah, UI lah, UGM lah... mending kita diriin PT. terus kita bayar itu anak ITB, UI sama UGM buat ngurusin... orang terkaya se-Indonesia saat ini (2013) ga kelar sekolahnya, heboh aja...

Anonymous said...

Cuma mau ngungkit aja sih menurut Worlds University Ranking edisi terkini peringkatnya ITB itu 461. WAKE UP. You're not Harvard or Stanford, for Christ's sake.

anymous said...

boleh sy ikt comment, hehe

sy alumni UGM lbh tepatnya D3 teknik (D3 ajasusah masuknya) trs hny seleksi ip2 cumlaud yg tinngi sj yg bs meneruskan s1, sy sempat utk ditawarin lanjut s1 krn alhamdulilah ip sy mencukupi syarat.. namun sy menolak bukan krn tdk ada biaya tp krn sy sadar haha, sy merasakn suasana situasi di UGM persainganya ckp ketat byk yg ber IP tinggi salin sikut, bukanya sy takut bersaing tp sejak sy kuliah di sini........ rasanya ada sistem yg tdk sy suka, kadang ada beberapa dosen yg terkesan sombong,kdg jg kakak kelas sy jg sombong, dan sy jd tertular ikutan sombong........ hny beberapa anak aja yg sederhana, ipnya biasa aja, tp mereka hebat, kritis suka membuat innovasi.. tenggelam tp prestasinya dlm kancah nasional sgt hebat......
akhrnya sy skg memutuskan utk kuliah di tempat swasta untuk mencari tau bahwa kuliah adalah belajar utk menjadi org berilmu"benar2 mencari esensi ilmu bkn sekedar nilai2 diatas kertas" dan belajar utk menjadi org yg sederhana dan rendah diri..

dsni sy merasa ditampar, seusai lulus pun sy akhrnya menolak semua panggilan kerja ditmpat2 bergengsi yg merupakan persepi untuk tmn2 sy ank2 UGM hrs kerja ditempat yg bergengsi.. sy mencari yg sebenarnya, sy menyesal.. sy merasa bukan apa2, sy merasa iri dgn tmn2 sy yg biasa2 sj rendah hati ipny biasa tp tau2 sdh jd juara nasional dlm inovasi.... sy benar2 malu... sedangkan rata2 tmn sy ber ipk tinggi ujung2nya cm jd pekerja dr perusahaan asing....... namun tmn2 sy yg diam dan sederhana skg sdh menapaki jalan menuju seperti habibi muda atau bill gates muda...

sy byk belajar dr peristiwa inikrn tdk sepantasnya besombong hati krn ipk krn terlihat pintar bs mengalahkan ini itu......

org yg sukses menurut sy org yg mau mendengarkan ,org yg sederhana mau mengakui kekuranganya walaupun sebenarnya dy org yg hebat...... dy akan selalu belajar dan merasa tetap sebagai org yg sedang belajar dan belajar........ krn tuhan hanya memberi ilmu kepada kita sedikit saja dr ilmu yg dimilikinya.....

sy setuju dengan tulisan ini, bangga boleh tp bkn berarti qt yg terpintar.... "semakin berisi, semakin merunduk" itulah definisi org pintar...... krn dy mengetahui dy bukan yg terpintar.... Correct me if im wrong :) sy pun msh belajar ttg kehidupan ini

Arief Triputra said...

Mungkin yang survei dari kampus U yang lugu dan tidak ambisius... ITB tanpa kesombongan (arogan) saya rasa bukan ITB jadinya... cuma opini sama kaya pos dari head hunter di atas ... bener ITB arogan istri saya sering ngomong gitu soalnya :D ... Good Luck for everyone, semoga saya kalau ketemu head hunter ga ketemu sama head hunter di atas ... Arief Triputra

Anonymous said...

Saya Heran, mmgnya apa ya yg mau disombongkan dari ITB,menjadi mahasiswa ITB...Lulusan ITB...sprt yg sy alami...ketika saya masuk ITB..dlm satu angkatan saya thun 9x, dari sekitar 38 org...9 orang dari kami...juga lulus tes STAN, 9 orang jg lulus Poltek ITB...3 juga lulus Poltek UI...4 org juga lulus STT Telkom(yg katanya susah)...6 orang juga lulus tes Politeknik Mekanik Swis Bandung(katanya jg susah)..
Kemudian, memaasuki tahun kedua...setelah masa TPB ITB, 5 org terkena lanjutan wajib Tahun kedua TPB krn 1.75<IPK<2, karena itu akhirnya mereka mencoba mengadu nasib ikut UMPTN lagi sbg pegangan kalau2 ter-DO nantinya dari ITB, dan ternyata dari 6 orang tersebut 2 lulus Management Unpad, 1 lulus Akuntansi Unpad, 2 lulus Hukum Unpad,1 Kedokteran Unpad...mrk sempat kuliah didua kampus tp akhirnya mrk bisa melalui TPB dan melepaskan semuanya yg di UNPAD. Kemudian teman saya lain pada tahun berikutnya mencoba mengadu nasib kembali krn terancam DO dijurusan...dan lulus di Teknik Mesin UI,sempat satu tahun kuliah tp akhirnya kembali ke ITB. ada juga yg dari jurusan lain..yg lulus fak kedokteran UI..tapi tdk diambil..hanya krn katanya iseng2 sj...mau tes daya ingat(luar biasa...gara2 mau tes daya ingat akhirnya org lain jd ga lulus unptn ya..?)...ada ratusan anak ITB yang tiap tahun seperti ini....mentang2 punya kelebihan...jadi dengan enaknya ikut tes sana-sini....makanya...APA YANG DIBANGGAKAN DARI MENJADI ANAK ITB...???!!!

Anonymous said...

Kuliah di luar negeri itu sangat mudah asalkan dananya cukup.

Anonymous said...

selamat pagi.saya juga merupakan mahasiswa dari salah satu PTN TOP 5 Indonesia.setelah baca komen-komen di atas, satu hal yg saya pelajari: sudah sehebat apa Anda sampai merasa pantas untuk sombong?kalah dong TUHAN?masya Allah..

Anonymous said...

selamat pagi.saya juga merupakan mahasiswa dari salah satu PTN TOP 5 Indonesia.setelah baca komen-komen di atas, satu hal yg saya pelajari: sudah sehebat apa Anda sampai merasa pantas untuk sombong?kalah dong TUHAN?masya Allah..

Anonymous said...

selamat pagi.saya juga merupakan mahasiswa dari salah satu PTN TOP 5 Indonesia.setelah baca komen-komen di atas, satu hal yg saya pelajari: sudah sehebat apa Anda sampai merasa pantas untuk sombong?kalah dong TUHAN?masya Allah..

Mr. Jonikun said...

Ingatlah slalu, Diriwayatkan dari Jabir berkata,”Rasulullah saw bersabda,’Orang beriman itu bersikap ramah dan tidak ada kebaikan bagi seorang yang tidak bersikap ramah. Dan sebaik-baik manusia adalah orang yang paling bermanfaat bagi manusia.” (HR. Thabrani dan Daruquthni), jadi yang terbaik itu bukan terletak pada yang terpintar, terkaya, terhebat, tapi dilihat dari manfaat yang terlahir dari dirinya yang dirasakan oleh orang lain, walau itu hanya sekedar memberi makan sebiji kurma

Anonymous said...

Rudi Rubiandini

Anonymous said...

masih keliatan yah sombongnya...hebat loh...semoga selamat sampai tujuan.

Anonymous said...

sisipkan data terukur pula, puluhan tahun banyak dari kalian yang kerja di bidang minyak, pertambangan dan sumber daya alam lainnya.
Apa ada dari kalian yang bisa alih teknologi. Jangan beralasan bahwa kalian di luar sistem. Banyak alumni kalian yang ada di pemerintahan justru tidak mampu berbuat banyak dan ujungnya hanya jadi parasit negeri ini...!!!!

Next time, speak by data my ass...!!!

Anonymous said...

hati--hati kalian sebut babu...mereka juga bekerja. katanya pintar, tapi kok komennya bodoh???

Anonymous said...

Pasti Je Han anak ITB ya... Wkwkwkw

Anonymous said...

cakap!

Anonymous said...

Sepertinya ini salah satu bukti :D

Anonymous said...

SAYA SETUJU DENGAN KOMENTAR ANDA

Anonymous said...

SAYA SETUJU DENGAN KOMENTAR ANDA
MOHON UNTUK DIJADIKAN SEBAGAI KRITIK YANG MEMBANGUN UNTUK PENULISNYA
-bukan anak itb

Anonymous said...

gw cuman comment soal EUR 5,000/month... kalo ini lulusan stay di German ato US tetep aja gak bakalan dapet segitu krn fresh graduate ... mo dibilang gelar apa juga.. tetep aja ZERO experience!
Gw tinggal di California for over 5 years now.. gak perlu lulusan ITB utk punya karir and not just a job di CA....
buat yg publish ini story mungkin ditulis more fakta, Bung! Thanks for sharing by the way...

Anonymous said...

haha
emosi ya mas

Anonymous said...

Saya (anak kampus di salah satu perguruan tinggi di Depok) melihat ini dari sisi sebagai orang yang punya banyak sekali (mantan) sahabat yang kuliah di ITB... Saya dulu akrab sekalidengan mereka di SMA... Hiks hiks... 2 semester pertama kuliah masih akrab. Kita sering curhat suasana kuliah di kampus masing2... Anak ITB sering mengeluh dengan suasana kampus mereka yang menurut mereka berisi senior2 super sombong dan ngeselin (cerita mereka waktu semester 1 dan 2), 5 semester kemudian, saya sudah kehilangan sahabat2 saya. Pernah suatu saat saya meneriaki mereka jangan terus merendahkan saya. Apa yang membuat mereka merasa lebih pintar dari saya? Bukan 1 ato 2 orang teman saya saja yg seperti itu... tapi hampir semua yg kuliah di ITB... Akhirnya saya membuat kesimpulan: ITB telah mengambil sahabat2 saya dan mengubah mereka jd sesuatu yang "berbeda". Saya dulu sering ditanya adik2 kelas saya tentang kampus2 yang menjadi target mereka. Karena rasa sakit hati saya terhadap temen2 saya di ITB saya bilang ke mereka tentang ITB: kampus terbaik bangsa, membentuk orang menjadi super tangguh dan jenius tapi cenderung membanggakan diri dan melihat orang lain sebelah mata. kalo tidak siap dengan sifat individualistic dan tidak mau jadi seperti itu, sebaiknya siapkan mental karena di ITB nanti kamu kemungkinan besar akan jd seperti itu

Anonymous said...

Tuh, kan, keliatan songongnya :P

Anonymous said...

Anak ITB itu bagus, ditunjang bahwa di dunia kerja para petinggi perusahaan kebanyakan dari universitas tua macam ITB pula. Jadi wajar anak ITB dicari cari, rada wajar mereka sombong.

Tapi inget, tunggu 2-3 generasi lagi, ketika para bos di perusahaan2 itu sudah bukan lagi tetua dari universitas ternama, pikir 2x untuk sombong dan arogan, pengalaman ganti 4 perusahaan kelas international company, saya tidak menemukan satu pun alumnus univ ternama baik UG*, U* atau pun ITB. Tapi menengok istri saya yang kerja di BUMN (kebetulan dia bagian HRD), setiap tahun ketika open recruitment, hanya dilakukan di Jogja (univ gajah duduk), Bandung (you know lah which univ) dan surabaya IT*.

Bs diliat perbedaan stereotipe perusahaan kelas internasional dan BUMN, ketika ketemu bos Bule (international company), mereka mana tau sama univ ternama Indonesia, yang mereka cari kandidat yang punya track record baik, punya passion dan hardworker. Kalo BUMN, yang bergerak di segala bidang, misal oil, mining, listrik, dll, yang butuh orang teknik, ya cmn ITB - ITS aja isi nya.

Sedikit sharing saja, kurang setuju kalo yang dibawa nama Univ sebenarnya, krn tidak sedikit anak ITB yang santun juga. Saya bukan alumnus ITB, tp temen banyak krn kebetulan kuliah di bandung juga.

Anonymous said...

katak dalam tempurung

seara said...

Tapi kalau narsisny nyebelin, org luar mlh bs2 ga suka sm indo. Narsis boleh tp tidak blh sambil merendahkan org shg memberi kesan menyebalkan. Be smart lah. Kalau narsis nya sambil bcanda dan tidak sombong pasti org jg sng dengernya :))

seara said...

Mau data? Datanya ya jumlah anak yg protes2 ini. Ini data jumlah anak ITB yg narsis dan defensif

Anonymous said...

setuju saya dengan anda pada bagian bawah.
Cuma untuk paragraf awal ingin saya tekankan lagi, bahwa "Dia" menulis blog tentang ITB berdasarkan pengalamannya meng-interview lulusan ITB. Bukan karena diambil yg case jelek. Toh kurasa kalau dia menulis berdasarkan pengalaman seorang lulusan ITB curhat kepadanya ttg persahabatan, mungkin dia akan menulis yang bagus2 seperti yang anda bilang.

Saya berfikir netral.

*a man engineer*

Anonymous said...

membaca artikel ini memang terkesan mengambang karena kurang diperkuat dengan data yang valid,
namun membaca komentar-komentar di atas juga bisa menambah wawasan untuk menilai.
menilai, bukan menge-judge. :)
manusia adalah makhluk paling sempurna, yang sekaligus sumber dari segala alfa.
sebagai perenungan dan refleksi diri sendiri saja, kalau merasa kurang ya diperbaiki, kalau merasa baik ya dipertahankan..
menjadi sombong bukanlah sifat yang 'baik', namun menjadi 'lemah' dan tidak mengoptimalkan potensi diri juga bukan sesuatu yang baik.
terimakasih pembelajarannya, penulis sangat berani dalam mengangkat topik,
dan semoga pembaca bisa memperoleh nilai positif yang terkandung :)

(sipil ITB 2010)

Anonymous said...

nah, klo saya mahasiswa ITB yg belum ada prestasi apa2,prestasi terbesar saya sampai saat ini memang hanya "Dinyatakan Lulus sbg Mahasiswa ITB", padahal udah tingkat akhir, ip sih gak jelek2 amat,kerjaan main-main, belajarnya cuma pas ujian atau pas deadline saja, yang akan saya sombongkan pun tak ada.
Tapi orang2 sekitar baik keluarga maupun teman2 non-itb selalu mengagungkan saya, padahal udah sering saya tekankan bahwa saya tidak perlu diagungkan seperti itu karena saya biasa2 saja. (aduh jadi memalukan diri sendiri begini)
Klo kasus nya seperti saya ini, gimana menurut penulis dan pembaca sekalian?

Anonymous said...

emang perlu tau jd apa? mo dibandingin lg?

Rahmansyah KI'00 said...

Ini ada buktinya kalo alumni non ITB juga sombong ga ketulungan :

Setelah baca banyak komen diatas... SEE, anak itb terbukti tidak bisa menerima kritikan kan? Buktinya mereka langsung bersikap defensif dan denial dengan kritik diatas. Padahal kalau mereka beneran "Smart" dan sangat intelek, coba dong disikapi secara SMART juga, dan berpikiran positif dengan adanya kritik ini. Saya banyak teman anak itb, yg sebetulnya kalau di lingkungan kampusnya mereka bukan siapa2... Dan bisa dibilang bukan anak gaul, tapi ketika mereka sharing tentang perkuliahan, idealisme yg berlebihan, sombongnya keluar cyiiin.. Mereka tidak tahu berbicara dengan siapa, berteman dengan siapa.. Saya juga lulusan salah satu universitas terbaik di Indonesia. Tapi karena dulu ada mata kuliah Etika, maka saya bisa menyimpulkan teman2 saya ini kurang ada asupan Etika di dalan cara bersosialisanya. Buktinya, teman saya yg itb itu, semenjak dia lulus sampai sekarang which is sudah 3 tahun lebih, masih betah aja booow di perusahaan tmp dia bekerja, begitu saya tanya kenapa tidak coba cari pengalaman baru si tempat lain. Dia blg, mau sampai pensiun disitu, dan ada beberapa orang yg alasannya sama seperti dia. Itu menandakan mereka tdk bisa keluar dari comfort zone karena ideilasime yg terlalu tinggi dan seperti memakai kacamata kuda, tidak siap bila keluar dari comfort zone dan masuk ke lingkungan baru. Jadi, ga usah reaktif lah dengan kritik diatas, coba introspeksi diri aja, yang menilai diri kita itu orang lain, bukan diri sendiri. Jadi ga usah pake marah2 komennya, think SMART, act SMART. Dan sepertinya para alumni yg songong ini harus sekolah kepribadian di John Robert Power deh biar tau bagaimana cara bersikap(apalagi ketika interview) .. Sekian comment dari saya.

August 9, 2012 at 10:21 PM

Anonymous said...

Bukankah pendapat diatas akan mempengaruhi banyak orang? Dan beranggapan itb seperti itu? Saya bukan anak itb, tapi saya hanya membayangkan apakah kalian bisa menerima kritikan yang tidak ada datanya (kata komen diatas) dengan rendah hati. ?

Anonymous said...

Nambah satu sample nih :)... Perhatikan kata "bangga..bangga..bangga" (diulang 3x) ..haha

Anonymous said...

Oh iya...salah..bangganya 4 kali..:p

Anonymous said...

Sebenarnya si penulis itu yg lebih sombong..... Wkwk sadar atau tidak....

Anonymous said...

Artikelnya terlalu one-sided.... Wk... Dan apakah menulis seperti ini itu beretika ?

Anonymous said...

Believe it or not this article is one sided.... So klo artikel ini sebuah kebohongan yaaaa.... Mungkin sebuah ironi ? Sarcasm ?

Anonymous said...

Bukannya Mahasiswa yg cerdas itu mahasiswa yg bisa berguna bagi lingkungannya.... Dan masalah negara itu ada yg ngatur....

Anonymous said...

Saya alumni ITB. Anak ITB sih macem2. Ga semua sombong dan congkak.
Saya termasuk yang biasa2 aja. Saya dan beberapa temen2 yang lainjuga sebel sama anak2 ITB sombong. Suka ngomong ketinggian.
Mungkin jumlah yang sombong sekitar 40%an. Dari temen2 ITB sendiri sih menurut saya asik2.
Saya kebetulan kerja diLuar Negeri. Kita membaur kok sama anak2 Indo lulusan darimana aja. Dan mungkin klo tanya mereka, pasti mereka bilang anak ITB asik dan ga sombong. Hehe

«Oldest ‹Older   201 – 265 of 265   Newer› Newest»