Saturday, May 2, 2015

Come On.

Beberapa hari yang lalu di sela-sela jam kantor yang cukup padat, gue chatting sama temen gue melalui salah satu aplikasi instant messenger untuk menunggu waktu makan siang yang tidak beberapa lama lagi. Gue lupa siang itu kita lagi ngobrolin apa sampai tau-tau kita membahas tentang 'move on'. Kalian pasti bosen ya karena belakangan ini isi post gue gak jauh-jauh dari itu.

Oh iya gue inget, kita lagi ngomongin kemahasiswaan. Kalo gak salah waktu itu gue lagi nanya-nanya ke dia tentang bagaimana keadaan kampus saat ini. Soalnya dari akun twitter kemahasiswaan kampus gue yang gue follow, rasanya keadaaan kemahasiswaan saat ini sedang bergejolak. Sampai bulan April belum ada Ketua Kabinet Keluarga Mahasiswa (K3M) yang terpilih loh. Sampai dia bilang.

"Ini apa sih udah lulus juga masih kepooo aja sama kemahasiswaan"

"Yah namanya juga alumni muda ti, masih belum move on dari kemahasiswaan"

"Bilang aja belum move on dari kemahasiswiannya kak (grin)"

"Iya, kayak lo yang belum move on dari si itu kan"

"Kaktor kaliiiii yang belom move on dari si anu, malah ngeledekin orang"

"Hahaha, lah emang gue belom move on kok dari si anu"

"Kok santai sih ngejawabnya?"

"Lah emang kenapa?"
 "Gini ya, menurut gue mah gak move on itu bukan berarti tiap detik lo mikirin dia sambil nangis-nangis di dalem kamar. Kalo buat gue, gak moveon itu cuma berarti kita gak bisa atau belum bisa suka sama orang lain selain satu orang yang gak bisa bikin kita move on ini. Saat kita belum move on, kehidupan kita tetap berjalan seperti biasa. Kita masih hangout sama temen, masih ketawa-ketawa, masih makan tiga kali sehari. Masa iya kita nangis tiap hari? Engga kan? Jadi buat gue 'gak move on' itu bukan sebuah aib yang harus lo singkirkan dan malu untuk lo akui."

"Ya gapapa sih, asal mau terpuruk terus mah"

"Iya gue udah tau kok konsekuensinya."

Juni 2012 merupakan awal pertemuan gue dengan dia. Dalam hanya satu detik pertama gue melihat dia, gue merasakan sesuatu yang sangat berbeda. Sesuatu yang gak gue lihat ketika gue melihat cewek lain. Sesuatu yang gak bisa gue jelaskan dengan kata-kata. Sesuatu yang langsung membuat gue bilang 'She is the one.'

Sejak moment itu, gue berjanji sama diri gue sendiri kalo gue harus bisa deket sama dia. Long story short, we were close and I confessed my feeling to her and I got rejected, many times. Well, kadang gue suka bingung perbedaan antara berani berjuang sama tolol. But, it's good to know that I am not the only one who did this.

This kind of guy is real. Trust me, I've been there and I've done that.
Sampai saat ini, gue belum pernah bisa merasakan perasaan seperti itu lagi ketika gue melihat cewek lain. Makanya, gue lebih memilih untuk sendiri seperti ini sampai akhirnya gue bisa merasakan perasaan seperti itu lagi ke cewek lain.
Post a Comment