Sunday, April 12, 2015

Undone

'Tor. Jangan. Lo ngapain sih ketemu dia lagi? Urusan lo sama dia tuh udah berakhir. Udah beres. Udah kelar. Kalo kayak gini caranya, usaha lo selama ini buat ngelupain dia jadi gak ada artinya.'

'Gue tau vin. Tapi gue cuma pengen melihat dia satu kali lagi aja. Soalnya gue ...' ada jeda sebentar sebelum gue berhasil menyelesaikan kalimat gue '... kangen.'

'Terserah lo deh. Paling nanti gue tinggal bilang gini ke lo "Gue bilang juga apa" ...'


McDonald's Dago, Bandung, 29 Maret 2015, 14:25 WIB.

'Hey, sorry ya baru sampe. Udah lama nunggu?' kata gue
'Baru 5 menitan yang lalu kok, titip tas dong mau ke toilet nih'
'Sok sok'

Gue yang males nunggu sendirian dan kepanasan akhirnya memutuskan untuk ke kasir mencari sesuatu yang bisa menghilangkan rasa dahaga gue. Gue pasti terlihat sangat aneh pada waktu itu karena gue berjalan dari tempat duduk kita sampai ke kasir dengan memakai tas dia. Setelah bepikir cukup lama untuk memesan apa akhirnya gue memutuskan untuk memesan satu McFlurry Oreo. McFlurry Oreo yang gue pesan sampai bersamaan dengan dia yang sudah selesai dari toilet.

Saat kita mau balik ke tempat duduk kita yang tadi, ternyata tempat duduk kita sudah diisi oleh orang lain. Gue pun mengajak dia untuk mencari tempat duduk di lantai 2. Lantai 2 pun gak kalah ramenya waktu itu, tapi untungnya kita masih bisa dapet tempat duduk. Setelah kita berhasil mendapatkan tempat duduk, akhirnya dia membuka obrolan.

'Kok tumben ngechat gitu? Itu dibajak lagi ya?' kata dia sambil mengambil satu buah botol pocari sweat dari dalam tasnya. Dia sangat menyukai minuman ini. Dari pertama kali gue mengenal dia, gue selalu memperhatikan, dimana pun dan kapan pun, dia pasti selalu mempunyai sebuah botol pocari sweat di dalam tasnya.

'Hahaha engga kok, kali ini emang beneran gue' jawab gue.
'Serius?'
'Iya serius, kok gak percaya sih'
'Ya abisnya kan udah beberapa kali setiap ngechat kayak gitu, eh ternyata dibajak.' kata dia sambil mengekspresikan wajah-sedikit-kesalnya yang udah lama gak gue liat. She was adorable, as always, even when she's showing her annoyed face. Gue cuma senyam senyum menanggapi perkataan dia yang itu.

Butuh waktu beberapa menit untuk gue terbiasa ngobrol sama dia lagi. Karena seperti yang kalian tahu, gue udah lama gak ngobrol sama dia secara langsung seperti ini. Gue. Canggung.

Setelah basa-basi cukup lama akhirnya obrolan kita gue lanjutin ke topik yang sebelumnya mau gue bicarakan sama dia secara langsung. Sebenernya topiknya sangat gak penting. Sebenernya alasan utama gue ya emang cuma ingin ketemu sama dia aja. Mulai dari topik yang gak serius ini, topik yang gue jadikan alasan supaya gue bisa ngajak dia ketemuan, kita beranjak ke topik yang lebih serius.

'Gue rasa, kita gak akan pernah bisa biasa lagi.'
'Kok, kenapa?' tanya gue penasaran.
'Liat aja sikap lo ke gue, gue ngerasa lo ngusir-ngusir gue dan pengen gue cepet pergi dari sini' Ada jeda sebentar sebelum dia melanjutkan perkataannya 'Gue udah kenal lo dari lama kali, gue tau saat lo biasa aja dan saat lo gak biasa aja.'
'Gitu ya.' kata gue singkat

Gue merenungkan perkataan dia dan berusaha mengingat-ingat apa yang gue lakukan beberapa menit yang lalu, dan gue setujuh dengan pendapat dia. I was freaked out. I was unconsciously doing that.

Gue mau mempertahankan obrolan kita selama mungkin tetapi disisi lain gue gak mau terlalu lama bareng sama dia. Gue takut semua usaha gue untuk move on selama ini akan sia-sia (padahal udah sia-sia). Gue takut obrolan-obrolan kita nantinya malah akan membawa gue kembali ke masa lalu. Makanya gue terlihat seperti ingin mengakhiri pertemuan kita ini secepatnya. Padahal sesungguhnya gue gak ingin cepet-cepet pergi dari sini. Gue gak ingin pertemuan ini cepat berakhir.

Kita berdua beranjak dari tempat duduk kita masing-masing. Keheningan menyelimuti kita berdua, masing-masing dari kita gak berkata apapun sampai kita menuruni tangga menuju lantai 1.

Gue berhenti tepat di depan kasir di lantai 1. Dia pun berhenti. 'Sampai ketemu lagi ya' kata gue 'Sorry ya buat yang tadi, mungkin gue kurang senyum aja. Jadi gue kelihatannya sensi dan gak ramah'. Gue gak menjelaskan alasan utama gue kenapa gue terlihat seperti berusaha ingin buru-buru pergi dari dia. Kenapa gue terlihat ingin mengakhiri pertemuan kita secepatnya.

Dia hanya membalas gue dengan senyuman kecil. Bukan senyuman yang menandakan bahwa dia sedang dalam keadaan baik-baik saja. Tapi senyuman yang dibuat-buat. Senyuman yang menandakan bahwa dia sedang memikirkan sesuatu yang membuat dia gak nyaman.

Dia berjalan menjauhi gue dan keluar melalui pintu kaca yang transparan. Gue hanya melihat dia berjalan terus dan terus menjauhi gue. Berjalan ke tempat yang gak bisa gue jangkau lagi. Pintu itu tertutup perlahan seiring dengan jarak antara kita berdua yang semakin menjauh.

Setelah dia sudah tidak terlihat lagi. Gue duduk, dan menghabiskan McFlurry Oreo gue, saat pengeras suara di dalam ruangan memainkan lagu Shake It Out dari Florence + the Machine.

Gue melihat ke sekeliling sampai mata gue terpaku di suatu titik. Gue melihat ke tempat duduk, tempat dimana kita pernah makan bareng pertama kali. Tempat duduk itu kosong. Tapi beberapa detik kemudian, tempat duduk itu terisi oleh dua orang. Gue melihat bayangan gue dan dia saat kita makan bareng dulu. Dia terlihat begitu bersemangat menceritakan sesuatu. Sementara gue, gue sedang menghabiskan soft drink gue dan mata gue gak pernah lepas memperhatikan dia yang sedang menceritakan sesuatu.

Bayangan gue dan dia hilang saat ada sebuah keluarga kecil yang menempati tempat duduk itu.

Susunan bangku di sini belum berubah sama sekali, masih sama seperti waktu itu. Sama seperti gue yang belum berubah. Gue yang masih mengagumi dia sampai saat ini, rasa kagum yang gak pernah berkurang seperti saat pertama kali gue melihat dia 3 tahun yang lalu.

"And I've been a fool and I've been blind
I can never leave the past behind
I can see no way, I can see no way
I'm always dragging that 'horse' around

And our love is passed, it's such a mournful sound
Tonight I'm gonna bury that 'horse' in the ground
So I like to keep my issues drawn
But, It's always darkest before the dawn"

Shake it Out - Florence + the Machine
Post a Comment