Categories!

Aerospace! (1) Astronomy! (3) Guitar Chords! (16) Homemade Stories (19) Institut Teknologi Bandung (7) Poetry (3) Tutorials! (1)
Showing posts with label Institut Teknologi Bandung. Show all posts
Showing posts with label Institut Teknologi Bandung. Show all posts

Sunday, March 1, 2015

Bukan Sembarang Lagu.

I realize that someday in the future I will have trouble remembering this chant. So in that case, I just write it down here so I will never ever forget how it feels like to perform this chant with my fellow brother and sister in KMPN.

Ini bukan sembarang lagu
Lagu buat semua kawanku
Yang di depan yang di belakang
Yang di tengah dan di samping
Berbaris, menjadi satu

Satukan langkah derap dan tekadmu
Satukan semua jadi satu
Hambatan dan rintangan
Semua kami singkirkan
Tak satupun jadi penghalang

Lihatlah wahai semua isi dunia
Inilah kami KMPN
Penerbangan! Hati kami!
KMPN! Jiwa kami!

Jayalah jaya selama-lamanya!


Jakarta Convention Center, 1 December 2012.

Wednesday, February 25, 2015

2 bulan by Vanya "Sitoa" Wilhelmina

"Berawal dari iseng doang ngisi waktu liburan, eh ternyata waktu liburan kepotong banyak dan hectic. Tapi semua itu ga ada apa-apanya dibandingkan moment yang didapet. Yak, itulah kami. Kami dipanggil Nagasaba Kirana, guru Jaya Kirana, dulu Winaya Sunda, murid Antakusuma, nerusin Biantara. Kami adalah pendiklat divisi tata tertib kelompok OSKM 2012.

Makasih banyak buat temen-temen Nagasaba Kirana alias WinSun sabi booots yeah buat perjalanan 2 bulan terakhir. Ibarat lagu My World is Full with You, kalian semua udah ngisi dunia gue hanya dalam waktu kurang dari 2 bulan. Dari kita ngonsep diklat bareng, main bareng, makan bareng, nginep bareng, dan apapun bareng, rasanya seneng banget bisa dapetin moment kayak gini. Selama diklat, banyak hal menyenangkan bersama kalian semua :)

Ocen si kordiv terbully, Tori si galau, Rival dan Tahera si idola para caplok, Dewa dan Natan si MC modus, Kevin si lawak, Ilman yang tetap berkata kecewa, Cella dan Gema dan Denaya yang kalo udah keluar muka marah semua caplok bakalan ciut gue rasa, Bame si komandan disiplin, para taplok HME (Victor, Gacil, Adit, Josi, Alfian, Hasfi, Dibre, dkk) yang datang bersama pulang bersama, Cece dan Ferdi yang selalu bersama, geng Plano (Nurul, Tendi, Yoyo, Fifi, Gina, dkk) yang kalo satu ada semua ada, Kibe dengan muka ngantuk, Ican sang kabid seminar, Evan yang awal-awal lupa kejarkom, Sarden si disiplin, Mardian yang tukang mecahin suasana, Nyoman dan Adi sang telor kuah sejati, Jibo yang sangat aktif, Gilang tetap yang terbaik, Fanny kecil-kecil cabe rawit, Donny yang sejenis Mardian, Rere sang programmer data caplok, Nito yang terlupakan, Citra si ibu sekertaris bersama Gema, Azahrul dan Denis dan Abud sang mamet, Olin yang menjanjikan oleh-oleh ditunggu yah haha, Jeffry sang danlap bersama Sumbranang si Korlap bersama juga Eki dan Babdur si danlaps, dan semua yang tak dapat disebutkan satu-satu disini :’)
Satu kalimat buat kalian semua: Terima Kasih dan selamat menunaikan ibadah puasa hingga nanti lebaran tiba

Tetap ceria dan sabi yah Nagasaba Kirana ({}) Jangan putus meski diklat udah kelar. Ini grup facebook diramaikeun terus kalo bisa haha"

Vanya Wilhelmina - 9 Agustus 2012.

P.S.: Post kali ini memang 100% gue copas dari tumblrnya Vanya. Gue lagi galau sekarang karena kangen mereka semua. Postingan ini benar-benar mewakili apa yang gue rasakan saat ini. If only I could back in time, I would treasure every moment with you guys.. I miss you all, I really do.

Thursday, October 23, 2014

Graduation.

Wisuda merupakan momen dimana kita akan merasa sedih sekaligus senang dalam waktu yang bersamaan, trust me. Rasa senang itu muncul karena kita (akhirnya) dapat mempersembahkan gelar Sarjana kita buat kedua orangtua kita yang telah membanting tulang agar dapat menyekolahkan anaknya sampai Sarjana.

Family Photo

Lalu darimana kesedihan itu muncul?

Buat gue wisuda bukan hanya sekedar tentang kelulusan. Tapi buat gue wisuda itu berarti pindah, pindah ke tahap selanjutnya. Wisuda merupakan suatu momen dimana masa mahasiswa kita berakhir dan babak baru dalam kehidupan kita pun akhirnya dimulai.

Sehari sebelum wisuda, gue merapikan beberapa barang-barang di kamar gue yang akan dibawa kembali ke Jakarta. Bagian tersulit ketika kita akan pindah itu adalah saat kita harus memasukkan barang-barang, yang mungkin penuh kenangan, kedalam dus-dus coklat. Padahal menurut gue berpindah itu sendiri merupakan sebuah proses yang juga (sangat) sulit. Karena, ketika kita berpindah kita akan memulai beradapatsi lagi dari awal di suatu tempat yang asing, di suatu tempat dimana kita sendirian, mulai mengenal orang-orang dari awal lagi dan memulai tali pertemanan lagi dari awal dengan orang-orang baru yang kita temui di tempat asing tersebut.

Seketika itulah rasa sedih muncul pada saat momen wisuda berlangsung, kita harus meninggalkan kehidupan kampus dan kota tempat kita menuntut ilmu selama 4 tahun (mungkin buat yang kuliahnya gak di kota besar malah seneng) dan juga orang-orang yang berada di dalamnya. teman, sahabat, pacar, dan gebetan.

Gue yakin, gak akan gampang untuk memulai sesuatu dari awal lagi, gak akan gampang untuk mengenal dari awal lagi. Tapi ...

...
..
.

Seperti elektron-elektron yang berada pada tubuh kita yang tidak pernah berhenti bergerak mengelilingi inti atom. Apapun yang akan terjadi, kita, mau gamau, harus terus bergerak, berpindah. Karena pada dasarnya seperti itulah kehidupan. Berpindah dari suatu tempat ke tempat lain.. berpindah dari satu tempat kerja ke tempat lain, dan berpindah dari satu hati ke hati yang lain.

Here's a picture of me and friends. See you on top guys!
Joseph - Tahera - Tori - Irna - Nito
Tugu Soekarno - ITB

PS: Doakan gue untuk segera mendapatkan kerja ya.

Monday, January 27, 2014

KF-X (Kelompok-F eXperimental)

Naik motor  jam 5 pagi dari bandara Husein ke kostan.
Diusir dari perpus pusat.
Di labtek V dari matahari terbenam sampai matahari terbit.
Jam 12 malem kedinginan di labtek V.
Lari-lari ke TU buat ngumpulin laporan.
Ketiduran di bangku-bangku labtek V sampe pagi dan udah banyak mahasiswa lain.
Kekonyolan-kekonyolan kelompok F kalo lagi malem-malem jam bego.
Kejutan makanan dari bang Sugi.
Dibantai pembimbing setiap kali asistensi dengan pak HMP.
Dibantai pembimbing (juga) pas presentasi.
Muter-muter nyari colokan di kampus.

Semua itu gak bakal gue dapetin lagi kayaknya di semester 8 ini. Mata kuliah Desain Pesawat Udara di semester 7 lalu emang berkesan banget, mulai melatih kerjasama dengan orang-orang baru, melatih kekompakkan team, dan mengintegrasikan semua ilmu yang udah gue pelajari selama 4 semester gue belajar disini. Terima kasih atas kerjasamanya selama satu semester kemarin, KALIAN GOKIL!

This is the team!



Dari kiri ke kanan: Gue (Chief of Aircraft Stability), Hasan (Chief of Aerodynamics), Pingkan (Chief of Cost Analysis), Diana (Chief of Aircraft Performance), Abdul (Drafter & Chief of Structure), bang Sugi (Chief of Weight and Balance).

Wednesday, May 8, 2013

Achievement Unlocked !

Salah satu achievement terbesar dalam hidup gue yang sudah pernah terwujud, bertemu dan berbicara langsung dengan salah satu orang yang berpengaruh di negaranya, bahkan di dunia… dunia Penerbangan.

Gue masih inget gimana rasanya waktu gue pertama kali sampai di depan gerbang rumahnya, seperti mimpi men. Gue terus berpikir, apakah bener dibalik pagar besi ini beliau sedang menunggu kedatangan gue dan teman-teman?

Dari depan, rumah beliau terlihat tidak terlalu besar dan megah untuk ukuran seseorang yang pernah menjabat menjadi Presiden. Halaman depannya memanjang dari barat ke timur dan dipenuhi oleh tanaman-tanaman hias, Di depan pintu utama sudah menunggu 2 orang penjaga yang sudah cukup berumur.

Gue dan teman-teman harus menunggu beliau di ruang tamu, sementara di ruang tamu sendiri ada beberapa orang alumni Teknik Penerbangan ITB daaaaan pendiri Teknik Penerbangan ITB, Pak Oetarjo Diran. Pak Oetarjo Diran, salah seorang tokoh yang ada dibuku "Habibie & Ainun". Akhirnya gue bertemu dengan seseorang yang bahkan gue gak pernah kepikiran buat bisa ketemu sama dia, karena itu terlalu mustahil bahkan hanya untuk dibayangin.


Suasana di ruang tamu, gue dan teman-teman lagi dinterogasi nih tentang materi yang udah dipelajari selama dijurusan. Men lo harus tau men, itu rasanya kayak ujian kompre tapi LISAN men LISAN !

Semesta emang punya caranya sendiri, setelah hampir gak bisa menjawab lagi pertanyaan-pertanyaan yang diberikan oleh pak Diran akhirnya kita diberitahukan oleh salah seorang ibu-ibu (gue gatau jabatannya dia apaan) kalo beliau sudah siap bertemu dengan kami. Sebenernya bukan hanya kami yang akan menemui beliau, tapi beberapa orang alumni Teknik Penerbangan dan bapak Oetarjo Diran juga ikut menemani kami.

JENG JENG JENG JENG !!

Perasaan tegang dan penuh dengan rasa gak percaya menyelimuti gue, gue terus nyubit-nyubitin pipi gue dan berharap kalo ini bukan mimpi. Gue keringet dingin men ! serius ! mungkin rasa tegangnya sama seperti lo mau nembak cewe kali ya, mungkin.

Dan yak, akhirnya gue bertemu dengan sosok yang amat sangat gue kagumi dari gue masih SMA. Bapak Bacharudin Jusuf Habibie, atau yang lebih kita kenal dengan sebutan B.J. Habibie. Rasanya ternyata bener-bener gak bisa dijelaskan dengan kata-kata loh, gimana ya rasanya kalo kita ketemu sama Rasullulah? Baru ketemu manusia biasa aja kayak gini.

Ini dia eyang Habibie :)

Uniknya ketika gue bersalaman dan cium pipi, gue sempat menyebut pak Habibie dengan kata depan 'pak' dan beliau langsung menjawab.
"Jangan panggil saya pak, panggil saya eyang.." dengan nada bicaranya yang mirip seperti Reza Rahardian di film Habibie & Ainun. (gak kebalik sob?)

Tujuan kami (alumni, gue dan teman-teman gue selaku mahasiswa Teknik Penerbangan ITB) adalah untuk membicarakan acara "50 Tahun Teknik Penerbangan" Sebuah acara yang diadakan untuk memperingati ulangi 50 tahun kelahiran Teknik Penerbangan di Indonesia. *you dont say

Tapi karena eyang memang senang sekali berbicara, FYI aja nih men eyang kalo udah berbicara lamaaaaa banget dan gak bisa dipotong. Awalnya eyang masih membahas tentang acara ini tapi lama kelamaan beliau malah menceritakan pengalamannya mulai dari bertemu dengan Ibu Ainun sampai sekarang.

Ketika eyang menceritakan masa lalunya, itu seperti lo baca buku "Habibie & Ainun" tapi di-narasi-kan langsung sama penulisnya men ! Keren abis ! dan ceritanya lebih lengkap terus lebih lucu gitu. Seumur-umur nih yah paling banter gue dengerin curhatan cinta tentang temen gue men, lah ini curhatan cinta seorang Presiden Republik Indonesia yang ke-3 men ! Gila gak sih ! Pecah men pecah !

Beliau lagi bercerita tentang masa lalunya.

Yang paling sedih sih waktu dia menceritakan tentang kenapa proyek pesawat N250 Gatotkoco harus kandas. Sedih, kecewa, kesal, dan marah memenuhi hati gue saat itu. Apalagi dengan ditambah kata-kata beliau waktu itu "Saya menghabiskan terlalu banyak waktu saya untuk pesawat ini (N250) sampai saya lupa keluarga dan kesehatan saya.." Sedih banget men sedih banget.

Buat yang udah nonton film 'Habibie & Ainun' pasti tau kan adegan pas Reza Rahardian mengusap badan pesawat N250 yang sudah sangat berdebu. Menurut gue itu salah satu scene yang bisa bikin mata gue berkaca-kaca. Ini gak lebay kok. Sejak saat itu gue juga memiliki sumpah, sumpah untuk ibu pertiwi. 

Kesedihan dan kebanggan eyang tentang N250 kebetulan pernah gue tulis di blog gue, silahkan dilihat Pemunculan dan Terbang Perdana N250-Gatotkoco.

Pak Oetarjo Diran dan Pak Habibie

Pertemuan seperti mimpi ini pun diakhiri dengan silaturahmi dan foto bersama. 

Foto bareng Alumni, Mahasiwa, Pendiri Teknik Penerbangan, dan Tokoh Dunia Penerbangan.

Lagi diceramahin dan diberi wejangan-wejangan sama eyang.

Dan foto yang paling terakhir, YES ! YES ! YES ! Akhirnyaaaa ! Ini adalah foto gue bareng eyang. Banyak yang mengira ini photoshop, karena kacamata gue memantulkan cahaya sedangkan kacamata eyang engga, nih sob buktinya. mungkin yang bilang kayak gini gak ngerti tentang teknik fotografi, atau pas pelajaran fisika tentang gelombang optiknya ngulang ! uyeeee !

Dan satu lagi men, emang gue peduli lo bilang photoshop? KAGAK. *ROTFL

Sirik tanda tak mampu men !


Wednesday, September 5, 2012

OHANA


Gue gak menyesal sama sekali udah menghabiskan waktu liburan gue selama hampir 2 bulan ini untuk tetap berada di kampus untuk menjadi bagian dari OSKM ITB 2012.

Pada OSKM 2012 gue sudah tidak lagi berperan sebagai Taplok seperti di PROKM 2011 dan  Maba Unyu lagi seperti di INKM 2010. Tetapi sekarang giliran gue yang menjadi Pendiklat, dan gue juga merangkap sebagai Tata Tertib Disiplin.

Selama gue jadi Pendiklat, gue bertugas untuk mendampingin kelompok 13 : Putri Duyung (INDIGO). Yaa kelompok ini isinya emang hampir semua orang-orang INDIGO, kesabaran gue benar-benar di uji ketika gue harus berhadapan dengan mereka.

Awalnya kelompok 13 ini didampingi oleh Joseph, teman gue sesama pendiklat, tetapi gak tau kenapa Joseph malah memaksa gue untuk menggantikannya menjadi pendamping tetap kelompok 13. Padahal gue udah berjanji sama diri gue kalo gue ngediklat gue gak mau megang kelompok, dan gue pertama kali berpikir kalo angka 13 itu angka sial, makanya dulu gue sempat menolak untuk menjadi pendamping tetap kelompok 13. Tapi sekarang gue tahu, kalo ternyata (mungkin) Joseph gak kuat menghadapi keindigoan mereka ini.



Itu adalah foto gue bersama anggota kelompok PDI (Putri Duyung Indigo) ketika mereka baru saja dilantik, kalo gue gak salah inget waktu itu tanggal 26 Juli jam 04.17 WIB di lapangan sipil.

Gue kenalin dulu mereka satu per satu kali ya. Oke yang pertama,

Ojan (Ketua Kelompok) : Orangnya gak bisa diem, ngomong mulu, tujuan masuk divisi taplok karena mau modus, dan awalnya dia modusin anggota kelompok PDI yang namanya Lani. Tapi sekarang malah jadian sama taplok yang lain, aduh Ojaaaaan.

Erland : Anak sipil yang suka nonton SDN 48 HAHAHA, dan ternyata dia sohibnya ketua kelas gue waktu gue di kelas XII IPA 1.

Richard : Sama aja kayak si Erland sukanya sama SDN 48, peduli sama temannya, dan bisa diajak kerjasama.

Bagas : Meskipun tampangnya terlihat bengis tetapi hatinya gamais, Subhanallah.

Mas Edy : mas Edy iki ngomonge meledok tenan loh.

Arya : Meskipun dia anak mesin yang terkesan sangar-sangar itu, tapi dia juga suka sama boneka beruang, warna pink lagi. So unyuuuu

Nizar : Cukup tidak banyak omong, tetapi sekalinya ngomong langsung ngegombal. “Kaa, kakak yang itu kok diem aja daritadi. Tapi dihati aku dia ngomong terus” 

Aditya : Pendiam dan cenderung tidak banyak omong, taraf ke-INDIGO-annya tidak seperti anggota kelompok PDI yang lain.

Arizki : Kayaknya cinta banget sama kelompok ini yaa, PDI.

Lutfi : Males banget ikut diklat nih anak, fotografer.

Faisal : Jarang ngomong nih, tapi tetep aja Indigo.

Pandu : Baru muncul setelah beberapa kali diklat, anak GT.

Zevni : Sibuk, jarang dateng diklat.

Asti : Sanguinis abis, kalo curhat suka gak bisa berhenti, ngeselin, suka ngebully gue, dan dia suka banget banget banget sama yang namanya Daun, Vegetarian kali yaa?. Terakhir… kalo baca SMS bener-bener dibaca dengan suara LANTANG.

Tami : Satu tipe sama yang namanya Asti, suka naik gunung, sedikit ngeselin, dan sering memberikan pukpukpuk buat gue.

Lani (nama samaran) : Gambarnya bagus (tapi kenapa malah masuk TL bukannya SR), pendiem, selalu di bully, gak berani ke toilet CC lantai 2 sendirian kalo malem-malem, sering berada di pos medik, dan sering not responding.

Firda: Kalo membaca review dan resume hariannya seperti membaca novel loh.

Fitsel : Dieeeem banget deh mbanyaaa, kayak putri solo, tapi suka ngegosip juga ya ternyata Heeemmm.

Rismawati : Sedikit normal daripada yang lain.

Fefe : Genit HAHAHA

Ami : Agak sedikit kurang nyantai, peace ah mi HAHAHA

Reni : Kurang berani menujukkan kemaluannya… ehh maksudnya kurang berani malu, di depan umum.

Tania : Jarang dateng diklat karena sibuk SP, maklum SBM wajib SP.

Sekarang saatnya gue memperkenalkan diri, nama gue Tori, Pendiklat kelompok 13 : Putri Duyung Indigo. Orangnya asik, gaul (ape galau), ramah, tidak sombong, rajin menabung, suka membantu orang tua, dan sering ke masjid salman.

Well itu semua adalah anggota kelompok Putri Duyung Indigo. Yaaa kurang lebih gue harus menghadapi orang-orang aneh itu selama 1 bulan terakhir ini. Sebenarnya sih selama ngediklat mereka gue juga ditemenin sama Berlian, tapi doi Indigo juga.

Gue juga pernah dikerjain sama mereka. Waktu itu para caplok mendapat tugas untuk membuat makrab dan dresscodenya harus sesuai dengan tema kelompok masing-masing. Berhubung kelompok 13 itu Putri Duyung, maka dresscodenya harus yang bernuansa pantai. Siang hari sebelum makrab gue mendapat SMS dari Ojan,

“Ka, nanti buat makrab kalo bisa pake baju pantai ya, yang baju kembang-kembang itu sama celananya kalo ada ya. Oke makasih kak..”

Trus ada juga SMS dari Asti, “kak Tor ntar pake baju kembang-kembang sama celana yang kembang-kembang juga ya kalo ada, soalnya tema kelompok kita pantaii..”

Dan pada saat itu juga gue langsung mencari kedua item tersebut. Karena gue gak punya keduanya maka gue uring-uringan nyari baju sama celana itu kesana kemari, nanyain temen gue satu jurusan satu per satu, bahkan gue sampe nanyain seluruh masa kampus satu per satu di Forbas. Tapi untungnya ada yang punya, waktu itu gue minjem sama si Janda, Janda ini nama orang bukan janda beneran.

Dengan pede dan sok cool gue dateng ke lapangan SR memakai baju dan celana bermotif bunga-bunga, tapi pas sampai disana gue gak menemukan satupun anggota kelompok PDI yang se-TOTALITAS gue. TEGAAA ya kalian ngerjain pendiklat sendiri ERRrrrr…


Akhirnya meskipun awalnya gue merasa kayak badut ancol, tapi gue santai aja kayak di pantai, slow kayak di pulau. Yaa malam itu gue harus bermuka tebal sampai acara selesai.

Walaupun begitu tapi ternyata mereka kreatif loh. Gue salut mereka punya ide untuk membeli gelang yang glow in the dark, jadi sesama anggota PDI bisa dengan mudah menemukan anggota PDI yang lain dalam kegelapan, dan gue di kasih satu gelang tersebut sama mereka. Gue masih menyimpan gelang itu meskipun gelang itu udah gak bisa menyala di kegelapan lagi, Karena meskipun gelang itu udah gak bisa menyala di dalam kegelapan tetapi gelang itu tetap menyala di hati gue.

Hal yang paling berat selama gue ngediklat mereka adalah ketika gue harus memberikan pengumuman tentang kelompok taplok mereka masing-masing ketika hari H nanti. Karena disitu gue gak memegang semua nama anggota kelompok PDI, dengan kata lain ada beberapa orang yang bermasalah dan mungkin aja gak dilantik, Sementara disitu hadir orang-orang yang namanya tidak ada sama gue. Dan sampai pada akhirnya ternyata mereka memang gagal menjadi taplok karena ada beberapa nilai yang tidak terpenuhi oleh mereka.

***

Melepas mereka bukanlah perkara yang mudah buat gue. Yaa ketika malam mereka resmi dilantik menjadi Jaya Kirana, malam itu gue sadar kalo mulai hari ini gue pasti gak bakalan bisa ketemu mereka lagi, berkumpul bersama mereka lagi, atau bahkan hanya sekedar ngobrol sebentar bersama mereka.

Mungkin seperti ini kali ya perasaan Orang tua yang melepas anaknya ketika anaknya ingin kuliah di luar kota yang jauh dari pengawasan mereka, atau mungkin perasaan seorang guru yang melihat anak-anak didik kesayangannya lulus.

Teman gue sesama Winaya Sunda pernah bilang sepertu ini ke gue,

“Meskipun gue gak bisa liburan bareng keluarga gue dirumah, tetapi disini gue menemukan keluarga baru kok…”

Yaaa gue sudah menyebut mereka sebagai keluarga baru gue. Karena dibalik keanehan mereka, di balik kecacadan mereka, dan dibalik semua keindigoan mereka… berada disekitar mereka itu membuat gue merasa nyaman.

Bukankah itu definisi dari keluarga? Orang-orang yang bisa membuat kalian merasa nyaman jika kalian berada di sekitar mereka, orang-orang yang selalu menghibur kalian jika kalian sedih, dan orang-orang yang ikut bahagia jika kalian bahagia. Mungkin gue hanya bisa menghabiskan waktu 2 minggu dari 3 bulan liburan gue bersama keluarga gue yang sebenarnya, tetapi semua itu gak sia-sia karena gue menemukan keluarga baru disini.

“Ohana means family, family means no one gets left behind or forgotten”

Wednesday, January 4, 2012

Kata Mereka Tentang ITB


Ini artikel pendapat head-hunter tentang lulusan ITB. Saya mahasiswa ITB, dan saya sangat berterima kasih kepada Satrio Madigondo yang telah melakukan kritik terbuka seperti ini. Sebelumnya artikel ini isinya semua langsung saya COPAS dari status facebook teman saya, jadi ini bukan tulisan saya. Menurut saya artikel ini bukan untuk menjatuhkan kita para mahasiswa ITB, tapi justru malah membangun kita. awalnya juga saya sempat panas dengan artikel ini, siapi sih yang mau di kritik pedas macam ini. tapi setelah saya pikir-pikir ada benarnya juga tulisan dari bapak ini. menarik untuk disimak, silahkan dibaca.

"Love your haters, they are your biggest fans. Why? Because they always waste their times just for notice your every wrong move."

"Disclaimer:
Tulisan ini merupakan hasil observasi sebagai Rekruiter selama 4 tahun terakhir. Mohon jangan digeneralisasi. Kalau ada yang tersinggung, mohon maaf ya!



Adalah sebuah rahasia umum di mana terdapat berbagai tipe pekerja berdasarkan tempat belajarnya. Anak UGM dikenal lugu, tidak neko-neko, dan rendah hati. Anak UI dikenal fleksibel dan cepat belajar. Anak ITB dikenal sebagai 'pemikir makro', besar omong, dan kaku luar biasa. Apakah stereotipe ini benar adanya? Saya tidak berani mengamini dengan sepenuh hati karena belum melakukan penelitian secara ilmiah. Dari pengamatan yang saya lakukan selama rentang 4 tahun belakangan (dalam kapasitas sebagai head-hunter, pastinya), beberapa karakteristik dapat saya verifikasi. Anak UGM memang terbukti lugu, tidak ambisius; anak UI dengan fleksibilitasnya, dan anak ITB dengan kekakuan dan kesombongannya. Hal terakhir ini yang ingin saya angkat. Kenapa? Karena karakteristik ini sangat menonjol dan sangat mengganggu proses rekrutmen.



Tidak hanya ITB junior, tapi para senior ITB juga terjangkit virus kaku dan sombong ini. Kekakuan yang mereka tunjukkan dapat saya maklumi karena mereka adalah orang-orang teknik. Secara ilmiah, sudah pernah dibuktikan bahwa ilmu-ilmu eksak, terutama teknik memang membentuk pribadi yang kaku. Selanjutnya, virus sombong. Pernah dengar cerita Narcissus? Saya yakin pernah. Dan inilah penyakit akut yang menjangkiti (hampir) seluruh anak ITB.



Hampir semua anak ITB yang saya temui memiliki gejala self-oriented yang begitu tinggi. Bukan sekali atau dua kali saya menemui anak ITB yang berbicara tentang prestasi dan mimpi mereka. Mimpi atau cita-cita biasanya diskalakan dalam ukuran makro: "Proyek....Nasional," "Se-Indonesia." adalah kata-kata yang sering saya dengar. Diucapkan dengan mimik muka luar biasa yakin dan nada tinggi. Ketika bicara soal jejaring, mereka selalu mau menjadi "yang kenal dengan..." (Biasanya orang-orang terkenal, minimal menteri). Mereka juga bukan anggota tim yang baik karena selalu mau menang sendiri. Hal ini biasanya terjadi dalam lingkungan kerja non-ITB. Yang terakhir, mereka adalah pemuja diri sendiri.


Appraisal bagaimana yang mereka lakukan? Begini kira-kira contohnya:
Jumat lalu saya menemui seorang kandidat, lulusan ITB. Ketika saya tanya soal prestasinya dia berulang kali menekankan hal-hal berikut:
(1) Pencapaian nilai kimia yang sempurna (100) di mana hanya terjadi 5 tahun sekali, orang satu2nya di antara 1,400 mahasiswa lain (diulang 3 kali)
(2) Pemimpin yang sangat baik, excellent! (diulang minimal 3 kali)
(3) Sangat bisa segalanya.
(4) Semua orang kenal saya.
(5) Ada lowongan regional manager Asia tapi tidak diambil dan kalaupun dia yang maju, sekitar 98% kemungkinan dia pasti jadi (diulang 2 kali)



Dan hal-hal tersebut diceritakan berulang-ulang, dengan berulang kali penghentian kalimat pada bagian2 tertentu. Hal ini untuk memberi efek penekanan dan pujian (Serius, dia mengharapkan itu). Perilaku yang ia tunjukkan selama wawancara adalah "You listen to me, and answer my questions. dedicate your time for me. You need me." Ketika saya bertanya apakah dia ada pertanyaan mengenai proses maupun klien saya, dia hanya mengajukan beberapa pertanyaan. Lucunya, ketika saya menutup wawancara dengan dalih ada urusan lain, dia malah bilang "Oh pantesan ibu buru-buru. Jadi kapan saya bisa tanya2 ibu lagi?" (Lhoh??) Setelah itu dia masih berusaha nyerocos menceritakan kehebatannya di konteks pekerjaan.



Baiklah, saya tidak ada masalah dengan kandidat yang menceritakan prestasi kerja. Saya malah senang. Soalnya orang Indonesia cenderung menggunakan "Kami" dan malu-malu jika saya minta cerita soal prestasi kerja. Tapi ketika hal tersebut diceritakan dengan terlalu bersemangat, dengan nada sombong dan penuh keyakinan, hal tersebut jadi memuakkan. Kandidat lain yang juga adalah alumni ITB dengan kepercayaan diri luar biasa menjual gelar S2 yang ia dapatkan di Jerman untuk meminta gaji tinggi. Tidak tanggung-tanggung, cukup EUR 5,000. Iya, EURO, bukan Dollar. Per tahun? Tidak, per bulan. Katanya, standar gaji S2 di Jerman segitu. Oh, Tuan Pintar, sebaiknya kamu ke Jerman aja, jangan di sini.



Teman saya yang lulusan ITB lain lagi, nggak mau kerja. Mau wirausaha. Sayangnya, karena tidak memiliki pengalaman, ia berulang kali gagal. Ia tidak mau belajar dari pengusaha yang sudah maju, memilih produk2 jualan yang kurang komersil, dan tidak memiliki jejaring yang mendukung. Pikirannya sempit, tidak tahu medan yang ia masuki tapi sombongnya luar biasa. Hmmm.Ini adalah hal lain yang masuk virus Narsisus, menghargai diri begitu tinggi sampai tidak memperhatikan standar yang ada. Tidak hanya soal gaji, soal kerjaan pun mereka sangat pemilih. Hanya mau perusahaan A, B, atau C. Kalau tidak, mau kerja sendiri karena mereka terlalu 'bagus', over-standard untuk bekerja dalam sebuah organisasi.


Pertanyaan saya:
Ada apa sebenarnya dengan para alumni ini? Apa sebenarnya yang diajarkan di ITB? Kenapa para lulusannya memiliki kesombongan terprogram - yang secara kolektif terjadi?. Kalau yang saya dengar, ini berasalah dari 'cuci otak' pada masa plonco. Sumber lain mengatakan ini juga berasal dari persaingan internal ITB yang tidak sehat. Semacam seleksi alam, di mana sang pemenang akan menjadi sangat berkuasa. Sifat inipun kemudian terbawa ke kehidupan kerja. Tapi ini baru asumsi dan opini sekelumit orang, saya tidak berani mengatakan hal tersebut memang terbukti.

Jika ada yang membaca ini dan termasuk alumni ITB yang menyangkal, ya nggak papa juga. Kan di awal sudah dikatakan bahwa ini adalah hasil observasi saya selama bekerja sebagai Head Hunter. Saya cuma mau berpesan: Janganlah jadi Narsisus. Kami sudah tahu anda hebat, tetapi tidak perlu membesar-besarkan kehebatan anda. Kami tahu persis anda pintar, dan mungkin terpintar se-Indonesia. biarkan prestasi anda yang bicara. Kalau tidak bisa se-Indonesia, jadi paling pintar se-Bandung saja masih oke kok. Jangan biarkan imej yang melekat di ITB adalah Produser Narsisus. Sudah cukup banyak Narsisus di negeri ini.



Salam,
Satrio Madigondo.-" 

PS : "Kritik akan membuatmu besar kawan, sedangkan pujian yang berlebihan hanya akan membuatmu lupa diri."