Categories!

Aerospace! (1) Astronomy! (3) Guitar Chords! (16) Homemade Stories (19) Institut Teknologi Bandung (7) Poetry (3) Tutorials! (1)
Showing posts with label Homemade Stories. Show all posts
Showing posts with label Homemade Stories. Show all posts

Sunday, December 13, 2015

Milo.

Waroeng Setiabudhi, December 11th 10.05 PM

'Wih asik ada Milo'
'...' Jantung gue seperti melewatkan satu denyutan saat mendengar teman gue mengucapkan kata itu, 'milo'. Gue menjatuhkan kertas menu dan pulpen yang gue pegang ke atas meja. Gue terdiam, menghela napas panjang dan memejamkan mata gue, berusaha untuk menenangkan diri.

'Lo kenapa kak?'
'Kak?'
'Lo gapapa?'
'Kak........'

Gue melepas kacamata gue kemudian meletakkannya di atas meja. Gue menutupi wajah gue dengan kedua telapak tangan gue sambil terus menghela napas panjang. Jantung gue berdegup tidak menentu. Badan gue terasa lemas karena tekanan darah gue yang tiba-tiba berkurang.

***

August 4th, one year earlier, 11.35 PM.

'Gue lagi di sadikin nih, lo belom makan kan? Sini nyusul aja'
'Iya aku belum makan... Takut, udah gelap'
'Yaudah gue jemput ke kosan lo ya?'
'Boleh...'
'Gue jalan sekarang ya' Gue menawarkan diri untuk menjemput dia di kosannya karena kosan dia memang tidak jauh dari tempat gue makan sekarang ini, sekitar 3-5 menit berjalan kaki.

Sadikin merupakan sebuah warung kopi kecil yang sangat terkenal di kalangan mahasiswa yang umumnya tinggal di cisitu. Menu yang biasa dijual disini adalah berbagai macam rasa mie rebus dan goreng juga berbagai minuman hangat dan dingin. Biasanya tempat ini hanya ramai di malam hari, di jam-jam seperti ini misalnya. Dimana para mahasiswa baru pulang dari berbagai macam kegiatan di kampus atau mereka-mereka yang terlalu asik mengurung diri di kamar sehingga melewatkan jam makan malam. Tempat ini biasa diramaikan oleh mahasiswa karena memang harganya yang sesuai dengan kantong mahasiswa.

'Mau makan apa? Mie rebus atau goreng?' tanya gue ke dia
'Rebus'
'Pake telor?'
'Iya'
'Single atau double?'
'Single aja, nanti aku gendut...'
'Hahaha iya, kalo minumnya mau apa?'
'Hmm...' Dia gak menjawab pertanyaan gue. Tatapan dia terpaku melihat menu dari berbagai macam jenis minuman instant yang tergantung di tembok, layaknya di warung kopi pada umumnya. Kedua tangannya ia masukkan ke dalam kantong sweaternya sambil terus memperhatikan berbagai macam pilihan minuman yang disediakan di sini.

Saat saat seperti ini merupakan saat yang paling gue suka saat bersama dia. Setiap kali dia bingung akan memilih sesuatu dia selalu mengeluarkan ekspresi khasnya itu. Ekspresi yang membuat gue selalu jatuh cinta lagi dan lagi ke dia. Saat seperti ini juga merupakan kesempatan gue untuk mengagumi keindahan salah satu mahluk ciptaan-Nya ini. Karena di saat-saat seperti ini, dia tidak terlalu fokus untuk memperhatikan keadaan di sekitarnya, termasuk gue yang sedang memperhatikan dia.

Setiap kali kita makan bareng, gue selalu mencari-cari kesempatan untuk dapat diam-diam melihat dia. Karena kalo dia tau gue liatin kayak gini, dia akan langsung marah ke gue. Seperti suatu ketika saat gue nemenin dia mengerjakan laporan mata kuliah Pengelolaan Sampah di perpustakan pusat kampus gue, yang mungkin akan gue ceritakan lain kali.

'Ada milo loh kalo mau...' gue menawarkan dia pilihan karena dia tidak kunjung menentukan pilihan mau minum apa.
'Ada?! Mau!'
'Milo hangat ya?' tanya gue ke dia lagi yang hanya dia balas dengan anggukan penuh semangat.

'I really am falling hard for this beauty girl sitting beside me' kata gue dalam hati setelah melihat dia menangguk seperti layaknya anak kecil yang ditawarkan es krim oleh orangtuanya.

If you are reading this, I am not trying to say that you're childish. But, I just want you to know that I really love the way you 'said' yes to my offering that night.

Mungkin kita memang hanya makan di warung kopi, mungkin juga memang tempatnya tidak sebagus restoran-restoran mewah seperti The Valley, Maja House, dan restoran-restoran mewah lain di daerah Lembang atau Dago Pakar. Tapi buat gue, menemani dia makan mie rebus dengan lahap di sebuah warung kopi sederhana seperti ini sudah cukup untuk membuat gue bahagia.

Because, happiness does really come from a little thing. For instance, seeing your loved one smiling after she ate a bowl of noodles and drank a glass full of Milo.

***
Present day

'Gapapa kok. Gue cuma inget aja sama ****' kata gue menyebutkan nama seseorang. Kondisi gue sudah lebih baik daripada sebelumnya, saat gue menjawab pertanyaan temen gue itu. Meskipun dada gue masih terasa sedikit sesak.

Sering kali gue mengalami fenomena seperti ini. Ingatan yang muncul tiba-tiba. Seringnya, ingatan yang tiba-tiba muncul ini adalah ingatan tentang dia. Anehnya hanya dengan satu kata, dapat menyebabkan ini semua. Pernah suatu ketika gue sedang mengerjakan sesuatu di kantor, lalu gue mengalami ini, gue tiba-tiba inget dia. Dada gue sesak, napas gue langsung tidak teratur seperti seseorang yang baru menyelesaikan lari marathon, dan jantung gue seperti melewatkan sebuah denyutan. Tentu saja hal ini sangat tidak gue inginkan karena sangat mengganggu produktifitas gue di kantor dan gue rasa... hal seperti ini sangat tidak baik untuk kesehatan jantung gue.

Aneh ya, perasaan yang terluka... tapi malah jantung yang sakit.

'Lo... masih... mikirin dia?' Gue menganggukkan kepala tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. 'Setelah selama ini?'
'Iya...' kata gue pelan.
'Kok bisa?' kata dia heran
'.....'  gue diam sebentar, lalu dengan penuh keyakinan gue menjawab 'Gue sayang banget sama dia.'
'Masih?' tanya temen gue lagi masih dengan ekspresi herannya.

'Belum berubah. Sejak pertama kali gue ketemu dia, 3.5 tahun yang lalu'


"After all this time?" Prof. Dumbledore
"Always." Severus Snape

Harry Potter and The Deadly Hallows.

Saturday, May 2, 2015

Come On.

Beberapa hari yang lalu di sela-sela jam kantor yang cukup padat, gue chatting sama temen gue melalui salah satu aplikasi instant messenger untuk menunggu waktu makan siang yang tidak beberapa lama lagi. Gue lupa siang itu kita lagi ngobrolin apa sampai tau-tau kita membahas tentang 'move on'. Kalian pasti bosen ya karena belakangan ini isi post gue gak jauh-jauh dari itu.

Oh iya gue inget, kita lagi ngomongin kemahasiswaan. Kalo gak salah waktu itu gue lagi nanya-nanya ke dia tentang bagaimana keadaan kampus saat ini. Soalnya dari akun twitter kemahasiswaan kampus gue yang gue follow, rasanya keadaaan kemahasiswaan saat ini sedang bergejolak. Sampai bulan April belum ada Ketua Kabinet Keluarga Mahasiswa (K3M) yang terpilih loh. Sampai dia bilang.

"Ini apa sih udah lulus juga masih kepooo aja sama kemahasiswaan"

"Yah namanya juga alumni muda ti, masih belum move on dari kemahasiswaan"

"Bilang aja belum move on dari kemahasiswiannya kak (grin)"

"Iya, kayak lo yang belum move on dari si itu kan"

"Kaktor kaliiiii yang belom move on dari si anu, malah ngeledekin orang"

"Hahaha, lah emang gue belom move on kok dari si anu"

"Kok santai sih ngejawabnya?"

"Lah emang kenapa?"
 "Gini ya, menurut gue mah gak move on itu bukan berarti tiap detik lo mikirin dia sambil nangis-nangis di dalem kamar. Kalo buat gue, gak moveon itu cuma berarti kita gak bisa atau belum bisa suka sama orang lain selain satu orang yang gak bisa bikin kita move on ini. Saat kita belum move on, kehidupan kita tetap berjalan seperti biasa. Kita masih hangout sama temen, masih ketawa-ketawa, masih makan tiga kali sehari. Masa iya kita nangis tiap hari? Engga kan? Jadi buat gue 'gak move on' itu bukan sebuah aib yang harus lo singkirkan dan malu untuk lo akui."

"Ya gapapa sih, asal mau terpuruk terus mah"

"Iya gue udah tau kok konsekuensinya."

Juni 2012 merupakan awal pertemuan gue dengan dia. Dalam hanya satu detik pertama gue melihat dia, gue merasakan sesuatu yang sangat berbeda. Sesuatu yang gak gue lihat ketika gue melihat cewek lain. Sesuatu yang gak bisa gue jelaskan dengan kata-kata. Sesuatu yang langsung membuat gue bilang 'She is the one.'

Sejak moment itu, gue berjanji sama diri gue sendiri kalo gue harus bisa deket sama dia. Long story short, we were close and I confessed my feeling to her and I got rejected, many times. Well, kadang gue suka bingung perbedaan antara berani berjuang sama tolol. But, it's good to know that I am not the only one who did this.

This kind of guy is real. Trust me, I've been there and I've done that.
Sampai saat ini, gue belum pernah bisa merasakan perasaan seperti itu lagi ketika gue melihat cewek lain. Makanya, gue lebih memilih untuk sendiri seperti ini sampai akhirnya gue bisa merasakan perasaan seperti itu lagi ke cewek lain.

Sunday, April 12, 2015

Undone

'Tor. Jangan. Lo ngapain sih ketemu dia lagi? Urusan lo sama dia tuh udah berakhir. Udah beres. Udah kelar. Kalo kayak gini caranya, usaha lo selama ini buat ngelupain dia jadi gak ada artinya.'

'Gue tau vin. Tapi gue cuma pengen melihat dia satu kali lagi aja. Soalnya gue ...' ada jeda sebentar sebelum gue berhasil menyelesaikan kalimat gue '... kangen.'

'Terserah lo deh. Paling nanti gue tinggal bilang gini ke lo "Gue bilang juga apa" ...'


McDonald's Dago, Bandung, 29 Maret 2015, 14:25 WIB.

'Hey, sorry ya baru sampe. Udah lama nunggu?' kata gue
'Baru 5 menitan yang lalu kok, titip tas dong mau ke toilet nih'
'Sok sok'

Gue yang males nunggu sendirian dan kepanasan akhirnya memutuskan untuk ke kasir mencari sesuatu yang bisa menghilangkan rasa dahaga gue. Gue pasti terlihat sangat aneh pada waktu itu karena gue berjalan dari tempat duduk kita sampai ke kasir dengan memakai tas dia. Setelah bepikir cukup lama untuk memesan apa akhirnya gue memutuskan untuk memesan satu McFlurry Oreo. McFlurry Oreo yang gue pesan sampai bersamaan dengan dia yang sudah selesai dari toilet.

Saat kita mau balik ke tempat duduk kita yang tadi, ternyata tempat duduk kita sudah diisi oleh orang lain. Gue pun mengajak dia untuk mencari tempat duduk di lantai 2. Lantai 2 pun gak kalah ramenya waktu itu, tapi untungnya kita masih bisa dapet tempat duduk. Setelah kita berhasil mendapatkan tempat duduk, akhirnya dia membuka obrolan.

'Kok tumben ngechat gitu? Itu dibajak lagi ya?' kata dia sambil mengambil satu buah botol pocari sweat dari dalam tasnya. Dia sangat menyukai minuman ini. Dari pertama kali gue mengenal dia, gue selalu memperhatikan, dimana pun dan kapan pun, dia pasti selalu mempunyai sebuah botol pocari sweat di dalam tasnya.

'Hahaha engga kok, kali ini emang beneran gue' jawab gue.
'Serius?'
'Iya serius, kok gak percaya sih'
'Ya abisnya kan udah beberapa kali setiap ngechat kayak gitu, eh ternyata dibajak.' kata dia sambil mengekspresikan wajah-sedikit-kesalnya yang udah lama gak gue liat. She was adorable, as always, even when she's showing her annoyed face. Gue cuma senyam senyum menanggapi perkataan dia yang itu.

Butuh waktu beberapa menit untuk gue terbiasa ngobrol sama dia lagi. Karena seperti yang kalian tahu, gue udah lama gak ngobrol sama dia secara langsung seperti ini. Gue. Canggung.

Setelah basa-basi cukup lama akhirnya obrolan kita gue lanjutin ke topik yang sebelumnya mau gue bicarakan sama dia secara langsung. Sebenernya topiknya sangat gak penting. Sebenernya alasan utama gue ya emang cuma ingin ketemu sama dia aja. Mulai dari topik yang gak serius ini, topik yang gue jadikan alasan supaya gue bisa ngajak dia ketemuan, kita beranjak ke topik yang lebih serius.

'Gue rasa, kita gak akan pernah bisa biasa lagi.'
'Kok, kenapa?' tanya gue penasaran.
'Liat aja sikap lo ke gue, gue ngerasa lo ngusir-ngusir gue dan pengen gue cepet pergi dari sini' Ada jeda sebentar sebelum dia melanjutkan perkataannya 'Gue udah kenal lo dari lama kali, gue tau saat lo biasa aja dan saat lo gak biasa aja.'
'Gitu ya.' kata gue singkat

Gue merenungkan perkataan dia dan berusaha mengingat-ingat apa yang gue lakukan beberapa menit yang lalu, dan gue setujuh dengan pendapat dia. I was freaked out. I was unconsciously doing that.

Gue mau mempertahankan obrolan kita selama mungkin tetapi disisi lain gue gak mau terlalu lama bareng sama dia. Gue takut semua usaha gue untuk move on selama ini akan sia-sia (padahal udah sia-sia). Gue takut obrolan-obrolan kita nantinya malah akan membawa gue kembali ke masa lalu. Makanya gue terlihat seperti ingin mengakhiri pertemuan kita ini secepatnya. Padahal sesungguhnya gue gak ingin cepet-cepet pergi dari sini. Gue gak ingin pertemuan ini cepat berakhir.

Kita berdua beranjak dari tempat duduk kita masing-masing. Keheningan menyelimuti kita berdua, masing-masing dari kita gak berkata apapun sampai kita menuruni tangga menuju lantai 1.

Gue berhenti tepat di depan kasir di lantai 1. Dia pun berhenti. 'Sampai ketemu lagi ya' kata gue 'Sorry ya buat yang tadi, mungkin gue kurang senyum aja. Jadi gue kelihatannya sensi dan gak ramah'. Gue gak menjelaskan alasan utama gue kenapa gue terlihat seperti berusaha ingin buru-buru pergi dari dia. Kenapa gue terlihat ingin mengakhiri pertemuan kita secepatnya.

Dia hanya membalas gue dengan senyuman kecil. Bukan senyuman yang menandakan bahwa dia sedang dalam keadaan baik-baik saja. Tapi senyuman yang dibuat-buat. Senyuman yang menandakan bahwa dia sedang memikirkan sesuatu yang membuat dia gak nyaman.

Dia berjalan menjauhi gue dan keluar melalui pintu kaca yang transparan. Gue hanya melihat dia berjalan terus dan terus menjauhi gue. Berjalan ke tempat yang gak bisa gue jangkau lagi. Pintu itu tertutup perlahan seiring dengan jarak antara kita berdua yang semakin menjauh.

Setelah dia sudah tidak terlihat lagi. Gue duduk, dan menghabiskan McFlurry Oreo gue, saat pengeras suara di dalam ruangan memainkan lagu Shake It Out dari Florence + the Machine.

Gue melihat ke sekeliling sampai mata gue terpaku di suatu titik. Gue melihat ke tempat duduk, tempat dimana kita pernah makan bareng pertama kali. Tempat duduk itu kosong. Tapi beberapa detik kemudian, tempat duduk itu terisi oleh dua orang. Gue melihat bayangan gue dan dia saat kita makan bareng dulu. Dia terlihat begitu bersemangat menceritakan sesuatu. Sementara gue, gue sedang menghabiskan soft drink gue dan mata gue gak pernah lepas memperhatikan dia yang sedang menceritakan sesuatu.

Bayangan gue dan dia hilang saat ada sebuah keluarga kecil yang menempati tempat duduk itu.

Susunan bangku di sini belum berubah sama sekali, masih sama seperti waktu itu. Sama seperti gue yang belum berubah. Gue yang masih mengagumi dia sampai saat ini, rasa kagum yang gak pernah berkurang seperti saat pertama kali gue melihat dia 3 tahun yang lalu.

"And I've been a fool and I've been blind
I can never leave the past behind
I can see no way, I can see no way
I'm always dragging that 'horse' around

And our love is passed, it's such a mournful sound
Tonight I'm gonna bury that 'horse' in the ground
So I like to keep my issues drawn
But, It's always darkest before the dawn"

Shake it Out - Florence + the Machine

Sunday, March 8, 2015

Will

‘Woy bangun asu, udah jam 9 lewat ini’

Gue masih ngantuk banget saat Wahyu mencoba membangunkan gue dari tidur gue yang nyenyak. Gue berusaha membuka mata gue perlahan. Ada rasa perih yang muncul saat gue membuka mata gue karena gue emang baru tidur beberapa jam.

‘Lo tidur jam berapa nyet?’ Gue menjawab pertanyaan Wahyu dengan membuka tangan gue menunjukkan jumlah jari gue yang ada 5.

‘Jam 5?’ kata Wahyu. Gue cuma mengangguk kecil kemudian membungkus badan gue dengan selimut berusaha untuk melanjutkan tidur gue lagi.

***

Cerita ini bermula pada hari Jumat, 6 Maret 2015. Gue dateng ke Bandung untuk memberikan selamat kepada teman-teman gue yang baru saja mendapatkan gelar Sarjana Tekniknya sekalian mengambil beberapa barang gue yang masih ketinggalan di Bandung.

Setelah seharian di kampus untuk menyambut teman-teman gue yang selesai sidang akhirnya gue, Wahyu dan Alvin pun meluncur ke sebuah tempat makan di Jalan Veteran untuk makan malam sekalian traktiran ST si Wahyu.

Karena gue dan Alvin sudah gak punya kosan di Bandung, akhirnya kita sleep over di rumahnya Wahyu. Gue nyalain personal computer yang ada di kamarnya Wahyu dan gue memainkan sebuah game RPG offline sampai gue gak sadar udah adzan Subuh.

***
Gue masih berusaha buat tidur lagi sampai Alvin masuk ke kamar.

‘Ini si Tori tidur pagi anjir, Gue bangun jam setengah 5 buat ngecek hape terus dia masih di depan komputer.’ kata Alvin ke Wahyu. ‘Emang si tai ini sampah’ kata Wahyu.

‘Gak bisa tidur gue asu’ kata gue membela diri ‘Gak bisa tidur apa gak berusaha untuk bisa tidur lo.’ bales Wahyu. Tiba-tiba rasa kantuk gue hilang begitu aja mendengar perkataan Wahyu barusan.

Gue masih berada dalam balutan selimut gue saat gue menyadari, mungkinkah hal ini juga berlaku untuk kasus yang lain? move on misalnya.

Temen-temen gue banyak yang mengetahui hubungan gue dengan Lani (nama samaran). Kisah gue dengan Lani pernah gue ceritakan di blog gue tetapi udah gue hapus karena beberapa alasan. Temen-temen gue sering nanya ketika mereka ketemu sama gue lagi ‘Lo udah move on dari Lani, Tor?’ Gue selalu merespon pertanyaan mereka dengan sebuah anggukan sambil mengatakan ‘Udah kok.’ sambil tersenyum.

Padahal gue gak pernah bisa menyingkirkan dia dari pikiran gue sedetik pun, sampai saat ini. Gue lebih memilih untuk tidak membahas dia ke temen-temen gue dan menunjukkan sisi galau gue ke mereka, tapi gue lebih memilih untuk tersenyum setiap saat di depan temen-temen gue. Supaya mereka beranggapan bahwa gue udah baik-baik aja, meskipun sesungguhnya gue masih ‘hancur’ di dalam.

Disisi lain, gue selalu menjawab pertanyaan temen gue dengan ‘Gue udah move on dari dia kok’ karena gue berharap gue bisa termotivasi untuk melupakan dia. Tapi ternyata gue gak bisa.

Mungkin memang selama ini bukan gue yang gak bisa move on tetapi gue lebih memilih untuk gak berusaha buat move on.

Sunday, June 15, 2014

Alone, are We?

The conversation between an aerospace engineering student and a business student. This conversation will makes you think about us, tiny little creatures called human. I'm in blue and she is in red.

"Being human is the most terrible loneliness in the universe, right?"
"You believe in that?"
"Believe in what?"
"That we are alone in this universe"
"No, I don't believe it"
"Yeah, because there's no way we are alone in this universe.."
"Maybe somewhere out there.... in some other galaxy, far far away from ours, in a planet... they think that they're alone too"
.
.
.
.
"I mean, why would God created this goddamn huge universe only for us, tiny little creatures?"
"Gue percayanya.... somewhere out there, some other creatures are trying to figure out juga, whether they're alone or not"
"Some other creatures in some other galaxies far from our own.... are trying to reach out to us, the way we are trying to reach them"
.
.
.
.
"It'll be cool if we can interact with aliens... 'We mean no harm'... HAHAHA"
"Hahahaha you are so silly" 

Friday, February 21, 2014

One Step Closer

Braga, pagi hari dalam perjalanan ke kampus. Gue terlibat percakapan yang sangat menarik sama seorang temen gue.

'Kita udah tua gak sih? Bulan Juli nanti temen satu angkatan kita udah ada yang lulus aja..' kata gue
'Gila ya waktu cepet banget berlalu men, maneh pernah ngebayangin gak sih Tor waktu SMA bakal ngejalanin kehidupan kayak sekarang ini?'
'Ya enggalah, mana gue kepikiran idup gua bakalan kayak sekarang gini...' Suasana di dalam mobil kemudian menjadi hening, sepertinya masing-masing dari kita berdua sedang memikirkan jauh tentang masa depan kita masing-masing.

Sejujurnya gue takut akan masa depan, gue gak bisa membayangkan seperti apa kehidupan yang akan gue jalani nanti di masa depan. Ini (harusnya) merupakan tahun terakhir gue di kampus ini, kata orang sih tahun terakhir itu merupakan tahun tergalaunya seorang mahasiswa, dan gue rasa itu benar.

Sebenarnya hal yang bikin kita takut itu adalah 'ketidaktahuan' akan sesuatu. Contohnya, kenapa kita takut gelap? karena kita gak pernah tahu ada apa dalam kegelapan itu. Lalu ketika ujian, kita gak tau pertanyaan macam apa yang akan keluar di soal ujian nanti, makanya kita takut.

Masa depan itu sifatnya gak pasti, makanya kita takut. Menurut gue ketakutan seseorang itu wajar sih. Asal jangan karena takut kita malah jadi gak ngapa-ngapain, selama kita berusaha untuk membuat masa depan kita jadi lebih baik gue rasa kita gak perlu takut. Karena, barang siapa yang berusaha untuk merubah nasibnya insya Allah selalu ada tangan-Nya yang siap membantu. You'll never know..

Gue melihat jalan Braga yang sedang kita lewati melalui jendela kaca mobil yang hitam. Gue inget banget waktu pertama kali ke Braga, bareng Bunga. Waktu itu gue masih kelas 3 SMA dan tanpa terasa ternyata itu udah hampir 5 tahun yang lalu. Rasanya baru aja kemarin gue foto dengan latar belakang gedung itu, rasanya gue baru aja nonton di dalem mall itu, rasanya baru aja kita berpose hampir di setiap gedung unik di braga.

Gue udah berubah, Braga juga udah banyak mengalami perubahan sejak pertama kali gue kesini, demikian pula dengan kota Bandung.

'Waktu itu emang cepet berlalu yu, liat aja suatu saat kita akan ngobrol dengan topik seperti ini di dalam mobil kayak gini, tapi bedanya kita akan menuju pernikahan salah seorang temen kita...'
'Siapa ya dari kita berempat yang bakal nikah duluan? Masa Bima?' kata Wahyu
'Siapapun yang nikah duluan, pokoknya kita harus ngadain garden party!'




Friday, November 15, 2013

Rain(bow)

Kelas 3 SMA merupakan masa-masa yang paling penting dalam hidup gue, karena di kelas 3 SMA ini gue akan menentukan nasib gue sendiri, apakah gue bisa melanjutkan studi gue ke perguruan tinggi atau engga. Pada saat itu, tidak seperti temen-temen gue pada umumnya yang mengikuti hampir semua test masuk ke perguruan tinggi yang berbeda-beda.. Gue cuma mengikuti USM Daerah ITB, USM Terpusat ITB, dan pas SNMPTN gue juga tetep milihnya ITB. Iya, gue udah secinta-mati itu sama ITB.

SNMPTN hari pertama baru aja selesai, gue masih terdiam dikelas melamun... membayangkan kemungkinan terburuk yang mungkin terjadi sama gue ketika melihat hasil pengumuman SNMPTN nanti. Ditengah lamunan gue, hape gue bergetar... telpon dari Bunga.

“Halo..”
“Halo Triii…”
“Gimana tadi testnya? Lancar kaaaan? Lancar doooong” Suara Bunga memecah kesunyian di ruang kelas ujian SNMPTN gue, di ruang kelas pada saat itu tinggal sisa beberapa orang dan gak ada yang gue kenal sama sekali.

“Alhamdulillah, TPA nya gampang.. gak kayak psycho test-nya ITB.. Lo gimana? Bisa?”
“Bisa dong, gampang! Oia Tri, gue mau langsung cabut ke Depok nih buat daftar ulang..”

“Jadi lo ambil Farmasi *peep*-nya?” Berbeda dengan gue yang masih gatau bisa masuk ITB apa engga, waktu itu Bunga udah keterima di jurusan Farmasi salah satu Universitas ternama di Indonesia.

“Gatau deh, yang penting daftar dulu aja buat cadangan.. Sejujurnya sih ya gue masih berharap dapet ITB Tri”
“Sama siapa kesana?”
“Dianterin Papa dooong..”
“Lo kenapa sih, kok suaranya kayak gak semangat gitu.. Kayak ngomong sama robot tau gak..” Tambah Bunga.

Saat itu gue emang sedang tidak bersemangat, pikiran gue sedang melayang jauh memikirikan gimana nasib gue nanti? Apakah pada test SNMPTN kali ini nasib gue akan sama seperti USM 1 dan USM 2? Ditolak oleh ITB.

“Kenapa sih Tri? Gak suka ya kalo gue telepon?” Tanya Bunga yang makin penasaran
“Engga kok, gue lagi bingung aja.. gue takut ditolak lagi sama ITB, gue udah gak punya semangat ngerjain soal-soal SNMPTN”

SNMPTN ini merupakan kesempatan terakhir gue, karena kalo gue sampe ditolak lagi gue mungkin gak bakalan bisa melanjutkan studi gue ke perguruan tinggi. Hal ini lah yang memenuhi pikiran gue, bahkan saat mengerjakan soal-soal SNMPTN pun gue gak yakin dengan jawaban gue. Gue udah gak punya semangat dan motivasi lagi seperti dulu waktu test USM 1 dan USM 2. Motivasi itu udah hampir hilang semua, sampai..

“Tri, tau gak.. ”
“You never know how close you are to your dream.. Jangan menyerah ya Tri, janji sama gue?”
“Iya Bunga, gue Janji..” Tanpa sadar senyuman kecil menghiasi wajah gue sambil menjawab pertanyaan Bunga tadi.

"Hari ini hujan seharian yah, tapi liat deh sekarang hujannya udah berhenti.."
"Maksudnya?" Gue bingung, dan menggaruk-garuk kepala gue seolah gue lagi ketombean.
"Selalu ada kebahagiaan setelah kesulitan, selalu ada tawa setelah air mata... dan akan selalu ada pelangi setelah hujan :) "

Hari ini hujan terus turun sepanjang hari, untungnya di perjalanan gue pulang hujan udah cukup reda. Setelah hujan turun jalan protokol Jakarta terlihat begitu lenggang, kota Jakarta ternyata begitu nyaman dan indah ya kalo teratur gini.

Menurut gue kehidupan itu gak akan selamanya memberikan apa yang lo inginkan, tapi kehidupan memberikan apa yang lo butuhkan. Mungkin lo gak sadar kalo itu adalah hal yang lo butuhkan, dan mungkin hal yang lo inginkan itu gak sesungguhnya lo butuhkan.

Mungkin juga dalam mengejar impian gak selamanya jalan kita itu  mulus, ada kalanya jalan itu berbatu, penuh pohon berduri, menanjak dan berliku..


"... tapi akan selalu ada pelangi setelah hujan."

Wednesday, November 6, 2013

Boulevard of (broken) Dream

Melihat kembali ke masa lalu itu gak selamanya diartikan dengan susah moveon loh, maksud gue, melihat kembali ke masa lalu itu kadang bisa bikin kita senyum-senyum sendiri, ketawa sendiri, yah untuk orang yang emosinya gak stabil sih kadang-kadang bisa sampe nangis. Yaa, untungnya gue adalah orang dewasa yang sudah stabil emosinya, gak kayak kalian.. iya KALIAN.

Tapi buat gue, melihat kembali ke masa lalu itu seperti belajar, belajar dari kesalahan-kesalahan yang udah gue lakukan dulu supaya gak gue ulangin pada saat ini atau di masa depan nantinya.

 Cimory, April 2010.

 Teh manis hangat di udara pegunungan yang dingin kayak gini rasanya menjadi lebih nikmat, ditambah di depan gue ada Bunga yang lagi duduk dengan manis sedang menghabiskan makanannya, yah rasanya teh manis yang gue minum ini menjadi lebih manis karena ada Bunga.

"Bagus ya Tri viewnya, pegunungan...." Bunga berusaha menghangatkan suasana diantara kita berdua yang udah dingin akibat udara pegunungan ini.

"Orang Jakarta ya mba, jarang liat gunung? Liatnya mall mulu.." Ledek gue sambil terus menempelkan tangan gue ke gelas teh manis hangat yang gue pesan tadi.

"Lo juga orang Jakarta tau, huu.."

"...."

"...."

"...."

"Gue suka dataran tinggi Tri, gue suka sama pegunungan, udaranya, suasananya, pemandangannya.." "Makanya Tri, gue pengen banget bisa kuliah di ITB, biar gue bisa liat gunung setiap hari" lanjut Bunga sambil terus menyaksikan pemandangan yang terbentang di depan meja makan kita.

Gue pertama kali menginjakkan kaki di kampus ini bareng Bunga, dan disaat yang bersamaan kita berdua jatuh cinta... sama kampus ini. Salah satu alasan kenapa gue dan Bunga pingin banget kuliah di ITB karena suasana kampusnya. Pohonnya, Jalannya, Gedungnya, seakan semua itu telat diset sedemikian rupa sehingga menghasilkan atmosfer yang berbeda, atmosfer yang... gak bisa gue jelaskan dengan kata-kata.

Dulu waktu pertama kali kita berdua ke ITB, kita suka banget jalan di 'boulevard' karena dari 'boulevard' ini kita bisa liat banyak Gunung. Bahkan sampe sekarang gue masih suka jalan lewat 'boulevard', karena ditempat inilah kita pernah 'bermimpi'.. suatu saat akan bertemu di tempat ini lagi dengan status sebagai mahasiswa ITB.

"Kalo gak dapet di ITB gimana?"

"Gimana ya.. Gapapa deh, yang penting gue bisa kuliah di Bandung! Mau di ... (sambil menyembutkan universitas-universitas yang ada di Bandung) pokoknya gue harus kuliah di Bandung Tri!"

"Gue juga, pokoknya gue harus kuliah di ITB... (supaya gue bisa selalu dekat sama lo Bunga)"

Udah 3 tahun sejak kejadian itu, sekarang gue berstatus sebagai mahasiswa tingkat 4 di Institut Teknologi Bandung. Sementara Bunga sekarang sedang melanjutkan studinya di bidang Kedokteran di salah satu kampus ternama di daerah Jawa Barat. 
"Never live in the past, but always learn from it." - @autocorrects

Friday, March 22, 2013

K*C, Chicken Soup? Cream Soup?

"mau Tor? sok cobain aja, enak looooh.."
Ratna menawarkan gue semangkuk chicken soup yang dibelinya dari salah satu perusahaan makanan cepat saji.

Oia, kenalin dulu Ratna itu merupakan kakak kelas gue di Prodi Aeronotika dan Astronotika, doi angkatan 2009. Orangnya baik banget parah, kakak kelas yang paling bisa diandalkan dalam urusan akademis, dia juga punya segudang catetan dan laporan-laporannya yang amat sangat membantu mahasiswa-mahasiswa yang kayak gue ini. 

"enak ya na? cobain dong.."
.
.
.

KFC Dago, April 2010

"Lahap banget Tri makannya, kelaperan ya abis nemenin gue keliling Bandung?"
"Iwyaw nwih, lwapwer bwangwet gwuweh (Iya nih, laper banget gue).." Gue berusaha menjawab pertanyaan Bunga dengan mulut gue yang lagi dipenuhi sama ayam goreng.

"Hahahaha, lucu banget sih lo Tri. Kata mamah kalo makan itu gak boleh sambil ngomooong..."
"yang ngajakin ngomong duluan kan lo, gimana sih !" Setelah susah payah menelan sisa-sisa ayam yang masih tersisa dimulut gue akhirnya gue bisa ngomong dengan bahasa manusia (lagi).

"Lo ga makan?"
"Makan kok, nih.." jawab Bunga sambil menunjukan semangkuk cairan yang berwarna abu-abu ga jelas.
"Hah? apaan tuh? kok aneh gitu sih bentuknya, gak ada estetikanya.."
"Ihh ini enak tau lo nya aja norak gak pernah makan, ini namanya chicken soup dan gue suka bangeeeet :9"

Ayam goreng-ayam goreng (kata berulang, berarti buanyaaak!) yang berada dihadapan gue sudah tidak bersisa, eh masih ada tuh tulangnya. Sementara si Bunga gak abis abis makan cairan aneh berwarna abu-abu yang disebutnya sebagai chichken soup itu. Gue rasa si Bunga pura-pura ke gue aja tuh kalo makanan yang dia makan rasanya enak, padahal engga, buktinya aja tuh kagak diabisin. huu Bunga..

Bunga yang suka bercerita selalu menceritakan apapun yang terlintas di pikirannya ke gue, dan gue disini hanya bisa memperhatikan Bunga yang asik bercerita, memperhatikan senyumnya, ekspresinya yang heboh sendiri kalo lagi bercerita, dan wajah bingungnya ketika kita berdua tiba-tiba kehabisan topik.

Semua itu ga bisa gue lupain gitu aja? meskipun dia sekarang sudah sama orang lain, ga ada salahnya kan kalo gue menuliskan cerita ini?

Disisi lain, gue gak kangen kok sama orangnya (karena orangnya udah punya pacar, coba belom punya, pasti ngomongnya beda) gue cuma kangen sama momen-momen yang udah pernah kita lewati bersama. itu aja, cuma se simple itu kok.

.
.
.
.
"kenapa ga dimakan tor? malah bengong sambil senyam-senyum yeuuuh.. "

"ehh gapapa kok na hehehe, gue makan sekarang yaaa.."

Rest area KM 39, gue bersama 24 orang mahasiswa dari Prodi Aeronotika dan Astronotika lainnya baru aja menghadiri diskusi di Pasific Place, Jakarta. Kita baru aja selesai makan siang sampai tiba-tiba hujan turun dengan lebat dan perjalanan kembali ke Bandung dilanjutkan ditengah hujan, dan disepanjang perjalanan, karena gue kebetulan duduk disebelah Ratna, maka gue banyak dapet wejangan-wejangan dari kakak kelas aing yang geboy abis ini !




Aeronotika dan Astronotika goes to @AMERICA

Monday, June 25, 2012

Semakin Seram apaaa??

“Semakin seram film yang lo tonton, semakin hangat pelukan yang lo dapat (incase lo nonton berdua sama cewek)”

Itulah kata-kata yang nempel di kepala gue sampai saat ini setelah nonton film “POCONGGG JUGA POCONG”, mungkin di bukunya si Poconggg juga ada? Gue gak tau karena gue belum membaca bukunya.

Tapi gue rasa kata-katanya si Poconggg ini kurang tepat deh ya, kenapa gue bilang kayak gitu? Karena gue tau kejadian di lapangan secara langsung broo. Mending kalo pelukan hangat, pukulan-pukulan hangat mungkin yang bakal lo dapatkan. (-̩̩̩-͡ ̗--̩̩̩͡ )

***

Gue inget banget waktu itu bulan April tahun 2010, gue liburan ke Bandung bersama Ahong, Panzul, dan ……… Bunga \(♥▽♥‎)/   . Sebenernya gak murni liburan sih, tapi kita mau ke salah satu perguruan tinggi negeri yang katanya disana terdapat putra putri terbaik bangsa, Katanya loh katanya…… 

Tujuan kita kesana buat ngembaliin formulir pendaftaran Ujian Saringan Masuk yang bakalan diadain pas bulan Mei nanti kalo gue gak salah inget.

Waktu itu kita bertiga baru sampai di universitas tersebut jam 12.30 kayaknya, soalnya pas kita sampai itu orang-orang baru selesai solat jumat. Ini semua gara-gara temen gue yang namanya Panzul. Gara-gara kelamaan di hotel jadi kagak ikut solat jumat kan, emang Islam KTP sih tuh anak.

Dan herannya kita sempet nyasar loh di Institut Terkecil Bangsa ini, untung ada mba-mba cantik baik hati waktu itu yang bersedia membantu kita mwehehehehe. Dari perawakannya sih bisa gue tebak kalo si mba-mba ini penghuni kampus bagian tenggara, Arsi, SR, dan sebagainya. Caeeem broo

“Permisi mba mau nanya”
“Iyaaa” suaranya lembuuuuut abiiis!
 “Kalo mau ke hati mba lewat mana ya?? ( ˘͡ -˘͡)” #eaaaak #gombalanganteng
Okaaay yang itu bercanda.
“Kalo gedung ini sebelah mana ya mba?” sambil menunjukan alamat gedung annex
“Wah kalo gedung ini sih bukan di kampus ini de, tapi di bla bla bla bla…”
“Ohh gitu ya mba, wah kita nyasar doong. hehehe”
“Kalian mau daftar disini ya?”
“Iya mbaa doain yak… (supaya ntar kita bisa ketemu lagi setiap hari mwehehehe)”
 “Iya saya doain, sukses ya kalian :)”
Bener kan gue bilang mba-mba itu udah cantik, baik hati pulak (»'⌣'«). Tapi sampai sekarang gue gak pernah ketemu lagi tuh sama si mba-mba cantik nan baik ini, udah lulus kali ya dia sekarang.

Setelah ngembaliin formulir ke tempat tadi yang di kasih tau si mba-mba cantiknya, kita mau keliling kota kembang nih ceritanya sama temen-temennya si Panzul, ahzeeek anak gaul Bandung euuuy. Temennya si Panzul ini ada 2 orang, yang satu namanya Regisha dan sekarang satu kampus sama gue, terus Aya yang sekarang di STAN. Ahhh emang ya mojang-mojang Bandung teh geulis geulis pisaaaaan (•̯͡.•̯͡)

aaaahhhhh kalo inget Aya gak tau kenapa bawaannya tuh langsung pengen pipis!

*skip skip skip*

Kita bertiga, Gue, Bunga, dan Panzul, diajak menuju mobilnya si Aya. Tapi ternyata… ya ampun di dalam mobilnya si Aya udah ada Bidadari, yang ternyata kakaknya si Aya, namanya kak Mawar. Gila emang ini keluarga cetakannya bagus-bagus banget!

Kita bertiga waktu itu gak tau mau diajak kemana, karena gue baru pertama kalinya nih ke Bandung yaa gue gak paham sama jalanan jalanan dimari. Gue berharap sih kita menuju hotel terdekat mwehehehehe

*PLAAAAK!! FOKUS MAS!!*

AHHHhhh ternyata dugaan gue salah, kita malah diajak ke Peris Ven Jevaaah. Dan malah nonton film horror…… REC 2 brooo REC 2 !!

Disini lah ceritanya dimulai.
Posisi duduk kita waktu di dalam bioskop waktu itu adalah kak Mawar, Aya, Regisha, Panzul, Gue, lalu Bunga. Sippp! Udah mantap nih posisinya, gue emang sengaja mencari tempat duduk yang di samping Bunga. Supaya gue bisa berada disampingnya disaat dia membutuhkan gue, dan kali aja ada pelukan hangat yang bersandar di tubuh gue mwehehehe

Jujur, gue takut sih kalo nonton film Horror. Tapi berhubung banyak cewek-cewek imut disini gue harus terlihat berani dong mas broo. ya iya ateuuuh, biar mereka makin terkesima sama kharisma gue fufufu ( ˘͡ -˘͡)

Ternyata filmnya gak terlalu serem, gak seperti dugaan gue. Cuma efek suaranya ituloh yang bikin kaget. Emang kalo di blitz itu sound effectnya beda banget sama bioskop 21 atau XXI. Ini pertama kalinya gue nonton di blitz loh mwehehehe

AYOOOO DOONG BUNGA… Mana pelukan hangatnya?? AHHHH.. udah ditungguin daritadi ternyata si Bunga belum takut-takut juga. Sebenernya gue dapet sih pelukan hangat, tapi dari si Panzul !


Sampai akhirnya film ini sampai pada adegan dimana yang tersisa hanya tokoh utamanya si cewek dan si cowok yang bawa kameranya. Mereka terjebak di sebuah ruangan yang di dalamnya terdapat sebuah alat perekam suara yang terus memutar suara yang terakhir kali terekam, di ruangan tersebut juga berisi lembaran-lembaran surat kabar yang sudah cukup lama terbit. Di dalam ruangan itu tidak ada cahaya sama sekali, mereka berdua hanya dapat melihat melalui bantuan dari kamera mereka yang peka terhadap sinar infra merah.

Pada adegan tersebut terlihat kalo si pemeran ceweknya terus memeluk si cowoknya, seakan gak mau ditinggal sedetik pun. AHHHHhhh yang kayak gitu loh yang sebenarnya gue harapkan terjadi sama gue.

Terus si cowoknya seperti melihat jalan keluar di atas atap ruangan tersebut, dengan sok berani si cowoknya berusaha mengecek pintu kecil yang berada di atas atap ruangan tersebut. Dengan bantuan kameranya dia mulai melihat kedalam ruangan tersebut, berputar perlahan mengelilingi bagian dalam ruangan tersebut dan tiba-tiba dari kegelapan muncul seorang anak kecil yang sentak mengagetkan si cowoknya! dan seketika itu pula

“KYAAAAaaaaa…” *PLAK PLAK PLAAAAAK PLAAAK*
Dan gue berteriak
“AHHHHHHhhhhhhh…”

Bukannya pelukan yang gue dapat, tapi pukulan bertubi-tubi yang bersarang di bahu kiri gue. Ini bener-bener diluar dugaan gue! gue gak nyangka kalo Bunga takut atau kaget refleksnya dia beda dari cewek yang lain, refleksnya dia ketika ketakutan atau kaget adalah memukuli bahu orang disebelahnya. Setelah puas memukuli bahu gue dan adegan di film tersebut kembali normal, si Bunga dengan perasaan tidak bersalah kembali menonton film itu lagi seperti tidak terjadi apa-apa (¬-̮¬)

***

Mungkin ada yang pernah senasib kayak gue, jalan berdua sama gebetannya ke bioskop nonton film horror berduan tapi ujung-ujungnya jadi kayak gue. Atau mungkin ada lagi yang niatnya nonton berdua sebelah-sebelahan, tapi dapet tempat duduknya ujung-ujungan. Dan jadi gak bisa mesra-mesraan.



Oleh karena itu gunakan lah masa PDKT kalian semaksimal dan seefektif mungkin, kenali calon pasangan anda. Cari tahu hobbinya dia, apakah calon pasangan anda tersebut mantan calon pemain tinju atau bukan. Jika iya, lebih baik lo tinggalin dia selama masih ada waktu bro! Perbandingan pria dan wanita di dunia ini 1:4 jadi jangan takut kalo kehilangan satu cewek (ง'̀o'́)ง mwehehehehe

Saran terakhir dari gue, kalo bikin teknis lapangan itu harus di backup jangan bikin teklap cuma 1. Soalnya kondisi di lapangan itu dinamis, lo gak bakalan menduga apa yang akan terjadi di lapangan nanti. Mwahahahaha

“Semakin seram film yang lo tonton, semakin hangat pukulann yang lo dapat”


Saturday, June 9, 2012

Moving On


Gak terasa udah hampir 3 bulan gue pindah kostan, tapi entah kenapa gue gak merasa nyaman di kostan gue yang baru ini. Di kostan gue yang lama, walaupun tempatnya jauh dari kampus tapi kostan gue yang lama itu sangat nyaman buat gue.

Kenapa pindah kostan kalo gitu? Yaa gue mau mencari suasana baru soalnya. Tapi ternyata yang gue dapet malah kayak gini. Mungkin dulu gue nyari kostannya terburu-buru kali ya, jadinya tanpa pikir panjang gue langsung pindah ke kostan baru ini.

Mungkin sama seperti ketika kita mencari pacar, prosesnya gak gampang dan butuh waktu yang cukup buat kita untuk mengenali calon pacar kita. Tidak seperti baru kenalan sehari, terus besoknya jadian. Kalo gitu mah lo sama aja kayak nyari sepatu di mall-mall, lo liat yang bagus terus lo ambil. Kalo gitu sepertinya kita cuma melihat dari tampilan fisiknya aja.

Tapi kalo kelamaan juga gak baik, kalo lo kelamaan dalam masa untuk mengenali calon pacar, PDKT, maka kemungkinan besar dia udah terlalu nyaman sama lo dan ujung-ujungnya di jadiin sahabat. Sama seperti yang terjadi sama hidup gue selama ini. Dari TK sampe Kuliah gue deket sama banyak cewek loh jangan salah mwehehehe. Gue jatuh hati sama mereka semua, tapi ……… gue gak pernah jadian sama mereka.

Waktu TK gue pernah deket sama yang namanya Bella. Jangan salah waktu TK gue juga udah suka sama cewek loh (kecepetan puber). Waktu PDKT sama dia gue selalu mengajaknya bermain ketika jam-jam istirahat, main ayunan, jungkat-jungkit, dan bermain perosotan. Gue juga pernah ngajak dia ngedate ke tempat komedi putar di deket rumah gue waktu itu. Ketika kita pengen menaikinnya, gue pegangin tangan dia, dan gue duduk di samping dia, romantis abisss. Bella terus memegangi tangan gue selama menaiki wahana tersebut

“Kamu takut bel? Kok megang tangan aku nya keras banget”
Yaa kala itu dia gak mau melepas genggaman tanganya ke gue
“Iya Tri aku takut banget :’(”
“Yaudah pegang tangan aku yang erat ya..”
Sumpah berasa ganteng banget gue disini




Yaah emang dasar anak TK cuma naik komedi putar aja takut. Tapi bagus lah, kan jadi gue yang untung mwehehehehe

 Waktu lagi PDKT sama Bella gue rela membagi bekal yang gue bawa dari nyokap gue buat dia. Bahkan gue rela ngelapin ingusnya dia.. yaa waktu itu kan anak TK masih ingusan gitu. Kalo salah satu orang tua kita ada yang lagi pergi, pasti salah satu dari kita dititipin ke rumah gue atau si Bella, kadang si Bella yang ditipin ke rumah gue, kadang gue ditinggalin nyokap gue di rumahnya si Bella dan gue baru di ambil sama nyokap gue sebulan kemudian, biar menghemat jatah makan katanya. Ya kesempatan-kesempatan seperti itu gue pakai untuk PDKT sama dia.

Kita selalu bareng dari TK, SD dan SMP. Tapi gue gak berani mengucapkannya ke dia, perasaan yang gue pendam sejak pertama kali gue ketemu dia di hari pertama masuk TK. Dan akhirnya kita berdua hanya sekedar berteman. Kenapa gue gak berani mengucapkannya ke dia? karena gue takut, gue takut gagal, gue takut di tolak, gue takutnya abis gue di tolak gue langsung nyilet urat nadi gue kan ngeri juga kalo tiba-tiba di headline news seluruh media cetak tertulis “Akibat Ditolak Cintanya, Seorang Anak TK Rela Menyayat Urat Nadinya Sendiri” .______.

Sampai sekarang ketika gue dekat sama seorang cewek ujung-ujungnya cewek itu jadian sama orang lain, dan gue? Gue terus-terusan menjomblo. Temen gue pernah bilang kalo gue itu gak peka, gue gak bisa membaca gerak-gerik dari seorang cewek yang suka sama gue (Kayak pernah ada yang suka aja dah), emang gue akuin sih itu bener. Gue gak berani menebak-nebak, gue benci menebak-nebak, gue takut tebakan gue salah (lagi).

“Aku benci harus menerjemahkan isyarat-isyarat kamu itu, Apakah pertanyaan kamu itu sekadar pancingan atau retorika atau pertanyaan biasa yang aku salah artikan dengan penuh percaya diri?
Aku benci harus memikirkan kamu sebelum tidur dan merasakan sesuatu yang bergerak dari dalam dada, menjalar ke sekujur tubuh, dan aku merasa pasrah, gelisah..
Aku benci untuk berpikir aku bisa begini terus semalaman, tanpa harus tidur..
Aku benci jatuh cinta, terutama kepada kamu..
Demi Tuhan, aku benci jatuh cinta kepada kamu..
Karena, di dalam perasaan menggebu-gebu ini, di balik semua rasa kangen, takut, canggung, yang bergumul di dalam dan meletup pelan-pelan..
Aku takut sendirian..” – Raditya Dika.

Page 155 of 366


Panas, lembab, dan bau ketek merupakan kata-kata yang sangat pas untuk mendefinisikan halte busway. Selama di Jakarta gue harus selalu menggunakan jasa busway jika gue ingin bepergian kemanapun. Gue gak suka naik motor, karena menurut gue dengan gue menaiki kendaraan pribadi maka gue akan menambah kemacetan di Jakarta yang udah super-duper-gak-ngerti-lagi macetnya. Gue jadi inget sama kata-kata yang pernah gue baca di salah satu baligho di pinggir jalan

“Lo itu tidak terjebak macet, tapi kemacetan itu Lo !”

Dari situ gue sadar, selama masih ada kendaraan umum kenapa gue harus menaiki kendaraan pribadi? Walaupun kendaraan umum di Jakarta ini sudah tidak ada lagi yang nyaman. Gue harap Gubernur Jakarta yang nantinya akan terpilih bisa meningkatkan kualitas kendaraan umum di Jakarta.

Tapi ngomong-ngomong soal kendaraan pribadi nih ya, lo bakalan amat sangat membutuhkannya ketika lo mau PDKT sama cewek, Gak percaya? Percayalah! Biasanya sih ya cewek itu lebih tertarik sama cowok yang mempunyai kendaraan sendiri. Gue udah mengalami sendiri soalnya, gue dan temen gue ngedeketin cewek yang sama. Temen gue punya motor sedangkan gue engga, dan akhirnya temen gue yang lebih dipilih.



Buat kalian semua yang senasib sama gue, jangan patah semangat ya broh, saingan-saingan lo itu semua mereka mendapatkan kendaraan mereka dari orang tua mereka kok, bukan dari hasil jerih payah mereka sendiri, so sebenernya derajat kita sama kayak mereka cuma mereka lebih beruntung aja mwehehehe

Tetep semangat ya broh, suatu saat kita pasti menemukan seorang pendamping yang menerima kita apa adanya kok ( 9'̀⌣'́)9 #sikap

Hari ini gue harus ke rumah temen SMA gue di daerah Ketapang, Tangerang. Matahari disana terik banget, ditambah lagi dengan jarangnya pepohonan dan kemacetan yang membuatnya menjadi tambah parah. Gue sampai di rumah temen gue itu dengan kondisi yang mengenaskan, keringetan, muka lecek, ditambah dengan bau ketek. Malahan awalnya gue sempet dikirain pemulung sama temen gue, sialan emang tuh anak -.-

Gue disini dalam rangka membicarakan kelanjutan acara liburan dan reunian kelas gue bulan Juli nanti. Seperti yang udah gue ceritain disini PAGE 80 OF 366

Dalam rapat kali ini cuma ada Gue, Lawrence, Fahmi, Sinta, dan Rita. Tapi kali ini si Rita bawa adeknya jadinya kita ber-6 deh sekarang. Dan lo harus tau, sekarang adeknya Rita udah tumbuh dewasa, makin cantik dari terakhir kali gue liat dia.

***
“Ritaaaaa…”
“Iya maah, kenapaa?”
“Temen kamu udah nungguin di bawah nih, kamu cepetan turun”
“Hahhh?!! Siapa mah?”
“Nama kamu siapa dek?” bisik si Tante, nyokapnya Rita, ke gue.
“Tri tante..”
“Namanya Tri, udah kamu cepetan turun..”
“HAHHHH?!! Riiii, lo ngapain disini…”
*PLAAAAK* Seketika itu kepala gue tepat tertiban sisir yang dilempar dari lantai 2 oleh si Rita.
“Apa-apan sih lo, sakit nih kepala gue! Kita kan mau foto makanya gue kesini. Lagian lo yang nyuruh kesini kan..”
“Iyaaa, tapi kan gue belom selesai dandan ("`з´ )/"(>_<!)”
“Siapa suruh dandan lama-lama, lagian udah cantik gitu masih aja pengen dandan lagi!”
“Belom cantik ini mah! Udah lo tunggu disini aja!”
“Deeeek, kamu temenin kakak yang itu ya..” Perintah si Rita ke adiknya, sambil menunjuk ke arah gue.
“Iya kaaak,”

Disinilah pertama kali gue melihat adiknya si Rita, karena dulu gue lagi ngincer kakaknya makanya pas gue liat adiknya dia pertama kali kesannya biasa aja, terus disisi lain dia juga masih SMP. Tapi sekarang kok beda banget, udah berkembang rupanya dia Mwehehehe

“Nama kamu siapa dek?”
“Saya Jenny kaak“
“Kalo kakak siapa?”
“Panggil aja Tori”
“kakak pacarnya kak Rita ya kak? (»'⌣'«)”
Kepo juga nih anak, karena dulu istilah kepo belom booming maka kita pakai istilah ingin tahu.
“Menurut kamu?”
“heeem, iyaaa.. abisnya kakak sama kak Rita keliatan mesra banget sih tadi lempar-lemparan sisir gitu. Hihihihi”
“……… (˘_˘")”
“Kakak bukan pacarnya kok, cuma temen aja. Emang kak Rita udah punya pacar blm?”
“Wah aku gak tau kak, tapi kayaknya belum sih.. Kesempatan tuh kak ( 9'̀⌣'́)9”

Padahal gue tau kalo saat ini si Rita belum putus sama pacarnya.

“Hahaha, kamu apa-apaan deh masih kecil udah ikut campur urusan orang dewasa aja nih”
“Woooo kakak, aku udah gede tauu..”



Akhirnya Rita muncul dari kamarnya, dengan muka yang seperti Putri, tetapi pakaian seperti pembantu. Heran gue? Kenapa dressnya gak sekalian di pake dah

“Hayoo kalian ngomongin gue yaa?”
“Engga kok.. iya kan Jen?” *sambil kedip-kedip ke Jenny*
“Iyaa kak engga kok, (»'⌣'«)”
“Yaudah, sana kamu mandi dek…”
“eh Ri, bisa bantuin gue gak? Copotin anting gue dong”

Gue mendekati si Rita, lalu mencoba mencopot anting yang tertempel di telinganya. Pelan-pelan gue berusaha melepasnya supaya gak melukai kulit lembutnya (oke ini lebay), tapi…… GAK LEPAS-LEPAS JUGAAAA!

“eh Ta ini anting lo las ya waktu di pasang?! Keras amat gak kebuka-buka gini”
“kayaknya sih iya Ri, ini anting gue dari kecil”
“Ada-ada aja sih lo mah, yaudah ambilin gue gunting, obeng, tang, atau pisau deh”

Gue baringkan si Rita di atas meja, gue tutupi dia dengan selimut berwarna hijau dan hanya telinganya yang gak gue tutupi. Operasi pun dimulai! Gue di asissten ni oleh Jenny dalam operasi kali ini.

“Jenny ambilkan kakak obeng”
“Pisau”
“Tang”
“Gunting”

Operasi yang melelahkan ini pun akhirnya selesai dan akhirnya anting yang tertempel di telinganya si Rita berhasil gue lepaskan.

“Yeeey akhirnya lepas juga makasih ya Toriiii \(ˆoˆ)/”

Setelah berterima kasih sama gue akhirnya dia balik lagi ke kamarnya. Pas dia balik lagi penampilannya udah beda dari yang tadi, sekarang dia beneran seperti Putri yang lagi menuruni tangga. Sementara gue yang lagi menunggu di ruang tamu hanya terdiam menyaksikan pemandangan yang terjadi di depan gue.

“Pah, aku bawa mobil ya?”
“Gak usah kamu pake motor aja tuh, mobilnya mau papah pake”
“Aku kan masih gak terlalu bisa bawa motor, terus kalo naik motor rambut aku juga rusak ntar pah”
“Yaudah biarin si Tri aja yang nyetir, makanya pake helm biar rambut kamu gak rusak”
“Huh, susah deh ngomong sama papah”
“Punya anak cewek emang ribet ya om, banyak maunya hehe”
“(  ►_◄)==☐ (✗_✗")” *PLAK PLAK PLAK PLAK*

Sebelum kita berdua pergi gue pamitan dulu sama calon mertua… eh orangtuanya si Rita maksud gue. Dan gak lupa sama si Jenny

“Jenny kakak pergi dulu ya, jangan kangen sama kakak. Kapan-kapan kakak main lagi kok”
“Wooo kakak kali yang kangen sama aku, kak jagain kak Rita yah. Dadaaah”
“Ehhh adek gue tuh, masih kecil (¬_¬)ノ*(>˛<)”
“Lo galak banget sih ta, kalo kakaknya gak dapet kan gue bisa sama adeknya ( ⌣̴͡͡ﻬ⌣̴͡͡ )”
“Ehh maksud lo apaan? Udah ayoo buruan berangkat!”
“Mah, pah, aku berangkat dulu yaa..”
“Iya hati-hati ya, Tri tante percayain Rita sama kamu ya”
“Sip tante! oia om, tante nanti kalo Rita aku balikin gak utuh gapapa kan?”
“Loh maksud kamu gimana?”
“Iya nanti Rita pulang tanpa hatinya tante, soalnya hatinya ketinggalan di hati aku. Hahaha”
“Hahaha, dasar kalian. Yaudah sana berangkat, ntar keburu ujan”

Akhirnya kita pun pergi ke Rumah Musik café dengan menaiki motornya si Rita yang kondisinya sedikit mengenaskan. Pertama stangnya udah susah di belokin. Kedua motornya kerasa berat banget, apa gara-gara gue ngeboncengin yang punya motor ya? Mwahahaha. Terus ganti giginya juga susah. Bener-bener pertanda buruk nih, Pertanda kalo gue gak boleh jalan sama cewek orang. Untung gak kenapa-kenapa sampai tempat tujuan.

Malam ini emang bener-bener indah banget, jarang-jarang moment ini bisa terjadi. Merasa bersalah juga sih gue sama pacarnya si Rita, tapi ya sudahlah mau gimana lagi yakan? Mwehehehe

***

Hasil rapat kali ini, acara Liburan dan Reunian kelas gue bakal diadakan pada tanggal 14-15 Juli 2012. Sebenernya gue juga masih gak tau nih bisa ikut apa engga, soalnya tanggal segitu gue juga masih ngediklat di kampus. Maklum lah aing kan aktipis kampus cuuy mwahahaha

Selama rapat fokus mata gue selalu berada di Jenny. Gak dapet kakaknya, adeknya pun jadilah ya mwehehehe. Jagain adek lo ya ta, adek lo itu merupakan asset yang berharga.


Ngomong-ngomong soal diklat, gue jadi pengen nyeritain pengalaman gue ikut diklat PROKM 2011 tahun lalu nih. Sedih, Senang, Sial, Galau, semuanya ada. Di tunggu aja ya! J